• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Opini

Santri dalam Kawah Candradimuka

Santri dalam Kawah Candradimuka
foto ilustrasi (tirto.id)
foto ilustrasi (tirto.id)

MENJADI santri adalah jalan hidup sekaligus sebagai identitas. Menjalani hidup sebagai santri adalah jalan mulia sekaligus berat, karena harus selalu menjaga hubungan, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia dan makhluk.

 

Dalam dunia akademis dikenal dengan istilah saleh ritual sekaligus saleh sosial. Saleh ritual selalu beribadah kepada Allah, terutama ibadah mahdloh. Sedangkan saleh sosial, hubungannya dengan ibadah ghoiru mahdloh, yang berkaitan dengan sosial kemanusiaan.

 

Rajin ibadah ke masjid, tidak meninggalkan shalat lima waktu itu bagus. Namun belum sempurna, jika dia mengabaikan tetangganya yang kelaparan, kurang pendidikan dan sakit.

 

Ketika santri sudah menjadi identitas, maka harus selalu menampilkan kebaikan dan kebermanfaatan dari pandangan masyarakat, yang selalu mengamati setiap apa yang dilakukan. Untuk menciptakan karakter yang baik maka jiwa santri harus ditempa oleh kia di dalam pondok, yang dalam hal ini saya istilahkan dengan ‘‘kawah candradimuka’’.

 

Santri harus digodok di kawah candradimuko, seperti kisah Bratasena yang diperintah gurunya, Durna, untuk mencari  Kayu Gung Susuhing Angin. Meski gurunya sedikit menjerumuskan dan meyakini hal tersebut adalah mustahil, karena hal tersebut tidak ada di dunia, namun Bratasena yang sami’na wa ato’na kepada gurunya, mempunyai keyakinan bahwa gurunya benar dan memerintahkan hal yang benar.


Ketika Bratasena sampai di puncak Gunung Candramuka, Bratasena disambut oleh dua raksasa yang tanpa kompromi langsung menyerang habis-habisan.

 

Namun bukanlah Bratasena jika menyerah begitu saja, hingga akhirnya dia bisa mengalahkan kedua raksasa tersebut dan akhirnya mengetahui makna Kayu Gung Susuhing Angin.

 

Kayu (kanjeng) artinya kemauan, Gung artinya besar, Susuh Angin adalah pusat nafasmu, memusatkan niat konsentrasi.

 

Kisah tersebut menunjukkan bahwa ajaran kiai atau guru yang dilandasi keyakinan hati yang besar dapat menunjukkan kesuksesan dan menggapai cita-cita. Guru seperti Durna saja yang jelas-jelas ingin menjerumuskan dapat berhasil atas keyakinan muridnya kepada gurunya.

 

Apalagi perintah kiai di pondok pesantren yang jelas manfaat dan keberkahanya. Laku dari santri adalah mencari ilmu atau mengaji. Abuya Dimyati berkata ‘‘Thareqoh aing mah ngaji’’, Tarekat saya adalah mengaji. Karena pada awalnya semua santri adalah Abdul Muthallib, yakni hamba yang mencari.

 

Setelah mencari ilmu agama, dia akan mendekatkan diri kepada Allah, lalu menjadi Abdullah, hamba Allah.  Menjadi hamba Allah yang taat dan selalu istiqomah, maka akan menjadi Muhammad, yakni terpuji, dimuliakan orang.

 

Zaman sekarang hidup adalah pertarungan ‘‘isme’’, di mana doktrin terkuat membentur, di situlah yang akan membentuk. Di kawah candradimuko pesantren, santri ditempa oleh seorang kiai dan guru sebagai pengajar sekaligus Murobbi, untuk menjadi Insan Kamil, berakhlak mulia, dan menjadi suri tauladan bagi masyarakat.

 

(Yudi Prayoga, Alumni Ponpes Al Wafa Cibiru Hilir, Bandung)

 


Opini Terbaru