• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 4 Juli 2022

Opini

Menghabiskan Nasi: Menghormati Petani 

Menghabiskan Nasi: Menghormati Petani 
foto petani padi
foto petani padi

Petani merupakan sebuah kepanjangan dari penjaga tatanan negara Indonesia yang dicetuskan oleh Bung Karno. Penamaan tersebut bukan suatu guyonan atau istilah yang sangat sederhana, melainkan inti dari dasar kehidupan negara itu sendiri.

 

 Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), petani diartikan sebagai orang yang pekerjaanya bercocok tanam. Hal ini juga sangat benar, karena memang umumnya istilah petani disematkan bagi orang yang bercocok tanam dan mengolah pertanahan.

 

Pekerjaan petani sendiri merupakan aktivitas purba dan kuno, sebelum ada pekerjaan modern seperti bengkel motor, pemandu pariwisata, penjaga parkir, servis komputer, kedai kopi, dan lain-lain. Mayoritas para leluhur dahulu merupakan seorang petani, kemudian ilmu tersebut diturunkan secara turun-temurun hingga saat ini. 

 

Dengan etos kerja dan menjadi peyangga, apakah petani wajib dihormati? Jawabannya sangat wajib. 

 

Menghormati para petani tidak perlu mengangkat tangan, kemudian ditaruh di samping dahi. Penghormatan seperti itu bukan diperuntukkan kepada petani, melainkan kepada para abdi negara seperti TNI, polisi, pejabat negara, dan lain-lain.

 

Menghormati petani sangatlah mudah sekaligus sulit, dan manusia jarang melakukannya. Yakni dengan menghabiskan nasi yang ada di atas piring makan. 

 

Banyak diantara kita ketika makan tidak dihabiskan nasinya. Alhasil justru menyisakan nasi (upo) yang berserakan dan jelas akan dibuang di tempat sampah.

 

Biasanya ada yang berdalih, maaf makannya tidak habis, karena kalau dihabiskan justru kekenyangan. Padahal jika manusia itu cerdas dan menggunakan akalnya dengan sempurna, ia bisa memposisikan porsinya, dan tidak akan mengambil sesuatu yang banyak, melebihi batas kenyang perutnya. Sehingga cukup mengambil apa yang perlu dan diperlukan untuk menguatkan tubuh. 

 

Membuang nasi merupakan sikap mubazir dan atau boros.Perlu diketahui bahwa hidup boros, senang membuang-buang harta, dalam hal ini nasi, termasuk meniru perbuatan setan.

 
Allah Ta’ala berfirman,

 

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ


Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  


Jika kita mengetahui dan menyaksikan langsung bagaimana proses dari beras menjadi nasi dan membutuhkan waktu yang lama, pasti kita tidak akan pernah menyia-nyiakan nasi, bahkan satu nasi yang ada di atas piring kita. Proses nasi dimulai dari menabur benih di tanah, dipupuk, dialiri air, dicabut (ndaud), ditanam, dicabut rumputnya (matun) atau dikored, dikeringkan airnya, disemprot hamanya, dipupuk, dan dipanen. 

 

Setelah di panen, gabahnya dijemur, di tapi, digiling menjadi beras, dan dimasak menjadi nasi. Lalu di makan. Mudah bukan? Sangat mudah bagi orang yang hanya mengeluarkan uang untuk membeli nasi di warung atau memesan gofood dan jika tidak habis tinggal dibuang.

 

Kenapa orang gampang membuang nasi? Karena mereka tidak pernah merasakan menanam padi dan mencangkul tanah.

 

Berbeda bagi petani, yang sehari-harinya terkena terik matahari, mereka akan menjadi bijak oleh keadaan dan tempaan alam. Itu kenapa para petani sangat menghormati nasi yang sudah ada di piring, bahkan jika nasi yang ada di bakul, magicom, langseng dan tidak habis, maka petani akan menjemurnya, dan ketika sudah kering akan digoreng, dicampur dengan bumbu yang pedas. Ini merupakan makanan baru dengan cita rasa yang enak dari varian nasi. 

 

Rasulullah saw sendiri mengajarkan untuk selalu memakan apa yang sudah diambil. Dalam hal ini Jabir bin ‘Abdillah pernah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,


Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan setan.” (HR. Muslim).


Berbeda lagi, jika petani yang memiliki ayam atau peliharaan unggas lainnya, nasi yang sudah layu dan akan membusuk, biasanya diberikan kepada ternak. Jadi tidak ada alasan yang namanya membuang nasi. Karena membuang nasi bisa memiliki tiga kesalahan terbesar, yakni bersikap sombong, tidak bersyukur dan tidak menghargai jerih payah para petani. 

 

Penulis sangat ingat pesan orang tua di kampung, jangan membuang nasi, karena nasi itu mulia. Tanpa wasilah nasi, setengah kekuatan manusia di Indonesia dipertaruhkan. Maka habiskanlah nasi yang ada dipiringmu, jangan tersisa satu nasipun. Karena satu nasi itu akan bahagia jika dihormati, dan akan sedih jika dibuang dan ditelantarkan. 

 

Mungkin perkataan tersebut terdengar mengada-ada atau menjadikan berlebihan, akan tetapi nasihat tersebut penuh makna yang mendalam dari jiwa seorang petani, yang kesehariannya selalu berkecimpung, bersahabat dengan tanah, tanaman, air dan rumput. 

 

(Yudi Prayoga, Staf Pengajar di Sekolah Tinggi Ekonomi & Bisnis Islam Lampung)


Opini Terbaru