• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 20 Juni 2024

Khutbah

Khutbah Jumat: Segala Sesuatu Bisa Bernilai Ibadah

Khutbah Jumat: Segala Sesuatu Bisa Bernilai Ibadah
Ilustrasi amal saleh (Foto: NU Online)
Ilustrasi amal saleh (Foto: NU Online)

Ibadah merupakan pengabdian diri kepada Allah swt. Sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah, tentu tidak akan pernah terlepas dari ibadah. Selalu memperbanyak kesempatan untuk melakukan ibadah, dalam keadaan apapun, di manapun dan kapanpun.


Ibadah tersebut baik secara langsung kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat, dan naik haji, maupun ibadah yang sifatnya kepada sesama umat manusia yang di dalamnya berkaitan dengan masalah tolong menolong, muamalah, menepati janji, berkata jujur, berbuat baik terhadap kedua orang tua, dan sebagainya.


Khutbah I


الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ 


Hadirin rahimakumullah, 

Pada kesempatan yang mulia dan hari yang agung ini, di hadapan para hadirin, khatib mengajak kepada jamaah Jumat sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah swt, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sesungguhnya ketakwaan itu sangat penting sebagai modal kita dalam kehidupan dunia dan juga akhirat. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 197:


وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ 


Artinya: Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al-Baqarah: 197). 


Hadirin rahimakumullah, 

Kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk selalu beribadah kepada Allah swt, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, baik dalam sibuk maupun senggang.  Ibadah sendiri secara bahasa berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’, ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah swt, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. 


Allah swt sendiri telah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzaariyat ayat 56-58 bahwa makhluk di alam semesta (manusia dan jin) diciptakan untuk menyembah, tunduk, patuh kepada Allah swt:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ


Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh (QS Adz-Dzaariyat: 56-58).


Hadirin rahimakumullah,

Dalam praktiknya sehari-sehari, ibadah dibagi menjadi dua, yakni ibadah mahdlah dan ghairu mahdlah. Atau dalam bahasa akademisi dikenal dengan ibadah ritual dan ibadah sosial. Kedua-kedunya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena keduanya berjalan berkelindan. 


Secara umum, ibadah mahdhah merupakan ibadah yang sudah ditetapkan oleh Allah swt, seperti tata cara dan perinciannya, meliputi sifat, waktu, tempat dan sebagainya. Ibadahnya bersumber pada kaidah dalam Al-Qur’an dan hadits. Sedang pelaksanaannya berpola kepada segala sesuatu yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan diteruskan oleh para sahabat Nabi. 


Salah satu contoh ibadah mahdhah yang menjadi kewajiban umat Islam adalah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah-ibadah tersebut secara ushul (dasar) sudah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, yang berbeda pada setiap ulama dan zaman hanya pada furu’ (cabang).


Hadirin rahimakumullah,

Selain ibadah mahdhah yang bersifat ritual dan berasaskan kepatuhan dan ketaatan, ada juga ibadah ghairu mahdhah yang sifatnya lentur dan tidak ada tata cara atau perinciannya dengan mendetail. 


Karena sifatnya yang lentur maka umat Islam tidak diwajibkan untuk melaksanakannya, akan tetapi jika dilakukan maka itu lebih baik, bahkan bisa menjadikan wasilah (perantara) seorang Muslim masuk ke dalam surga.  


Contoh dari ibadah ghairu mahdhah seperti zikir, dakwah, sedekah, berbuat baik pada orang tua, kerabat, tetangga, saling tolong menolong dan lain-lain. Intinya interaksi sosial kita dengan manusia yang lain dan memberikan kemaslahatan serta mendekatkan diri kepada Allah swt, maka dihitung sebagai ibadah, bahkan itu hanya sekadar berbagi senyum, berbagi salam, berjabat tangan dan sebagainya.


Hadirin rahimakumullah,

Dari penjelasan di atas kita bisa memahami dan menilai bahwa sesungguhnya cakupan ibadah di dunia ini sangatlah luas dan beragam, sehingga ketika kita sanggup menjalankan keduanya, berarti kita menjadi insan yang sempurna, baik secara vertikal, hubungan kita dengan Allah, maupun yang horizontal, hubungan kita dengan sesama manusia dan alam semesta. 


Sesungguhnya berbagai aktivitas yang kita kerjakan di dunia bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan baik dan berdampak dengan baik. Sehingga niat dan tujuan menjadi hal yang penting ketika kita akan memulai dan melakukan suatu pekerjaan. 


Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang bersumber dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:


إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ


Artinya: Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju (HR Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907].


Hadirin rahimakumullah, 

Maka dari itu, senantiasa kita harus memiliki niat dan tujuan yang baik agar segala sesuatu yang kita kerjakan menjadi baik, perpahala dan menjadi amalan akhirat. Dan jangan sampai sesuatu yang sifatnya akhirat justru karena niat dan tujuan kita jelek, karena dunia, malah menjadi perkara dunia dan berdosa. 


Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rsulullah saw:


كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الدّنْياَ وَيَصِيْرُ بِحُسْنِ النِيَّة مِن أَعْمَالِ الآخِرَة، كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الأخرة ثُمَّ يَصِيْر مِن أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِيَّة 


Artinya: Banyak sekali amal perbuatan yang tergolong amal keduniaan, tapi karena didasari niat yang baik maka tergolong menjadi amal akhirat. Dan banyak sekali amal perbuatan tergolong amal akhirat, tapi ternyata ia tergolong amal dunia karena didasari niat yang buruk.


Hadirin rahimakumullah,

Demikianlah khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, baik yang mendengarkan maupun yang membaca. Semoga kita selalu diberikan iman dan takwa kepada Allah swt, sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan dibimbing oleh-Nya dan bertujuan untuk kemaslahatan umat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Aamin ya rabbal alamin


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 


Khutbah II


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ 


Yudi Prayoga, Sekretaris MWCNU Kedaton Bandar Lampung
 


Khutbah Terbaru