• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 27 November 2022

Warta

Penyesalan Masa Lalu Kakanwil Kemenag Lampung saat Milad Ke-19 Pesantren Madarijul Ulum

Penyesalan Masa Lalu Kakanwil Kemenag Lampung saat Milad Ke-19 Pesantren Madarijul Ulum
Kakanwil Kemenag Lampung Puji Raharjo. (Foto: Istimewa)
Kakanwil Kemenag Lampung Puji Raharjo. (Foto: Istimewa)

Bandarlampung, NU Online Lampung
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung Puji Raharjo mengungkapkan penyesalannya saat hadir pada Milad Ke-19 Pesantren Madarijul Ulum Lampung pada Sabtu (4/6/2022). Dalam sambutannya ia merasa kurang serius dan tidak maksimal saat belajar di pesantren 30 tahun lalu.

"Saya menyesal kenapa tidak berprestasi seperti santri-santri Madarijul Ulum," katanya sambil menunjuk para santri yang meraih prestasi sebagai juara Musabaqah Qiraatul Kutub yang mendapatkan hadiah pada malam tersebut.

"Kalau waktu itu saya belajar sungguh-sungguh maka saya tidak jadi Kakanwil. Tapi bisa lebih dari itu," imbuh alumni Pesantren Tebuireng Jombang ini pada acara yang dibarengkan dengan wisuda Tahfidzul Quran santri pesantren tersebut.

Ia pun mengingatkan kepada para santri untuk terus belajar sungguh-sungguh dan meraih prestasi terbaik. Ilmu sangat penting diraih dan merupakan perintah Allah yang termaktub dalam Al Quran terutama ilmu-ilmu pengetahuan di bidang agama.

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya," katanya mengutip Al-Quran surat At-Taubah ayat 122 yang mengingatkan pentingnya belajar ilmu agama.

Ia juga mengingatkan kepada para santri bahwa mereka adalah generasi yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dan peradaban di masa depan. Pasalnya, para pemimpin dan ulama saat ini adalah juga seorang santri pada zamannya.

Mengutip maqalah Imam Syafii, Ia mengingatkan santri tentang pentingnya belajar. "Imam Syafii berkata: Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan ," katanya.

Puji pun menyampaikan apresiasinya kepada Pesantren Madarijul Ulum Bandarlampung yang sudah menjadi percontohan dalam mengintegrasikan pendidikan ilmu umum dan agama.

"Saya senang dan bangga pada pesantren Madarijul Ulum karena menjadi satu-satunya pesantren yang memiliki Ma'had Ali, konsisten di jalur pesantren dan tidak mengurangi animo masyarakat mengirimkan anaknya untuk belajar di sini," imbuhnya.

Sementara Pengasuh Pesantren Madarijul Ulum KH Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa pihaknya siap mencetak kader ulama melalui sistem pendidikan yang ada selama ini. Komitmen ini pun ditegaskan dalam tema yang diangkat pada Milad tersebut yakni "Menjadikan Madarijul Ulum Bandar Lampung sebagai Pesantren Unggul dan Mandiri melalui Pengembangan Pendidikan Kaderisasi Ulama".

"Target kami bukan sekedar hanya bisa ngaji tapi bisa menulis dan mengarang kitab. Karena tugas akhir di Ma'had Ali, para santri harus bisa mensyarah kitab," jelas Kiai Ihya yang juga Wakil Rais Pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung ini. (Muhammad Faizin)


Editor:

Warta Terbaru