• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 26 Mei 2024

Syiar

Keutamaan dan Tata Cara Shalat Taubat

Keutamaan dan Tata Cara Shalat Taubat
Kuta dianjurkan shakat taubat untuk memohon ampun atas dosa yang sudah diperbuat (Ilustrasi:NU Online)
Kuta dianjurkan shakat taubat untuk memohon ampun atas dosa yang sudah diperbuat (Ilustrasi:NU Online)

Tidak ada manusia yang luput dari dosa, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Namun dosa yang sudah menumpuk bukan berarti tidak ada jalan untuk memperbaiki diri.


Pintu rahmat Allah selalu terbuka untuk umatnya yang memohon ampun atau bertaubat. Salah satu cara bertaubat adalah dengan melakukan shalat taubat.


Taubat berarti sadar dan menyesal akan dosa, dan berniat akan memperbaiki tingkah laku serta perbuatan. Taubat juga bisa berarti kembali pada agama atau jalan yang benar.
 

Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Nihâyatuz Zain menyatakan, bila taubat yang dilakukan seseorang itu benar maka secara pasti ia akan melebur dosa yang telah dilakukan meskipun itu dosa besar seperti kufur dan lainnya.
 

Rasulullah saw pernah bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya: Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat (HR Ibnu Majah).


Dilansir dari NU Online, para ulama mengajarkan agar ketika seseorang hendak bertaubat atas sebuah dosa dan kesalahan yang ia perbuat terlebih dahulu melakukan shalat sunnah dua rakaat yang disebut dengan shalat taubat.

 

Ajaran para ulama ini didasarkan pada sebuah hadits Nabi, di antaranya diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari sahabat Ali bin Abi Thalib, dari sahabat Abu Bakar As-Shidiq bahwa Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ لَهُ 

 

Artinya: Tidaklah seseorang berbuat dosa lalu ia beranjak bersuci, melakukan shalat kemudian beristighfar meminta ampun kepada Allah kecuali Allah mengampuninya.

 

Masih dalam kitab Nihâyatuz Zain, Syekh Nawawi Banten menuturkan perihal shalat taubat sebagai berikut:

وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة

 

Artinya: Termasuk shalat sunnah adalah shalat taubat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertaubat dengan niat shalat sunnah taubat.

 

Dari penjelasan Syekh Nawawi di atas dapat disimpulkan bahwa shalat taubat merupakan shalat sunnah yang terdiri dari dua rakaat dan dilakukan sebelum seseorang bertaubat kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan. 

 

Pelaksanaan shalat taubat tidak berbeda dengan pelaksanaan shalat pada umumnya. Adapun niat shalat taubat adalah:

أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ

 

Ushallî sunnatat taubati (saya berniat shalat sunnah taubat).

 

Setelah selesai shalat dua rakaat kemudian dilanjutkan bertaubat dengan membaca istighfar yang disertai dengan penyesalan, tekad kuat untuk menjauhkan diri dari perilaku dosa dan tidak akan mengulanginya lagi.

 

Namun demikian Syekh Nawawi juga menganggap sah shalat taubat yang dilakukan setelah orang yang bersangkutan bertaubat, bukan sebelumnya. 

 

Dari uraian di atas sudah selayaknya kita sebagai manusia melaksanakan shalat taubat, memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Setelah taubat dilakukan, hendaknya disertai dengan tekad untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa.


Syiar Terbaru