Ila Fadilasari
Penulis
Sebagai manusia kita harus saling membantu sesama. Hidup kita harus selalu berdampingan dengan manusia lainnya, saling tolong-menolong sebagai makhluk sosial. Manusia memang ditakdirkan tidak bisa hidup sendirian.
Perihal tolong-menolong menjadi ajakan utama yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an maupun hadits. Sebagaimana Rasulullah saw, bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: Dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya” (HR Muslim).
Dari hadits tersebut dinyatakan Allah akan memberi balasan setimpal bagi siapa saja yang membantu orang-orang yang dalam sedang dalam kesulitan. Allah pun berjanji akan memudahkan dan menolong orang yang mau menolong hambanya.
Orang yang suka membantu orang lain, mengulurkan tangan untuk membantu orang yang sedang kesusahan, akan memperoleh kedudukan yang istimewa di sisi Allah.
Diceritakan, suatu ketika ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah. Lalu ia bertanya: wahai Rasulullah, siapa orang yang paling dicintai oleh Allah? Dan apa amalan yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah pun menjawab:
أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ (يعني مسجدَ المدينةِ) شهرًا
Artinya: Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan (HR ath-Thabrani).
Demikian besarnya keistimewaan dan keuntungan yang kita dapat bila gemar menolong orang lain, sebagaimana dilansir dari NU Online. Ternyata ada keselarasan pengaruh antara kesalehan secara sosial dengan kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan Rasulullah secara terang-terangan memandangnya lebih unggul daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.
Membantu atau menolong orang lain pun maknanya sangat luas dan beragam. Tidak harus kita membantu menyelesaikan masalah besar atau mengeluarkan uang dengan nilai yang besar. Memberi makanan untuk anak jalanan, membeli dagangan bapak atau ibu tua yang miskin, menghiburkan hati teman atau keluarga yang sedang ditimpa musibah, adalah bentuk kita membantu sesama.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Setelah Ramadhan, Apa yang Perlu Kita Lakukan?
2
Khutbah Jumat: Puasa Syawal, Menutup Kekurangan di Bulan Ramadhan
3
Khutbah Jumat: Pasca Ramadhan, Saatnya Menata Hidup dan Konsisten dalam Kebaikan
4
Mana yang Utama, Qadha Ramadhan atau Puasa Sunnah Syawal?
5
Panduan Ringkas Puasa Syawal: Niat, Waktu dan Keutamaanya
6
6 Peristiwa Penting pada Bulan Syawal, Salah Satunya Pernikahan Nabi
Terkini
Lihat Semua