• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Opini

Penjelasan tentang Keramatnya Seorang Ibu

Penjelasan tentang Keramatnya Seorang Ibu
ilustrasi seorang ibu dan anak
ilustrasi seorang ibu dan anak


Seorang ibu memiliki kekeramatan tersendiri bagi anak-anaknya. Bahkan kekeramatannya melebihi para wali Allah. 

 

Kekeramatan seorang ibu kepada anaknya berlaku untuk semua manusia, baik yang berprilaku terpuji maupun tercela. Bahkan apabila ada seorang ibu yang dia banyak melakukan dosa, apalagi dosa besar, kekeramatan terhadap anaknya tetap berlaku. Doa seorang ibu pelaku maksiat terhadap anaknya lebih mustajab dibandingkan doanya seorang ahli ibadah terhadap anak tersebut. 

 

Bagi seorang anak, andaikata memiliki seorang ibu berbeda pendapat dengannya bahkan keyakinannya, hal yang wajib dilakukan yakni tetaplah menghormatinya, tidak perlu meniru atau mendukungnya, apalagi sampai kasar terhadapnya. 

 

Dan bagi seorang ibu pantanglah berkata kasar dan jorok terhadap anaknya, karena ucapannya merupakan doa baginya. Semisal mengata-ngatai bodoh, tolol, lemah, tidak punya masa depan, dll, dikhawatirkan bahwa ucapan tersebut benar-benar menjadi doa dan terjadi, sehingga merubah pola pikir dan kejiwaan sang anak.

 

Seperti dalam tradisi Jawa, orang-orang tua dahulu sangat takut dan berhati-hati jika berkata yang tidak baik, dikhawatirkan ada wali atau malaikat yang lewat, ikut mendengar dan juga mengiyakan perkataan tersebut. Meskipun hal ini mungkin terdengar aneh, tetapi justru ajaran tersebut bisa juga benar dan menjadi teguran khusus bagi masyarakat untuk berhati-hati dalam berucap dimanapun tempat berada. 

 

Penulis sering menyaksikan di kampung-kampung pelosok tanah air banyak orang tua yang kadang mengucapkan kata-kata kotor terhadap anaknya ketika sang anak melakukan kesalahan, bahkan tidak segan-segan menampar wajah dan menjewer telinganya. 

 

Orang tua hendaknya jangan ringan tangan, sering menampar wajah anaknya, karena wajah merupakan kemuliaan, dikhawatirkan bisa menghilangkan cahaya di wajah anaknya. Selain itu orang tua juga dilarang menjewer telinga anaknya, karena telinga merupakan alat indera yang utama, berguna untuk mendengarkan ilmu dan petuah-petuah dari guru. Karena sebagian besar, ilmu dihasilkan dan diakses lewat alat indera pendengaran (telinga). 


Berkata kasar terhadap anak terlihat sepele, bahkan seperti tidak ada makna yang berarti, sehinggga banyak dengan enteng mengucapkanya, akan tetapi berdampak dahsyat bagi kehidupan akan datang. Seperti kisah Syekh Abdurrahman As-Sudais imam Masjidil Kharam, yang ketika waktu kecil pernah menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing yang akan dihidangkan bagi tamu-tamu orang tuanya. Ibunya yang melihat hanya mengatakan dan mendoakan "Pergilah keluar, semoga Allah menjadikanmu imam Masjidil Kharam." 

 

Dan benar, apa yang dikatakan ibunya mustajab. Syekh Sudais yang semasa kecilnya nakal kini menjadi imam besar Masjidil Haram. Dengan suara khasnya menggema sampai seluruh dunia.


Ada juga beberapa kisah yang menceritakan tentang keramatnya seorang anak berkat wasilah dari seorang ibu.  Misalnya,  ada seorang pemuda dari Yaman, bernama Uwais Al-Qarni lahir pada tahun 594 M, seorang tabiin yang hidup di zaman Nabi tetapi tidak sempat bertemu Nabi. Ia mendapat julukan pemuda yang tidak terkenal di bumi tetapi masyhur di langit. Hal ini bukan serta merta hanya istilah belaka. 

 

Pemuda tersebut merupakan orang yang sangat sayang terhadap ibunya, pekerjaan setiap harinya dihabiskan untuk merawat ibunya, kemana-manapun selalu digendongnya, bahkan pernah menggendong ibunya dari Yaman ke Mekah dengan berjalan kaki, karena ingin mengabulkan keinginan sang ibu, berhaji ke Baitullah. 

 

Di tanah suci, Uwais dengan tegap menggendong ibunya thawaf di Ka’bah, seraya berdoa “Ya Allah, ampunilah semua dosa ibuku.”  “Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang ibu karena heran kenapa tidak meminta dosanya diampuni. 

 

“Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukup dengan ridho dari ibu yang akan membawaku ke surga," jawab Uwais. 


Maka tatkala Uwais wafat, masyarakat Yaman sangat heran, karena banyak orang yang datang berebut untuk memandikan, menshalatkan dan menguburkan jenazahnya. Banyak yang meyakini bahwa Allah mengutus para malaikatnya untuk mengurus jasadnya Uwais. Itulah kenapa ia mendapat gelar pemuda yang tidak terkenal di bumi melainkan di langit.

 

Yudi Prayoga, Alumni Pondok Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung


 


Opini Terbaru