• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 20 Juni 2024

Warta

Semangat Beragama yang Besar Harus Diimbangi Guru yang Benar

Semangat Beragama yang Besar Harus Diimbangi Guru yang Benar
Ketua PBNU, Prof Mukri (Foto: Istimewa)
Ketua PBNU, Prof Mukri (Foto: Istimewa)

Bandar Lampung, NU Online Lampung 

Di era yang penuh dinamika seperti saat ini, kegersangan jiwa dan keinginan untuk dekat dengan Tuhan mudah muncul dalam jiwa manusia modern. Gemerlapnya dunia dan materi dunia tidak jarang membawa setiap individu merasa kering dan ingin menenangkan diri dengan tekun beribadah dan belajar agama.

 

Maka bisa dengan mudah ditemukan saat ini seseorang yang tiba-tiba tertarik untuk belajar agama dan semangat beragamanya tinggi. Di tengah paham keagamaan yang saat ini tumbuh seperti jamur di musim penghujan, masyarakat yang semangat agamanya tinggi harus selektif dalam memilih pemahaman yang tepat.

 

“Semangat beragama yang besar harus diimbangi guru yang benar. Jangan sampai keinginan untuk mendalami ilmu agama disalurkan pada tempat yang kurang tepat. Apalagi belajar agama hanya dengan mengandalkan internet dan media sosial,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Moh Mukri di Bandar Lampung, Rabu (22/5/2024).

 

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, tak terelakkan lagi terjadi banjir informasi yang harus disikapi dengan bijak dan hati-hati. Dengan mudah saat ini ditemukan kajian-kajian agama yang bisa disampaikan oleh siapa saja, termasuk mereka yang sebenarnya tidak kompeten di bidang agama.

 

“Di era modern saat ini, jangan mudah tertarik hanya dari retorika dan tampilan orang yang berbicara agama. Harus ditelusuri dulu sanad dan silsilah keilmuan agamanya dan pastikan sikap moderatnya,” sarannya.

 

Di antara pemahaman agama yang sejuk dan menyejukkan di era saat adalah paham yang mengedepankan sikap moderat dan menjunjung nasionalisme. Jika ditemui kajian-kajian Islam namun di dalamnya tidak mengedepankan moderasi dan menyalah-nyalahkan ibadah orang lain maka kajian tersebut perlu diwaspadai.

 

“Termasuk jika ada kajian yang mempersoalkan asas negara dan kurangnya nasionalisme, maka patut diwaspadai,” ungkap Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini.

 

MUI sebagai payung besar umat Islam berkepentingan untuk mengajak seluruh ormas dan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya untuk menguatkan moderasi dalam beragama sesuai dengan platform gerakan MUI yakni Islam Wasathiyah (Islam yang moderat). (Muhammad Faizin)


Warta Terbaru