• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 2 Desember 2022

Teras Kiai

Jejak Mashyur KH Gholib, Memberi Pendidikan Gratis Hingga Gugur Ditembak Belanda

Jejak Mashyur KH Gholib, Memberi Pendidikan Gratis Hingga Gugur Ditembak Belanda
KH Gholib
KH Gholib

KH GHOLIB adalah seorang ulama besar asal Pringsewu, Lampung, yang juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Keberaniannya menghadapi pasukan penjajah, membuat namanya amat terkenal di masa itu dan sangat ditakuti pihak musuh. Beliau merupakan komandan pasukan tentara Hizbullah yang gagah berani, berjuang melawan penjajahan Belanda serta Jepang.

 

Kiai Gholib dilahirkan pada tahun 1899 di Kampung Modjosantren, Krian, Jawa Timur. Ayahnya bernama K. Rohani bin Nursihan dan ibu Muksiti. Pada usia tujuh tahun, ibunya menyerahkan Gholib kepada Kiai Ali Modjosantren yang sangat masyhur di desanya untuk belajar ilmu agama.

 

Dari Kiai Ali, Gholib kecil mendapat pelajaran kajian Al-Qur’an, ilmu fiqih, tauhid, akhlak, dan sebagainya. Meski sudah banyak ilmu didapat, Gholib terus menuntut ilmu, diantaranya pada tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, KH’Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng, dan KH Kholil di Bangkalan Madura.

 

Berbekal ilmu dari sejumlah pesantren itu, Gholib mengembara untuk menyebarkan ilmunya ke berbagai kota. Diantaranya masuk ke beberapa kota di Jawa Timur, Sumatera, hingga ke Johor Malaysia, dan Singapura.

 

Saat menginjak dewasa, Gholib menikahi wanita bangsawan Jawa yang bernama Syiah’iyah. Namun mereka tidak dikaruniai keturunan. Pasangan itu mengasuh tiga anak angkat, yaitu Zamjali, Rubu’iyyah, dan Romlah.

 

Saat berada di Singapura, tahun 1927, Gholib bertemu dengan M. Anwar Sanpawiro, seorang Jawa yang sudah lama menetap di Pagelaran, Tanggamus, Lampung.

 

M. Anwar Sanpawiro menceritakan tentang kolonialisasi (transmigrasi), warga Jawa ke provinsi Lampung yang saat itu sedang marak.
 

Cerita M. Anwar membuat Gholib tertarik untuk hijrah pula ke Lampung. Bersama istrinya, Kiai Gholib berangkat menuju Lampung menggunakan kapal laut. Gholib dan istri tinggal sementara di rumah M. Anwar Sanpawiro.
 

Berikutnya, Kiai Gholib membeli sebidang tanah di sebelah utara pasar Pringsewu. Beliau mendirikan tempat tinggal berlantai tanah, berdinding geribik dan beratap alang-alang. Dia kemudian membangun sebuah masjid yang berlantaikan semen, berdinding papan dan beratap genteng, yang kini masih berdiri, dengan nama Masjid KH Gholib. Masjid ini digunakan sebagai tempat mengajarkan agama Islam kepada warga sekitar, mulai dari anak-anak, hingga orang tua.
 

Menurut penuturan salah seorang cucu KH Gholib,  Hj Farida Ariyani, majelis taklim yang dibangun si mbah kakung-nya (panggilan untuk Kiai Gholib), sejak awal berkembang cukup pesat. Kiai Gholib lalu mendirikan lembaga pendidikan, yang mulanya adalah sebuah madrasah dengan santri sebanyak 20 orang.

 

“Madrasah yang didirikan si mbah kakung itu sederhana dan cukup untuk belajar 20 orang. Bangunan itu terdiri atas tiga lokal berlantai tanah, berdinding geribik dan beratap genteng,” kata Farida.
 

Guru pertama di madrasah Kiai Gholib bernama H.M Nuh, berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Pada tahun 1942, di masa penjajahan Jepang, lembaga pendidikan milik sang kiai tetap berjalan terus dan mengalami kemajuan sangat pesat. Seiring berjalannya waktu, madrasah semakin maju ditandai dengan banyaknya santri dan juga hadirnya para guru madrasah, baik dari Jawa maupun dari Lampung. Kondisi itu menarik minat belajar.

 

“Dalam waktu singkat, santri yang belajar di sana lebih dari seribu orang, yang berasal dari Lampung, Palembang, Bengkulu dan Jambi,” ungkap Farida, yang juga dosen di Universitas Lampung itu.
 

Kompetensi yang dikembangkan di madrasah itu antara lain pandai berbahasa Arab, pandai ilmu Nahushorof, dan membaca Qur’an dengan fasih dan lagu yang merdu. Lembaga pendidikan itu juga mewajibkan seluruh siswa dan gurunya memelihara waktu ibadah, yaitu harus selalu sholat berjamaah di masjid. Setiap malam Jumat, dilakukan pembacaan berzanji dan marhaban.

