• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Selasa, 23 April 2024

Keislaman

Hakikat Hawa Nafsu adalah Netral

Hakikat Hawa Nafsu adalah Netral
Manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsu (Ilustrasi Foto: NU Online)
Manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsu (Ilustrasi Foto: NU Online)

Semua manusia memiliki hawa nafsu atau nafsu syahwat. Hawa nafsu sengaja diciptakan oleh Allah swt sebagai bekal manusia untuk menjalani kehidupan. Dan nafsu (jiwa) sendiri sebagai dasar penggerak dari segala aktivitas kehidupan manusia. 

 

Manusia akan hidup normal jika ada nafsu dan akan binasa jika tanpanya. Hawa nafsu yang ada pada diri manusia merupakan netral, tergantung manusia menjalankannya apakah nafsunya dituruti untuk kebaikan atau keburukan. Jika baik, maka nafsunya menjadi baik dan sebaliknya. 

 

Sebagai contoh, andaikata manusia dihilangkan nafsu makan, maka manusia tersebut akan mati. Dan jika yang dihilangkan nafsu seksual, maka ia tidak akan mempunyai keturunan. 

 

Senetral-netralnya nafsu, ia akan lebih condong kepada sesuatu yang disenangi, baik bersikap positif maupun negatif, baik bersifat jasmani maupun rohani. Karena perbuatan baik dan buruk digerakkan oleh nafsu itu sendiri. 

 

Maka kita sebagai manusia harus pandai mengontrol nafsunya ke jalan yang benar. Dan sebisa mungkin menghindari kepada jalan kemaksiatan, seperti tidak taat kepada Allah, menggampangkan shalat dan meninggalkannya. Juga segala sesuatu yang dilarang oleh Allah swt dan Nabi-Nya.  

 

Karena sifatnya suka kesenangan, kadang nafsu yang baik juga menjadi buruk. Contoh nafsu makan itu baik, akan tetapi ketika melampaui batas sampai kekenyangan, maka hukumnya bisa makruh dan jika menimbulkan sakit maka menjadi haram. 

 

Nafsu ibadah juga baik. Seperti menjalankan puasa. Tetapi ketika puasa sampai wisal (disambung sampai malam hari tanpa berbuka) maka hukumnya dilarang.  Atau puasa sunnah tapi sampai meninggalkan shalat wajib karena sangking lemesnya, maka itupun tidak baik. 

 

Nafsu ibadah shalat Tahajud itu juga baik. Akan tetapi sampai lemes ketiduran dan subuhnya kelewat maka itu juga kurang baik. Karena shalat Tahajud hukumnya sunnah sedangkan shalat Subuh hukumnya fardhu (wajib).

 

Maka kita harus bersikap adil dalam menjalankan nafsu. Andaikata nafsu baiknya ingin ditingkatkan maka harus melalui proses yang matang, yakni dengan mujahadah. Seperti orang yang terbiasa shalat malam. Awalnya mungkin hanya 2 rakaat, minggu berikutnya kuat sampai 8 rakaat. Dan bulan depan kuat sampai 16 rakaat. Tetapi kuncinya satu, yakni harus istiqamah. 

 

Maka wajar, jika dahulu bisa shalat sunnah malam sampai banyak, berpuluh-puluh rakaat karena kuncinya istiqamah. Tidak pernah putus. 

 

Sama dengan orang yang mencintai harta benda, maka nafsunya harus diiringi dengan sikap qanaah dan rasa syukur. Karena jika tidak maka dia akan mencari harta sampai melupakan Tuhannya. Ada yang korupsi, mencuri, memanipulasi, dan tidak pernah ibadah shalat sepanjang kerjanya. Nauzubillahi min dzalik

 

Karena nafsu jika dituruti maka akan menjerumuskan meski awalnya nafsu baik. Maka kita semua, berhati-hatilah dalam mengendarai hawa nafsu. Jadikanlah hawa nafsu atau syahwat sebagai kendaraan mendekatkan diri kepada Allah swt dan membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs). 

 

(Yudi Prayoga)


Keislaman Terbaru