• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 4 Februari 2023

Opini

Menghormati Ibu Sebagai Sumber Kehidupan

Menghormati Ibu Sebagai Sumber Kehidupan
Ibu sebagai sumber kehidupan
Ibu sebagai sumber kehidupan


Hari ini, Kamis 22  Desember 2022 merupakan peringatan hari ibu nasional. Sudah sepantasnya kita semua bersyukur dan merayakannya dengan kebahagiaan. Entah lewat doa, tulisan, puisi, bingkisan, hadiah dan sebagainya. 

 

Peringatan Hari Ibu di Indonesia bermula dari Kongres Perempuan Indonesia pertama kali pada tanggal 22-25 Desember 1928. Kongres itu bertujuan untuk menyatukan perkumpulan perempuan-perempuan Indonesia dalam satu wadah.

 

Jadi, landasan Hari Ibu di Indonesia adalah Kongres Perempuan Indonesia sebagai bentuk bangkitnya perjuangan perempuan Indonesia. Seperti diketahui, tokoh-tokoh perempuan tak lepas dari kemerdekaan bangsa kita, seperti Cut Njak Dien di Aceh, Nyi Ageng Serang di Jawa Tengah, R A Kartini di Jawa Tengah, dan masih banyak lagi.

 

Semua manusia di muka bumi memiliki seorang ibu, kecuali Nabi Adam as dan Siti Hawa dalam kepercayaan umat muslim. 

 

Ibu merupakan pusat dari tata surya kehidupan di rumah tangga. Rotasinya selalu berputar 24 jam. Sehingga ketika ibu berhenti berotasi (beraktivitas) maka kehidupan rumah tangga lambat laun akan memudar dan melemah bahkan hancur. 

 

Bisa dilihat dari hal-hal kecil dan sederhana di sekitar kita. Atas kerja seorang ibu-lah rumah menjadi rapih dan bersih, mulai dari lantai, pakaian, piring, dapur, lemari dan sebagainya. 

 

Karena ibu dapur menjadi ngebul berasap. Menandakan pusat kehidupan tetap ada setiap waktu dengan berbagai menu yang nikmat, disajikan dengan cinta dan harapan masa depan. 

 

Dari rahim seorang ibu, regenerasi manusia di muka bumi semakin tumbuh memenuhi daratan dan lautan. Bahkan melahirkan berjuta-juta kebudayaan. 

 

Mungkin memang Allah swt sudah menakdirkan bagi seorang ibu untuk menjadi pusat dari kehidupan di muka bumi. Jika tanpa ibu, bagaikan alam semesta tanpa surya (matahari). 

 

Kita sebagai anak dari rahim seorang ibu, tidak akan pernah bisa membalas semua jasanya. Jika jasa ibu bagaikan seluruh pasir di lautan, maka kita hanya bisa membalas satu butir saja. 

 

Sebagaimana perkataan musisi Indonesia Iwan Fals dalam lagunya:


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku, anakmu

Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas Ibu
Ibu

Ingin kudekap
Dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur
Bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa
Baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas Ibu?
Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku, anakmu

Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas Ibu
Ibu


Atas dasar itulah, kepada seorang ibu, kita juga tidak pantas bahkan suul adab menyakitinya, baik secara fisik maupun hatinya. Karena wasilah seorang ibulah, manusia belajar merangkak, duduk, berdiri, berjalan, berbicara, berpikir, menulis dan segala aktivitas lainnya. 

 

Maka benar di dalam Al-Qur'an Allah swt berfirman, jangan katakan "ah" kepada ibumu. Meskipun ini hanya satu kata. Melukai hatinya itu lebih berbahaya daripada bencana di alam semesta. 

 

Kehebatan dan kehormatan seorang ibu juga pernah disyairkan oleh penyair kondang tanah air, Chairil Anwar. Lewat tangannya syair yang indah tertulis:

 

Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai

Ibu...
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu...
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan
Namun...
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu...

Ibu...
Aku sayang padamu...
Tuhanku....
Aku bermohon pada-Mu
Sejahterahkanlah dia
Selamanya..


Yudi PrayogaRedaktur Keislaman NU Online Lampung


Opini Terbaru