• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 2 Desember 2022

Khutbah

Khutbah Idul Adha: Tiga Keistimewaan Nabi Ibrahim as

Khutbah Idul Adha: Tiga Keistimewaan Nabi Ibrahim as
Kaligrafi lafadz Ibrahim
Kaligrafi lafadz Ibrahim

Khutbah I


اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، وللهِ الحَمْدُ…
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً ، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً …
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ، اللهُ أَكْبَرُ ، الله أكبر ، ولله الحمد …
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى نَبيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
فَيَاعِبَادَ اللهِ :اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Jamaah Sholat Idul Adha yang dirahmati Allah,


Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah swt, yang telah melimpahkan karunia yang paling agung kepada kita, berupa Iman dan Islam, serta nikmat berupa kesempatan untuk dapat menunaikan Sholat Idul Adha di pagi yang indah ini.  Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah untuk junjungan kita, Rasulullah Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir jaman.


Pagi ini, kita merayakan salah satu hari raya besar umat Islam, yakni Idul Adha atau juga dikenal dengan Hari Raya Kurban. Seluruh penjuru dunia bertakbir dan bertahmid memohon keridhaan dan kasih sayang Allah swt. Selain itu juga saudara-saudara kita ada yang diberikan nikmat berupa panggilan Allah swt ke tanah Suci Makkah untuk berhaji. Suatu keistimewaan dan kenikmatan yang besar dari Allah. Alhamdulillahirabbil alamin

 

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ 

 

Jamaah Shalat Id yang dirahmati Allah, 

 

Kisah Nabi Ibrahim as beserta Istri dan putranya, merupakan kisah yang mengandung syariat umat Islam, yakni ibadah Haji dan kurban. Kita bisa mengambil hikmah, dan pelajaran, dari setiap perjalanan yang dialami oleh Nabi Ibrahim as beserta keluarganya, dengan cara merenungkan kembali rangkaian peristiwa keagamaan, kemudian kita jadikan inspirasi bagi kehidupan kita, bagi umat Islam, dan juga bagi bangsa ini. 


Tidak kurang dari 60 ayat Al Qur’an mengisahkan tentang Ibrahim as dalam berbagai peristiwa, dari kisah “pencarian” Tuhan (QS 6: 76-78), dialog Ibrahim as dengan penguasa yang lalim – Raja Namrud (QS 2: 258), percakapan Ibrahim dengan ayahandanya (QS 6: 74), dialog Ibrahim dengan malaikat yang diutus ke kaum Luth (QS 11: 69-74), dialog Ibrahim dengan putranya Ismail (QS 37: 102) , dan beberapa kisah lainnya.   Dari beragam kisah tersebut, setidaknya terdapat 3 (tiga) pelajaran utama yang diwariskan Nabi Ibrahim as kepada kita.


Pertama, Nabi Ibrahim as merupakan manusia yang tangguh imannya kepada Tuhan. Saking tangguhnya, Allah beberapa kali menguji ketulusan imannya, seperti pencarian kebenaran sejati dengan melihat beragam makhluknya Allah swt. Dari kejadian alam semesta, seperti perputaran matahari dan bulan, menjadikan nabi Ibrahim sangat yakin dengan Allah sebagai tuhannya.

 

Dalam surat Al Anam (6) 76-78 digambarkan bagaimana Nabi Ibrahim as berdakwah kepada masyarakatnya untuk menyembah Allah swt, dan tidak menyekutukan-Nya, seperti menuhankan berhala-berhala berupa patung-patung. 


Nabi Ibrahim as menolak Tuhan” yang bisa tenggelam, atau terbenam.   Ketika melihat bintang Nabi Ibrahim as berkata “inilah Tuhanku”, namun ketika bintang tersebut tenggelam, maka serta merta Ibrahim AS mengatakan “saya tidak suka kepada yang tenggelam” (QS 6:76).  Sikap yang sama ditunjukkan Ibrahim ketika melihat rembulan, dan demikian pula ketika melihat matahari. Lalu Nabi Ibrahim as menyatakan "sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Dari peristiwa ini menunjukkan kebesaran Tuhan atas Nabi Ibrahim, dan menjadikan Nabi Ibrahim memiliki kesadaran ketuhanan sejak dini.

