• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 4 Februari 2023

Opini

Transformasi GP Ansor untuk Negeri (Refleksi Harlah GP Ansor ke-88)

Transformasi GP Ansor untuk Negeri (Refleksi Harlah GP Ansor ke-88)
pamflet ucapan harlah Ansor
pamflet ucapan harlah Ansor

Oleh: Prof. Dr Misri A Muchsin, M. Ag

 

Tepatnya 24 April 2022 atau  22 Ramadhan 1443 Hijriah, usia Gerakan Pemuda Ansor  (GP Ansor) genap 88 tahun. Ansor sebagai salah badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, sejak dulu hingga kini tidak perlu diragukan lagi dalam memberikan kontribusi dengan memperjuangkan agama dan mengawal keutuhan Republik Indonesia.

 

Keberadaan Gerakan Pemuda Ansor yang saat ini di bawah nakhoda Gus Yaqut sekaligus Menteri Agama RI selalu menyebarluaskan ajaran Islam yang ramah dan terbuka. Kehadiran Ansor juga ikut andil dalam menghiasi tumbuh kembangnya dinamika keumatan dan kebangsaan Indonesia, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip tasamuh (sikap terpuji), tawashut (tidak memihak), tawazun (tidak ekstrem), dan i’tidal (tegak lurus dan adil).

 

Generasi di era society 5.0 seperti saat ini, menjalanan tugas dan misi Ansor tentu tidak mudah, banyak tantangan terutama dari ideologi ekstrem yang ada. Maka dalam kondisi seperti ini menurut KH. Said Aqil Siradj yang juga mantan Ketum PBNU menyebutkan Ansor harus tampil di garis depan perjuangan NU untuk membentengi ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah. Ajaran ahlusunnah ini berpegang teguh pada Sunnah Nabi secara qaulan wa fi’lah wa taqriran (sabda, tindakan dan kesepakatan). Sebagai pembawa misi kenabian maka ahlussunnah selalu berpegang pada prinsip jamaah yaitu bersama dan membela kepentingan masyarakat banyak.  

 

Tentunya dalam kondisi seperti ini, Ansor tidak hanya terbatas hanya Ansaru Nahdlatul Ulama, akan tetapi lebih jauh lagi menjadi Ansarul Islam, Ansarullah dan Ansarul Wathan (pembela tanah air). Menghadapi tanggung jawab agama, negara dan bangsa ini GP Ansor NU perlu menyingsingkan lengan baju, karena hanya dengan demikian akan bisa  mengemban peran besar sebagai syuhudu hadhari (penggerak peradaban) bangsa, tetapi juga berperan sebagai syuhud tsaqafi (penggerak intelektual) dalam membangun dan menyangga bangsa ini.

 

Penguatan serta orientasi GP Ansor dalam perjalanan sejarahnya, senantiasa menetapkan titik kuatnya pada pengembangan kualitas sumber daya kader, sebagai upaya mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Selain itu, GP Ansor juga senantiasa aktif terlibat dalam dinamika sosial yang sedang berkembang, baik pada tingkat lokal, regional, bahkan tingkat nasional dalam kerangka dasar keagamaan dan kebangsaan. Dalam melaksanakan itu semua, GP Ansor memantapkan dirinya terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai manhajul fikr yaitu metode berpikir yang digariskan oleh para sahabat nabi dan tabi’in

 

Sejarah telah mencatat bahwa Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. Dikutip dari laman NU Online disebutkan bahwa GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda.  Peran Ansor sangat menonjol seperti melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI. 

 

Dalam menggerakkan roda organisasi, GP Ansor membekali dirinya dengan sikap kehati-hatian, kejelian, kecermatan serta kearifan dalam memahami dinamika serta isyarat zaman, sebagaimana kaidah fiqh “Tasharruful imam manuthun bil maslahathir ro’iyah (kebijakan seorang pemimpin haruslah berlandaskan kepada kemaslahatan orang banyak atau masyarakat).  Sehingga, ketika GP Ansor berusaha melakukan penguatan terhadap ideologi kader, visi-misi, interpretasi, persepsi dan orientasi organisasi, maka sudah sepatutnya jika ditindaklanjuti melalui gerakan, tindakan, aksi dan reaksi organisasi. Dengan demikian, formulasi idealitas dan realitas di atas diharapkan dapat melahirkan sikap proaktif, kritis, humanis, professional, dan inovatif untuk melahirkan perkembangan dan mewujudkan perubahan, sebagai jawaban atas dinamika realitas zaman yang terus bergerak. Berangkat dari persoalan-persoalan tersebut, maka upaya reformulasi ideologi serta realisasi kaderisasi menjadi sebuah keniscayaan. 

 

Makna sangat penting pada Harlah GP Ansor ke-88 bagi kader-kadernya untuk menilai dengan strategis. Mengingat sudah sangat mapan dan seniornya usia Ansor, sehingga sudah saatnya kader-kader Ansor dan Banser memperbaiki diri, berintegritas, berkualitas kader dan berkomitmen terhadap organisasi. Terlebih kader-kader Ansor Banser yang sudah lulus kaderisasi, baik PKD, PKL, Diklatsar atau Susbalan dan seterusnya, harus lebih baik lagi dibandingkan dengan anggota lain atau simpatisan Ansor Banser. 

 

Sudah saatnya semua pengurus Ansor itu “ngurusi” organisasi Ansor bukan malah menjadi “urusan” bagi Ansor apalagi justru menjadi benalu bagi kemajuan Ansor. Kader Ansor harus bisa menjadi cermin bagi kader-kader organisasi lain.

