• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Warta

Jadikan Segala Sesuatu Sebagai Inspirasi Menulismu

Jadikan Segala Sesuatu Sebagai Inspirasi Menulismu
Pelatihan Jurnalistik Buku santri Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung (Foto: Istimewa)
Pelatihan Jurnalistik Buku santri Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung (Foto: Istimewa)

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Pesantren Al Hikmah Kedaton Bandar Lampung menyelenggarakan pelatihan jurnalistik penulisan buku di Gedung Baru Lantai 2 Yayasan Al Hikmah pada Jumat (16/9/2022). Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan semangat menulis bagi para santri.


Pemateri jurnalistik, Muhsin Kalida menyampaikan, seorang penulis harus memiliki buku pendamping atau buku saku yang digunakan sewaktu-waktu untuk mencatat ide yang keluar dari pikiran atau dari orang lain. 


“Harus punya buku pendamping, dan jadikan buku sebagai pendamping kalian dimanapun, kecil saja seperti muat di dalam saku,” ujarnya. 


Menurut Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, seorang penulis juga harus bisa menciptakan inspirasi sendiri dalam pikirannya. Akan tetapi, jika tidak bisa atau belum menemukan inspirasi dapat menjadikan perkataan, ceramah, nasihat para ustadz, kiai, dan guru sebagai inspirasi dengan cara mencatatnya kemudian disusun satu persatu, sehingga menjadi suatu kalimat. 


“Ciptakan mood, gunakan dan carilah inspirasi dari para ustadz-ustadzmu, guru-gurumu ketika mengajar. Biasanya apa yang dikatakan di awalan yang berupa nasihat bisa dijadikan inspirasi untuk tulisan-tulisan kalian,” ungkapnya. 


Lebih lanjut ia mengatakan tidak hanya itu, trainer hypnowriter juga menyarankan jika sewaktu-waktu atau tiba-tiba muncul sebuah inspirasi dimanapun untuk segera ditulis. Karena jika tidak ditulis maka akan hilang, dan kesempatan tidak terulang dua kali. 


“Pas ketemu mood, ide, dan inspirasi segera tulis, supaya ide itu tidak hilang,” katanya.


Jangan membiarkan momen-momen tertentu tanpa ditulis, karena biasanya penulis yang hebat berasal dari pengalaman dan kisahnya sendiri. Seperti membaca hebatnya tulisan novel atau cerpen orang yang sedang putus cinta atau patah hati. 


“Jadikan putus cinta, putus hati, sebagai karya, karena banyak di luar sana yang membuat karya berawal dari kisahnya sendiri,” paparnya.  


Semua manusia bisa menulis, karena menulis itu gampang, hanya butuh pembiasaan dan keberanian. Jika pasar buku dikuasai para santri, maka santri akan menjadi bahan rujukan. 


“Santri wajib menulis, karena jika pasar buku, toko buku, diisi oleh tulisan santri, maka ide, ajaran, amaliah santri akan dikenal masyarakat dan menjadi rujukan orang-orang,” katanya.


Acara tersebut diikuti oleh 25 peserta, baik dari pengurus pesantren, mahasiswa, santri Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan santri Madrasah Aliyah (MA).

(Yudi Prayoga)
 


Warta Terbaru