• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Opini

Dimensi Sosial Ibadah Haji

Dimensi Sosial Ibadah Haji
foto Wahyu Iryana
foto Wahyu Iryana


Oleh: Wahyu Iryana

 

Rabu, 15 Juni 2022 yang lalu prodi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengadakan Seminar Nasional bertema Haji dalam lintas Sejarah. Kebetulan yang didapuk menjadi pembicara salah satunya adalah penulis.


Menunaikan ibadah haji bagi seorang muslim yang mampu adalah kewajiban. Namun yang harus dibincangkan lebih mendalam yakni esensi haji yang tidak bersifat ritual (syariah, ibadah vertikal) semata, tetapi memberikan dimensi sosial (horizontal), mulai dari status sosial, gerakan perubahan sosial sampai legitimasi politik yang berdampak universal bagi umat.


Banyak penulis Barat seperti halnya Martin van Bruinessen yang menulis Mencari ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji. Ada kesan orang Indonesia lebih mementingkan haji daripada bangsa lain, memang tidak dapat dipungkiri status sosial di masyarakat terhadap para haji memang lebih tinggi.


Seperti juga Snouck Hugronje, keadaan ini erat kaitanya dengan budaya tradisional Asia Tenggara. Dalam kosmologi Jawa, (Asia Tenggara) pusat-pusat kosmis, titik temu antara dunia fana kita dengan alam supranatural, memainkan peranan sentral.

 

Kuburan para leluhur, gunung, laut (samudra), gua dan hutan tertentu, tempat ‘angker’ lainnya tidak hanya diziarahi sebagai ibadah saja tetapi  dikunjungi untuk mencari ilmu ‘ngelmu’ (kesaktian) dan legitimasi politik. Pasca orang Jawa mulai masuk Islam, Makkah dianggap sebagai pusat kosmis utama.


Mengamati pernyataan Ibnu Ghifarie dalam Haji dan Kepemimpinan bahwa kita tidak tahu kapan dan siapa orang Jawa yang pertama naik haji, tetapi menjelang pertengahan abad ke- 17 raja-raja Jawa mulai mencari legitimasi politik di Makkah. Pada tahun 1630-an, raja Banten dan raja Mataram, yang saling bersaing, mengirim utusan ke Makkah untuk, mencari pengakuan dari sana dan meminta gelar ‘Sultan’.

Para raja itu beranggapan ihwal gelar yang diperoleh dari Makkah akan memberi sokongan supranatural terhadap kekuasaan mereka. Sebetulnya, di Makkah tidak ada instansi yang pernah memberi gelar kepada penguasa lain. Para raja Jawa tadi rupanya menganggap Syarif Besar, yang menguasai Haramain (Makkah dan madinah), memiliki wibawa spiritual atas seluruh Dar al-Islam

 

Seperti halnya Sultan Agung mendapat gelar setelah dari tanah suci dengan sebutan Senopati Panatagama Khalifatullah, Shulthon Aulia Ing Tanah Jawi sebagai bentuk legitimasi politik kekuasaan dan keagamaan. Begitupun putra Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), Abdul Qahhar, yang belakangan dikenal sebagai Sultan Haji. Dan fungsi haji sebagai legitimasi politik terlihat jelas sekali dalam Sejarah Banten yang tercatat pada Hikayat Hasanuddin, sekitar 1700. 

 

Tabir Implementasi Haji

 

Dasar lahirnya haji merupakan fondasi awal dari dasar peradaban Islam yang berbasis keimanan yang kukuh. Serangkaian perintah Ilahi yang diejawantahkan melalui kurban, tawaf, wukuf, sai, melempar jamrah pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, perdamaian, persaudaraan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

 

John L. Esposito menuliskan tentang napak tilas penolakan Ibrahim atas segala godaan setan untuk mengabaikan perintah Tuhan. Penolakannya dengan cara beberapa kali melempari setan menggunakan batu. Di sini disimbolkan dengan tiang batu. Juga kurban Ibrahim atas anaknya, yang kemudian diganti dengan seekor biri-biri jantan. Ini melambangkan para jemaah haji ingin mengorbankan sesuatu yang paling penting bagi mereka.

