• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Tokoh

Doa dan Saran Tokoh Lampung di Harlah NU yang ke 90

Doa dan Saran Tokoh Lampung di Harlah NU yang ke 90
NAHDLATUL Ulama (NU) genap berusia 90 tahun pada Minggu (31/1/ 2016). Umur yang bukan lagi muda tentunya bagi organisasi masyarakat seperti NU. Namun dengan semakin bertambahnya umur, justru tantangan yang akan dihadapi NU juga akan semakin kompleks. Sejumlah tokoh, pengurus serta ulama–ulama sepuh NU Lampung juga ikut memberi sumbangsih saran dan harapan kepada NU untuk perbaikan organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Ashari tersebut di masa mendatang. KH.Hafifiudin Hanif, misalnya. Anggota Mustasyar NU Lampung ini berharap ke depan NU dapat mempertahankan paham Aswaja yang konsisten di tengah terpaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. “Kita semua tahu bahwa saat ini NU merasa terganggu oleh aliran-aliran atau paham-paham yang menafikan kearifan lokal dan kebudayaan sehingga mereka tidak menganggap adanya kebudayaan sebagai sebuah nilai. Dan hal ini harus diperhatikan oleh NU ke depan, agar tidak mudah goyah dan mudah terprovokasi,” kata Kyai Hafif seraya berharap NU juga memperkuat dakwah dan amar maruf melalui pengembangan Lembaga Maarif dan juga lembaga dakwah. Sementara KH. Soleh Bajuri berharap institusional building dalam tubuh NU dapat dijalankan dengan baik. “Juga harus terbangun sebuah komunikasi, konsolidasi yang baik. Baik itu komunikasi vertikal, yakni antar lembaga dan Banom, antara PWNU-PCNU, bahkan ranting. Juga konsolidasi horizontal, yakni bagaimana hubungan NU dengan beberapa lembaga atau institusi pemerintahan dapat dijalankan dengan baik,” kata Ketua PWNU Lampung ini. Di lain tempat, KH. Suparman Abdul Karim mengatakan bahwa ahlussunnah wal jamah an nahdiyyah adalah merupakan jalan tengah yang terbaik yang mesti istiqomah dipertahankan NU. “Sebab, ada yang berpaham ekstrim kanan seperti ISIS dan semisalnya. Ada juga yang ekstrim kiri seperti Syiah dan semisalnya. Namun demikian, NU harus berada di tengah-tengah  ummatan wasathan,” tambah Ketua LDN NU Lampung ini. Senada dikatakan Wakil Ketua LKNU Titut Sudiono. Menurutnya, sebagai organisasi besar yang memiliki banyak pengikut, NU harus tetap pada khittahnya, yakni meneguhkan diri sebagai ormas yang moderat, tawasuh, tawazun, dan tamadun serta tetap untuk jamah. “Dari jamaah dan untuk jamaah yang dibingkai dalam Islam rahmatan lil alamin,” ujarnya. Aktivis Lakpesdam, Iwan Satriawan, juga berharap NU dapat meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) sehingga mampu mengisi semua lini di masyarakat. “Baik itu segi birokrat, aristokrat, konglomerat hingga ulama. Harapannya kedepan bagaimana NU bisa dibangun ma`had aly khusus untuk mencetak para ahli fiqh,” harap pria yang menjadi dosen di Universitas Lampung ini. Sementara Ketua PW Ansor Hidir Ibrahim berharap gerakan dan keberadaan NU semakin hari semakin membawa maslahat dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat, bangsa dan negara. “Saran untuk pengurus , agar memfokuskan pada penguatan aswaja, baik dari segi nilai maupun tradisi, sehingga gerakan-gerakan radikal tidak berkembang luas di negri ini,” katanya. (Sunarto)  


Editor:

Tokoh Terbaru