• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 4 Februari 2023

Syiar

Hakikat Makna Sahur Sebelum Berpuasa

Hakikat Makna Sahur Sebelum Berpuasa
ilustrasi makan sahur
ilustrasi makan sahur

Oleh: Prof. DrAlamsyah, M. Ag

 

SAHUR merupakan aktivitas yang berbarengan dengan puasa Ramadhan. Sahur juga menjadi pelengkap dari puasa itu sendiri. Masyarakat Islam di dunia mayoritas melaksanakan sahur ketika menjelang adzan Subuh, atau mendekati imsak. Lalu seberapa pentingkah sahur untuk orang yang berpuasa itu?

 

Jawabannya sangat penting, mengingat puasa merupakan ibadah yang salah satu tujuannya untuk melatih mengendalikan hawa nafsu, baik makan, minum dan syahwat. Untuk menjalankan puasa satu hari penuh maka kita juga membutuhkan tenaga yang cukup yakni dengan makan sahur. 

 

Di bulan  puasa Ramadhan kita dianjurkan meningkatkan berbagai ibadah, baik wajib maupun sunat. Namun tidak berarti selama berpuasa kita meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab lainnya. Kita tetap bekerja sesuai profesi masing-masing, yang petani tetap pergi ke sawah, guru akan bertugas mengajar di sekolah, pedagang akan tetap pergi ke pasar, dsb. Untuk menjalankan aktivitas semua itu tentu membutuhkan tenaga yang cukup ketika berpuasa. 

 

Agama Islam mengajarkan keseimbangan atau tawazun bagi orang yang berpuasa. Melaksanakan puasa itu wajib, sedang menjaga kesehatan dan stamina tubuh juga wajib. Jangan sampai puasa menyebabkan sakit, celaka atau kematian bagi orang yang menjalankannya, baik karena lemas, kekurangan energi akibat tidak sahur pada malam harinya. Oleh karena itu, bagi orang sakit atau tua renta diberikan keringanan boleh tidak berpuasa dan diganti pada hari lain atau dengan membayar fidyah.

 

Dengan demikian makan sahur adalah penting, sangat dianjurkan, dan bernilai sunnah. Bahkan karena sangat penting, maka nilai sunnah bersahur ini bisa saja berubah menjadi wajib untuk individu dengan kondisi tertentu. Bagi seseorang yang tidak mampu berpuasa kecuali dengan makan sahur, maka hukum sahur yang tadinya sunnah berubah menjadi wajib baginya. Kaidah hukum Islam  menegaskan; "Sesuatu yang  kewajiban tidak bisa sempurna dilakukan kecuali dengan adanya sesuatu tadi, maka sesuatu itu juga wajib dilakukan".

 

Tetap mengikuti sunah Nabi dengan sahur merupakan jalan tengah dan seimbang atau moderat. Sedangkan puasa yang melarang sahur dengan makan dan minum adalah sikap keras, berlebih-lebihan, atau radikal. Islam mengajarkan untuk hidup dan beribadah dengan seimbang, tidak berlebihan, adil dan tetap proporsional. Kualitas iman dan kesadaran spiritual tetap ditingkatkan melalui puasa Ramadhan, namun kesehatan fisik dan kebugaran jasmani tetap dijaga bersamaan.

 

Dengan berpuasa menyadarkan kita menjadi orang yang sederhana, menyadarkan kita bahwa ada masanya kita istirahat, masa merenung, bermunajat, berkhalwat, masanya membangun kesadaran spiritual keagamaan, kedekatan kepada Tuhan.

 

Dengan berpuasa juga kita bisa merasakan betapa susahnya menahan lapar dan haus, karena di.luar sana banyak orang yang kelaparan dan kehausan.  Dari sikap seperti itulah kita akan sadar bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan hadir lewat kesadaran ketuhanan (syariat). 

 

Maka agar puasa tetap dalam keadaan sadar, harus tetap melaksanakan makan sahur secukupnya. Hal itu sangat penting dan dianjurkan. Makan sahur juga harus dengan secukupnya, jangan sampai kekenyangan, perutnya penuh dengan makanan dan minuman.  Jika sahur terlalu berlebihan dengan harapan tidak akan merasa lapar sampai waktunya buka, itu namanya tidak ada latihannya sama sekali. 

 

Maka berpuasalah yang normal, sedang dan seimbang, sesuai dengan tuntunan dari Nabi saw. Jika sudah bisa moderat dalam berpuasa maka jiwa rohani kita akan mendapatkan nilai takwa dan kekuatan spiritual, fisik jasmani kita pun akan tetap kuat dengan kesehatan tetap terjaga. Maka Nabi saw mengingatkan dalam sabdanya; "Orang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada orang mukmin yang lemah".

 

Prof Alamsyah, Pelaksana Harian Ketua PWNU Lampung  dan Wakil Rektor 1 UIN Raden Intan Lampung.


Syiar Terbaru