 

Lanjut mengutip pernyataan John L. Esposito bahwa aktivitas mengenakan kain putih tanpa jahitan, merupakan simbol penyucian diri dari segala kesombongan dan keangkuhan.  Wukuf di Arafah melambangkan pertaubatan, memohon pengampunanya sekaligus merasakan persatuan dan kesetaraan yang mendasari umat Islam di seluruh dunia dari segala perbedaan ras, ekonomi dan jenis kelamin. Dan Haji Wada menjadi simbol dari ajakan Nabi Muhammad saw, kepada perdamain dan keharmonian di kalangan kaum muslim. (John L. Esposito,2004:114-116).

 

Pentingnya ibadah rukun kelima bagi yang mampu, Ali Syariati mengingatkan kepada kita yang diawali dengan cara luruskan niatnya. Halalkah uang yang kita gunakan untuk membiayai keberangkatan kita? Jiwa mana yang kita bawa? Jiwa yang hendak bertekuk lutut dan mengakui kehinaan  di hadapan Tuhan, ataukah jiwa yang hendak ‘memperalat’ Tuhan demi status baru sebagai manusia yang gila hormat dan sanjungan? Ataukah sekadar memperpanjang gelar yang kita sandang? Ketulusan hati untuk menjadi tamu Allah harus kita tancapkan di hati dan dada kita.

 

Sebagaimana yang telah ditradisikan bahwa ketika tiba di Miqat,  ritual ibadah haji dimulai dengan memakai baju ihram,  segala perbedaan dan pembedaan ras, bangsa, kelas, subkelas, golongan dan keluarga harus  ditanggalkan supaya merasakan dalam satu  kesatuan  dan  persamaan.  

 

Di Miqat ini, apapun keburukanmu lepaskan semua, pakaian yang engkau kenakan  sehari-hari sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu   daya),  atau  domba  (yang  melambangkan  penghambaan).

 

Tinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai  manusia yang sesungguhnya. Dengan demikian, ibadah haji memberikan kesempatan yang unik bagaimana umat Islam seharusnya bersikap egaliter, multi etnis, kultural dan mengabdikan kesatuan umat untuk pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan dan agama sebagaimana terkandung dalam Islam. (Mingguan PESAN No 61/Th.II/03/2000).

 

Kiranya, ruh patokan mabrurnya seorang yang telah menunaikan haji tidak bisa dinilai dengan angka ataupun materi. Namun setidaknya cerminan kepribadiaan yang tulus, serta pengorbanan tanpa pamrihnya sangat disegani dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.  Seorang haji akan terus menjadi teladan yang perlu kita tiru, ibarat pelita di tengah kegelapan masyarakat, bagaikan sinar kemilau yang memberi terang.

 

Syair Nasher Khosrow tantang haji perlu kita renungkan secara bersama supaya dalam menjalani rukun iman kelima ini tidak hanya mementingkan status, berburu gelar, legitimasi politik melainkan guna mendapatkan predikat mabrur, seperti yang terdapat pada hadits Qudsi “Tidaklah ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga.” Sungguh pernyataan yang perlu kita aplikasikan.

 

Dalam definisi agama (Islam) istilah ini merupakan suatu sikap Istikamah, yaitu  tetap konsisten, ajeg melakukan amalan kebaikan dengan landasan ilmu untuk mendapatkan ridha dari Sang Kuasa. Inilah ciri pokok dari sufisme yang menuju kecintaan terhadap Sang Pencipta. Kerinduan memenuhi panggilan Ilahi datang lagi ketika musim haji telah tiba. Marilah kita bersiap diri sebagai tamu Allah, Labaik allahuma Labaik, Labaik ala Syarikala Labaik.

 

Penulis adalah Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung
 


Opini Terbaru