 

Jelang seabad usia Ansor, hendaknya Ansor masa kini bisa mengisi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk kebesaran Ansor, seperti meminimalisir konflik internal pengurus. Sudah saatnya ansor bersiap memasuki perubahan global di era Society 5.0 seperti sekarang, sehingga organisasi Ansor sudah tidak lagi dipandang sebelah mata. Berjalan sesuai dengan visinya, yaitu terwujudnya GP Ansor yang teguh dan mandiri sebagai pengawal eksistensi Islam ahlussunnah wal ajama’ah dan NKRI. 

 

Menurut Ruchman Basori (2021) Visi besar itu tengah dikawal dengan baik terutama dalam 10 tahun terakhir ini, melalui empat misinya, yaitu: Pertama, merevitalisasi nilai dan tradisi Islam ahlussunnah wal jama’ah melalui internalisasi nilai dan sifat rasul dalam Gerakan Pemuda Ansor. Kita bisa melihat betapa misi ini tercermin dalam berbagai program, di antaranya Ansor bersholawat, halaqah kiai muda, peringatan PHBI, sorban nusantara travel haji dan umroh, nahi munkar peredaran narkoba, penegakan hukum dan keadilan melalui LBH Ansor, dakwah di kawasan perkotaan, dakwah via medsos, dakwah ke publik internasional dan daurah kiai muda. Hal yang sangat menonjol implementasi dari misi pertama ini adalah adanya terobosan deklarasi GP Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan (humanitarian of Islam) dan deklarasi GP Ansor tentang manifesto Nusantara. GP Ansor hadir untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin di bumi Nusantara. 

 

Kedua, memperkuat sistem kaderisasi dengan membangun disiplin organisasi dan kaderisasi yang berbasis profesi. Program kaderisasi idiologis seperti PKD, PKL dan PKN untuk kalangan Ansor dan Diklatsar, Susbalan dan Susbanpim untuk Banser. Hal ini harus massif dilakukan. Sementara kaderisasi berbasis profesi dilakukan dengan cara mendistribusikan kader ke pelbagai sektor khidmah berbangsa, seperti di lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Partisipasi aktif kader dan anggota Ansor dalam kegiatan sosial keagamaan menjadi kebanggaan tersendiri. KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai pendiri tentu berbangga, melihat generasi penerusnya terus berjuang menebarkan kebaikan. Banser Riyanto adalah salah satunya yang berjuang mewujudkan harmonisasi dan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Inovasi yang dilakukan dalam misi ini adalah proyek sosial dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN), nation caracter building via Ansor football competition, dan latihan instruktur media sosial. 

 

Ketiga, memberdayakan potensi kader dengan menjadikan organisasi sebagai sentrum lalu lintas, informasi, peluang usaha, dan stakeholder. Program-program yang dilakukan, di antaranya sekolah pasar saham syariah, kursus kuliner Nusantara, kursus barista, magang 1.000 anggota ke Jepang, hingga membuka akses beasiswa ke China. 


Keempat, mengakselerasi kemandirian organisasi melalui pemanfaatan teknologi informasi, dan mengoptimalisasi jaringan dan amal usaha organisasi. Hal ini bisa dilihat dalam program-program seperti Ansor Mart, Kowina, Lembaga Wakaf Ansor, program pelatihan kerja, program penanaman jagung di NTB. Serta inovasi yang dilakukan adalah seperti program kopi jalu Garut, air minum kemasan Lampung, toko retail di Jogjakarta, Ansor retail dan lain-lain. Jelang seabad kelahiran GP Ansor, maka harus dimaknai sebagai bentuk penegasan eksistensi kaum muda yang berkhidmah untuk bangsa. Dalam konteks ini berarti berada di dalam dua dunia, yaitu antara dunia nyata dan dunia maya, antara online dan offline atau media luring dan daring. (Ruchman Basori, Sindo, 2021).

 

Setiap tahun Harlah GP Ansor mengusung tema dan logo yang berbeda, di usia yang istimewa ini. Logo resmi Harlah GP Ansor ke-88 tahun 2022 adalah bentuk angka 88.

 

Tidak hanya sekedar bentuk, namun dalam logo saja, akan tetapi terkandung filosofi yang penuh makna. Pertama, Bentuk Infinity. Angka 8 yang berbentuk seperti infinity, adalah konsep yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak ada habisnya atau tidak terbatas. Kedua, bentuk berkibar. Bentuk atau shape berkibar adalah simbol dari gerakan. GP Ansor selalu siap bergerak satu komando dalam menghadapi segala tantangan zaman. Ketiga, angka 88 dan shape berkibar. Bentuk ini adalah representasi dari angka 88 yang bermakna usia GP Ansor ke-88 tahun (1934-2022). Bentuk ini juga memiliki arti kebersamaan bahwa kader Ansor selalu bersama-sama dalam melangkah.

 

Beranjak dari penjelasan di atas, kita sangat berharap jihad dan perjuangan yang telah ditempuh para pendahulu hingga saat ini, Ansor harus bisa  menjadi garda terdepan dalam merawat keutuhan NKRI dalam berbagai segmen. Ansor juga harus tetap dalam  istiqamah memposisikan diri sebagai salah satu penggerak kepemudaan yang merawat Indonesia sebagai negara yang selalu dinafasi Pancasila dan UUD 45. 

 

Semoga di usia menjelang satu abad ini (88 tahun), GP Ansor semakin produktif melahirkan pemikiran dan pandangan keagamaan yang moderat dan inklusif agar bisa membentengi kehidupan berbangsa. Tidak hanya itu Ansor juga harus menjadi garda terdepan menjaga keutuhan NKRI yang baldatun tayyibatun warabbul ghafur.

 

Ansor Maju Satu Barisan
Bela Agama, Bangsa dan Negeri

Selamat Harlah Ansor Ke-88

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

 

Penulis adalah Ketua LP Maarif PWNU Aceh dan Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh
 


Opini Terbaru