• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 27 November 2022

Kiai Menjawab

Tolong Pak Kiai, Bagaimana Melupakan Perselingkuhan Suami?

Tolong Pak Kiai, Bagaimana Melupakan Perselingkuhan Suami?
melupakan perselingkungan suami
melupakan perselingkungan suami

Assalamualaikum. Pak kiai Saya seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Pada saat saya melahirkan anak kedua, dua tahun lalu, suami saya selingkuh dengan perempuan lain. Hubungan mereka waktu itu sudah terlalu jauh.

 

Tapi sekarang suami saya sudah bertobat, dan menyayangi saya dan anak-anak. Suami saya sudah meminta maaf. Bahkan dua hari lalu, mantan selingkuhan suami saya itu mengirim email ke saya, menyatakan penyesalan dan minta maaf. ​​​​​

 

Tapi Pak Kiai, saya masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Saya pernah melabrak selingkuhannya itu, dan justru malah dia yang marah kepada saya. Suami saya juga berpihak pada perempuan itu saat itu. Peristiwanya sudah dua tahun berlalu. Tapi saya belum bisa melupakan. Perasaan sakit hati saya, kadang membuat saya hilang semangat hidup. Tolong bantu saya pak kiai, apa yang harus saya lakukan untuk melapangkan pikiran.

 

Wass.wr.wb

Ratna, Tulang Bawang

 

Waalaikum salam wr. wb. Ibu Ratna,

 

Untuk bisa hidup nyaman dan bahagia di dunia memang sangat sulit, tidak mudah. Andaikan itu mudah di capai tentu Allah tidak menempatkan sifat sabar pada tempat yang tinggi dan mulya, itu terbukti dengan pernyataan Allah sendiri, kalau dia akan memberikan cobaan dan ujian kepada kita, jika kita bersabar maka Allah akan memberi kebahagiaan kepada kita. (Al-Baqarah:155). Dan dia (Allah) selalu beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah 153).

 

Ibu Ratna, sebagaimana pernyataan Allah dalam surat al-Baqoroh ; 155 di atas, ternyata setiap orang akan di coba dan uji oleh Allah, ibu Ratna di uji- diberi cobaan, saya juga di uji dan diberi cobaan, begitupun orang lain, mereka akan mendapat ujian dan cobaan dari Allah SWT. Hanya saja bentuk dan macam ujiannya atau cobaannya itu yang lain-lain. Dan Allah tidak akan menguji atau memberi cobaan (membebani) manusia di luar batas kemampuan manusia itu. (Al-Baqoroh ; 287).

 

Mungkin Allah telah menganggap ibu Ratna orangnya tangguh, sehingga Allah memberi ujian seberat itu. Saya jadi membayangkan, seandainya hal itu menimpah saya, apa saya bisa setangguh ibu Ratna???.

 

Ibu Ratna, Jika Ibu memilih jalan untuk tetap mempertahankan rumah tangga bersama suami ibu, hal yang utama adalah, lakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah. Mantapkan niat dalam hati. Memang luka seperti ini sulit atau bahkan tidak bisa dilupakan begitu saja. Karena itu adalah masalah hati, masalah kepercayaan.

 

Butuh waktu, bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk bisa lepas dari kesedihan itu. Pertama, hapuskan dulu pertanyaan “Mengapa?” “Kok dia bisa tega, ya?” atau “Bagaimana bisa?” dari hati ibu. Jangan mencari-cari jawaban tentang mengapa suami bisa tega berselingkuh di belakang, atau kenapa sampai bisa terjadi. Karena hal itu hanya akan menambah kesedihan dan bisa menjerumuskan dalam keterpurukan yang permanen.

 

Kedua; hilangkan perasaan menyalahkan diri sendiri, misalnya, apa karena saya kurang mampu melayani suami sehingga dia berselingkuh?. Buang pemikiran itu. Ibu sudah sangat terluka- bersedih, jangan ditambah lagi luka dan kesedihan ibu dengan menyalakan diri sendiri.

 

Ketiga, pusatkan perhatian Anda pada hal-hal yang positif. Misalnya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial di lingkungan ibu, membantu orang lain atau bisa juga mulailah belajar menulis. Pokoknya mulai sekarang jangan mau dikalahkan oleh masa lalu.

 

Keempat; baiknya Ibu terus mendekat kepada Allah. Dialah penolong. Dialah tempat mengadu. Dialah yang mampu membolak- balik juga mampu menenangkan hati manusia. Ceritakan semuanya kepada Allah, adukan semuanya, Jika ingin menangis, menangislah…!. Mohonlah ampun dan mintalah kepada-Nya agar bisa terlepas dari masalah itu, atau paling tidak mintalah agar beban masalah itu bisa menjadi ringan dalam hati.

 

Kelima; fokuskan hidup hanya untuk ibadah dan anak-anak. Fokus memperbaiki diri, lebih memperhatikan kebutuhan suami, melayani dengan ikhlas dan bersabarlah, jangan mau menyerah. Hidup tidak hanya di dunia, kelak setelah kita mati juga ada kehidupan kembali yang kekal dan selama-lamanya.

 

Mungkin kebahagiaan kadang tidak mau bersahabat dengan kita di dunia. Tapi berharaplah, berusahalah agar di kehidupan berikutnya kita bisa bergelimang kebahagiaan. Aamiin.

 

(Dijawab oleh Ustad Mahfudz, Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Lampung)


Editor:

Kiai Menjawab Terbaru