• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Warta

Apakah Pelaksanaan Puasa 9 Dzulhijjah Harus Berdasarkan Wukuf di Arafah?

Apakah Pelaksanaan Puasa 9 Dzulhijjah Harus Berdasarkan Wukuf di Arafah?
Ilustrasi wukuf di Arafah
Ilustrasi wukuf di Arafah


Jakarta, NU Online Lampung
Perbedaan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1443 H di Arab Saudi dan Indonesia, memantik kembali perdebatan lama soal kapan puasa Arafah. Seperti diketahui, puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. 

 
Direktur Aswaja Center PWNU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin mengungkapkan, bagi pengikut rukyat global sampai mengejek dengan kata-kata puasa Arafah atau puasa Nusantara? Ada lagi yang menyatakan, puasa sunnah di Hari Raya Idul Adha dan sebagainya,” ungkap KH Ma’ruf Khozin, Jumat (1/7/2022) lewat akun facebooknya seperti dikutif NU Online


Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur itu mengajak masyarakat untuk meletakkan kembali masalah puasa Arafah tersebut. Apakah puasa Arafah berdasarkan tempat wukuf Arafah ataukah nama hari ke-9 Dzulhijjah?


Kiai Ma’ruf Khozin menjelaskan, Arafah adalah nama hari dan nama tempat. Sebelum ada wukuf Arafah nama pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah nama Arafah.


Dia mengutip penjelasan ulama Tafsir, Ar-Razi berikut:


اﻋﻠﻢ ﺃﻥ اﻟﻴﻮﻡ اﻟﺜﺎﻣﻦ ﻣﻦ ﺫﻱ اﻟﺤﺠﺔ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻴﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ، ﻭاﻟﻴﻮﻡ اﻟﺘﺎﺳﻊ ﻣﻨﻪ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻴﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ


"Ketahuilah bahwa hari ke 8 Dzulhijjah disebut hari Tarwiyah. Dan hari 9 disebut hari Arafah."


Kiai Ma’ruf Khozin yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Suramadu itu menjelaskan terkait penamaan Arafah yang ada banyak riwayat, diantaranya diambil dari kisah Nabi Ibrahim berikut:


ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ: ﺃﻥ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼﻡ ﺭﺃﻯ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻣﻪ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﻛﺄﻧﻪ ﻳﺬﺑﺢ اﺑﻨﻪ ﻓﺄﺻﺒﺢ ﻣﻔﻜﺮا ﻫﻞ ﻫﺬا ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻭ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ؟ ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺁﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﻋﺮﻓﺔ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﻪ ﺃﺻﺒﺢ ﻓﻘﺎﻝ: ﻋﺮﻓﺖ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺃﻧﻪ ﻣﻦ ﻋﻨﺪﻙ


"Kedua, bahwa ketika malam tanggal 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim as mendapat mimpi wahyu untuk menyembelih putranya, di pagi harinya Nabi Ibrahim masih berpikir-pikir tentang kebenaran mimpi itu apakah dari Allah atau datangnya dari syetan, keraguan dan berpikir ini dalam bahasa Arab adalah Tarwiyah. Pada malam tanggal 9 Dzulhijjah Nabi Ibrahim kembali bermimpi kejadian yang sama, perintah menyembelih putranya, maka Nabi Ibrahim mengetahui bahwa mimpi tersebut adalah wahyu Allah. ‘Mengetahui’ dalam bahasa Arabnya adalah ‘Arafa’. Di malam yang ke-10 Nabi Ibrahim bermimpi kembali, maka esok harinya Nabi Ibrahim bertekad menjalankan perintah Allah tersebut yang kemudian menyampaikannya kepada Nabi Ismail." (Tafsir Kabir ar-Razi, 5/324)


KH Ma’ruf Khozin juga memaparkan, dalil bahwa puasa Arafah sebelum pelaksanaan ibadah haji disampaikan oleh ulama ahli hadits Al-Hafidz Ibnu Hajar berikut:


ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ اﺧﺘﻠﻒ ﻧﺎﺱ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻲ ﺻﻮﻡ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻫﺬا ﻳﺸﻌﺮ ﺑﺄﻥ ﺻﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﺮﻭﻓﺎ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻣﻌﺘﺎﺩا ﻟﻬﻢ ﻓﻲ اﻟﺤﻀﺮ


"Diriwayatkan dari Malik bahwa para sahabat berbeda tentang puasa Nabi. Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah sudah dikenal di kalangan para sahabat dan mereka terbiasa untuk puasa saat berdomisili/tidak bepergian." (Fath Al-Bari, 4/237)


Lha kok tiba-tiba menyimpulkan puasa Arafah harus sesuai dengan wukuf Arafah?” ungkap KH Ma’ruf Khozin.


Senada, Direktur Rumah Fiqih Indonesia, Ustadz Ahmad Sarwat mengungkapkan bahwa selama ini dirinya tidak menemukan dalil yang mewajibkan puasa dengan cara ikut orang wukuf atau sebaliknya. “Karena kedua jenis ibadah itu disyariatkan secara terpisah dan sendiri-sendiri,” ujar dia dikutip NU Online dari rumahfiqih.com.


Ustadz Ahmad Sarwat menjelaskan, puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah sudah disyariatkan jauh sebelum Nabi Muhammad berhaji dan melaksanakan wuquf. Puasa itu menurut banyak riwayat telah mulai disyariatkan sejak tahun kedua hijriyah.


Di tahun tersebut, kata Ustadz Ahmad, ada beberapa jenis ibadah yang berbarengan disyariatkan, seperti puasa bulan Ramadhan, shalat Idul Fitri dan Idul Adha serta puasa tanggal 9 Dzulhijjah.


Sedangkan wukuf yang dilakukan oleh Rasulullah saw belum disyariatkan di masa itu. Sebab Nabi Muhammad dalam posisinya sebagai pembawa wahyu dari langit baru berhaji di tahun kesepuluh hijriyah. Ada rentang waktu kurang lebih sembilan tahun lamanya,” jelas Ustadz Ahmad Sarwat.


Hal itu, tambahnya, ketika di tahun-tahun kedua, ketiga hingga kesembilan Dzulhijah, Rasulullah saw dan para sahabat melaksanakan puasa sunnah, pada saat itu di Arafah tidak ada jamaah haji yang wuquf. Arafah saat itu kosong tidak ada ritual haji.


Kalau puasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah harus mengacu kepada acara ritual wuquf di Arafah, maka seharusnya Nabi Muhammad dan para sahabat tidak perlu berpuasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah,” papar Ustadz Ahmad Sarwat.


Warta Terbaru