 

Nabi Ibrahim as, sosok yang tidak pernah berhenti berproses dalam keimanannya kepada Allah swt, serta tidak akan berhenti berdakwah kepada masyarakat yang menyekutukan Allah.  Sebagaimana dinarasikan dalam surat Al-An’am ayat 79:


إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٧٩

 

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.  (QS Al An’am [6]: 79).

 

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ 

 

Hadirin rahimakumullah


Kedua, Nabi Ibrahim as merupakan kekasih Allah yang berakhlaq mulia. Beliau selalu mencari teman untuk menemani makannya, sehingga tidak ada kata tidak berbagi kepada sesama manusia.  Itulah sifat kedermawanan dan keteladanan Nabi Ibrahim dengan akhlak yang mulia. 

 

Gambaran akhlak Nabi Ibrahim as beserta sifat-sifatnya dapat kita temukan dalam berbagai firman Allah swt dalam Al-Qur’an.  Seperti dinyatakan, “sangat lembut hatinya lagi penyantun” (QS At Taubah [9]:114); “penyantun dan penghiba” (QS Hud [11]: 75); dan “hanif” (QS An Nahl [16]:120, 123).

 

Nabi Ibrahim as, nabi yang sangat santun dalam bertutur kata. Seperti yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al Anam 74, tentang dialog Nabi Ibrahim dengan ayahandanya:
“… Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?, Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” (QS Al An’am [6]: 74).

 

Dari kalimat di atas, menunjukkan kearifan Nabi Ibrahim as dalam menyampaikan kebenaran kepada ayahandanya.


اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ 

 

Hadirin rahimakumullah, 

 

Ketiga, Nabi Ibrahim as merupakan utusan Allah yang sangat taat, patuh, dan tulus kepada perintah Allah swt.  Kita bisa melihat ketulusan dan kepatuhan Nabi Ibrahim as di dalam Al-Qur’an yang langsung diceritakan oleh Allah swt, sebagai pelajaran dan suri tauladan bagi manusia zaman sekarang. 


Kisah dimaksud digambarkan dalam Al Qur’an Surat As Shaffat (37) ayat 102:


 
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat [37]: 102).


Ketaatan, kesabaran, dan kepasrahan yang dimiliki Nabi Ibrahim as, dan keluarganya berbuah manis, karena pada akhirnya mendapat limpahan karunia Allah swt berupa penghentian prosesi “penyembelihan” Nabi Ismail as dan diganti dengan seekor sembelihan (domba) yang besar, sebagaimana firmanNya:


 
 وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ١٠٧
 

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar" (QS. As-Shaffat [37]: 107).

 

Maka dari itu, kita sebagai umat Islam harus bisa mencontoh kisah Nabi Ibrahim as beserta keluarganya. Sehingga diri kita bisa menjadi pribadi yang lebih ikhlas, tulus dan pasrah dalam beriman kepada Allah swt. Dan ibadah penyembelihan hewan kurban pada hari raya ini, merupakan bukti ketundukan, kepatuhan kepada perintah Allah swt, serta sebagai wujud syukur kita kepada Allah swt. Alhamdulillahirabbil alamin

  
 
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى.جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ عباده المتقين وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِروهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


 Khutbah II


اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ،اللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْد لله. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ الله. مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قَال اللهُ تَعَالى يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
          رَبَّنَا هَب لَنَا مِن أَزوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعيُن وَٱجعَلنَا لِلمُتَّقِينَ إِمَامًا
اَللَّهُمَّ اِناَّ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ  وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


 

(Yudi Prayoga, Alumni Pondok pesantren Al Hikmah Kedaton, Bandar Lampung)


Khutbah Terbaru