• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Zakatnya Ilmu Adalah dengan Mengajar

Zakatnya Ilmu Adalah dengan Mengajar
Mengajar adalah salah satu upaya membayar zakat atas ilmu (Foto Yudi Prayoga)
Mengajar adalah salah satu upaya membayar zakat atas ilmu (Foto Yudi Prayoga)

Semua manusia pasti membutuhkan yang namanya ilmu, karena dengan ilmu manusia bisa lebih mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, juga mana yang abu-abu. 

 

Ilmu itu sangat luas, bahkan manusia tidak akan pernah bisa menampung semua ilmu yang diberikan oleh Allah swt. Itulah kenapa, semua manusia memiliki spesialisnya masing-masing dalam berbagai bidang ilmu dan pengetahuan.  

 

Jika kita melihat secara subtansi, ilmu tak ubahnya dengan harta benda, yang juga perlu untuk dizakati. Salah satunya dengan mengajarkannya kembali kepada orang lain. 

 

Jika manusia sudah mengumpulkan harta benda yang banyak dan melebihi satu nisab, maka sudah selayaknya wajib untuk membayar zakat. Andaikata belum mencapai satu nisab, maka dianjurkan untuk bershadaqah dan berinfak. 

 

Begitu juga dengan ilmu, ketika manusia sudah mencari berbagai ilmu pengetahuan, maka sudah sepantasnya ia juga berbagi apa yang dimilikinya. Ilmu lebih istimewa dan tidak perlu mencapai satu nisab, karena memang ilmu tidak bisa diukur dengan ukuran harta benda. Ilmu hanya bisa diraba ketika pemiliknya mencurahkan ilmunya, baik melalui lisan ataupun tulisan.  

 

Harta bisa habis karena dipakai dan diberikan kepada orang lain. Berbeda halnya dengan ilmu yang semakin dibagi justru semakin bertambah. Semakin dishadakahkan semakin berlipat pahala dan keberkahannya.

 

Menjadi manusia jangan terlalu pelit dari segala sesuatu, termasuk ilmu pengetahuan. Karena ilmu yang tidak diamalkan itu tidak ada berkahnya, alias bagaikan pohon yang tidak berbuah. Meski serendah-rendahnya ilmu yang berkah adalah yang bisa merubah dirinya (pemiliknya) menjadi lebih baik. 

 

Apakah ada ilmu yang tidak berkah? Jawabannya ada.

 

Pertama, ilmu yang menjadikan pemiliknya menggunakan ilmunya untuk keburukan dan kemaksiatan. 

Orang yang seperti ini biasanya memiliki ilmu yang banyak, akan tetapi hanya digunakan untuk kejahatan dan maksiat. Seperti dengan memiliki ilmu beladiri malah digunakan untuk hal yang anarki, memiliki ilmu IT, teknologi, digunakan untuk memanipulasi data, memiliki pengetahuan yang luas dan cerdas malah semakin menjadi korupsinya, dan lain sebagainya. 

 

Kedua, ilmu yang dimilikinya tidak bisa merubah dirinya dan orang lain. 

Banyak orang yang sebelum mencari ilmu dan sesudah mencari ilmu tidak ada bedanya. Andaikata dia seorang pemabuk sebelum menuntut ilmu dan dia akan tetap mabuk setelah mendapatkan dan mengetahui ilmu larangan mabuk. Ada yang tidak shalat sebelum ngaji atau mondok, dan tetap tidak shalat meski sudah ngaji dan tamat mondoknya. Dan lain sebagainya.

 

Itulah kenapa salah satu ilmu yang berkah dan memberkahi bagi sekelilingnya yakni ilmu yang diajarkan kepada orang lain, selagi ilmu itu membawa kebaikan (maslahat) bukan keburukan (mafsadat). Karena buah dari ilmu adalah keberkahan dan kemanfaatan kepada orang lain. 

 

Ilmu yang berkah dan manfaat akan melahirkan keberkahan dan kemanfaatan yang lain. Satu orang pemilik ilmu bisa melahirkan jutaan pemilik ilmu yang baru dalam satu majlis atau forum. Berarti ia telah berzakat kepada jutaan orang lain.

 

Selain itu, jika mengajarkan ilmu harus diniati lillahitaala (karena Allah), serta menghilangkan kebodohan dan kotoran di dalam hati. Karena jika niatnya sudah benar, ketika dia mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari orang yang diberikan ilmu, hatinya akan tetap stabil, karena Allah ta'ala. 

 

Bagi seorang pemilik ilmu, ketika memberikan ilmu, juga tidak perlu harus ditempat yang formal, seperti di kelas-kelas dan majlis-majlis madrasah. Jika ada yang bertanya dimanapun, asalkan tidak di tempat-tempat yang makruh seperti kamar mandi maka layanilah dan berikanlah, seperti di jalan, pasar, kebun, serambi, kendaraan, dan lain sebagainya.


Yudi Prayoga, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandar Lampung


Opini Terbaru