 

Di madrasah, semua siswa belajar tanpa dipungut biaya. Para guru yang mengajar di sana dibayar sendiri oleh Kiai Gholib, termasuk makan sehari-hari saat mengajar. Bahkan bila guru dan keluarganya sakit, dapat dibawa ke poliklinik miliknya secara cuma-cuma. Banyak pula tamu yang datang untuk diminta didoakan dan dibantu mengobati penyakit, hingga menginap selama beberapa hari, juga tidak dipungut biaya.
 

Pejuang Kemerdekaan
 

Sementara kegigihan Kiai Gholib dalam melawan penjajah, dituturkan oleh cucu beliau yang lain, yaitu KH Syamsul. Gholib turut serta melawan penjajah baik pada masa sebelum maupun pasca kemerdekaan.
 

Dia tidak suka pada tindakan Jepang yang menindas, menyiksa, dan memeras rakyat Indonesia. Kiai Gholib menyiagakan pasukan mengusir Jepang dari tanah Pringsewu. Walaupun dengan senjata seadanya, seperti pedang, golok, keris, dan bambu runcing , mereka tak lelah menggempur basis-basis Jepang di sana.
 

Pada masa penjajahan Jepang, Gholib berkali-kali ditangkap militer. Jepang khawatir, ulama yang amat disegani itu mempengaruhi para ulama lainnya. Wajar saja tentara Jepang amat membencinya, karena selain kerap bertempur di medan perang, Gholib menolak ajakan Jepang untuk Dewa Matahari.


Ketika Jepang bertekuk lutut pada Sekutu, dan Belanda kembali masuk ke Pringsewu, Gholib lagi-lagi menyiagakan senjata demi mempertahankan kemerdekaan RI. Dia membentuk pasukan jihad pasukan Sabilillah Hisbullah yang diambil dari anak-anak didiknya, lalu dilatih menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Para anak didik itu berlatih cara berperang dari beberapa prajurit TNI, rekan seperjuangan Kiai Gholib.

 

Ketika agresi Belanda II tahun 1946, di Pringsewu, pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) ditempatkan di lingkungan pendidikan Kiai Gholib. Tokoh-tokoh tentara yang bermukim di tempat Gholib diantaranya Kapten Alamsyah Ratuprawiranegara (mantan Dubes RI untuk Belanda, menteri agama, menteri kordinator kesejahteraan rakyat di era orde baru) dan Mayor Effendy. KH Gholib ditetapkan sebagai pemimpin pasukan gerilya.

 

KH Gholib tidak hanya berperang melawan penjajah di daerah Pringsewu. Pada tanggal 8 Agustus 1947 hingga 20 Oktober 1948, pecah pertempuran di daerah Baturaja dan Martapura, Sumatera Selatan.
 

Pasukan Sabilillah dan Lasykar Hisbullah dipimpin Gholib dan Kapten Alamsyah Ratuprawiranegara, menuju ke lokasi bertarung sengit dengan Belanda. Banyak korban yang meninggal dunia dari kedua belah pihak.
 

Perjuangan belum selesai. Suatu ketika, 27 November 1949, usai sebuah perundingan damai antara tentara Belanda dan delegasi RI, di Kotabumi, Lampung Utara, terdengar kabar Belanda kembali masuk ke Bandar Lampung, dan juga masuk ke daerah Gading Rejo, tak jauh dari Pringsewu.

 

“KH Gholib bersama para tentara menghancurkan sebuah jembatan utama, agar pasukan Belanda tidak dapat masuk ke Pringsewu,” kata KH Syamsul.
 

Belanda tidak kehabisan akal. Mereka memutar arah melalui Kedondong, lalu ke Pagelaran. Pasukan penjajah mengepung dengan menghujani peluru ke tempat-tempat persembunyian para pejuang. Lagi-lagi banyak korban yang tewas. Suasana semakin tidak aman.

 

KH Syamsul menceritakan, tentara Belanda lalu mencari-cari simbah kakung itu. Gholib dan para pengikutnya memutuskan untuk bersembunyi di hutan-hutan.
 

Selama Gholib bersembunyi, Belanda terus merusak, menghancurkan, dan menjarah asetnya, seperti pesantren, rumah, mobil, pabrik tapioka, pabrik padi, poliklinik, dan sebagainya. Seorang guru (ustadz) yang dikenal dekat dengan KH Gholib dan tidak mau memberitahu dimana persembunyia sang kiai, tewas dibunuh Belanda.
 

Selama di persembunyian yang berpindah-pindah, KH Gholib selalu galau memikirkan nasib warga Pringsewu. Suatu ketika, usai sholat idul fitri, Gholib memutuskan untuk pulang. Apalagi dia menderita sakit dan sempat lumpuh.
 

Kabar pulangnya pria ganteng dan berkumis tebal itu, cepat sampai ke telinga pasukan Belanda. Gholib disergap macan loreng, pasukan khusus kaki tangan penjajah saat itu, kemudian dibawa ke gereja Katholik Pringsewu, yang saat itu dipakai sebagai markas tentara Belanda.
 

Gholib ditahan selama 15 hari. Dia dibebaskan karena ada persetujuan untuk gencatan senjata. Pada 6 November 1945, bertepatan dengan 16 Syawal 1968, pukul 01.00 WIB dinihari, Gholib berjalan pulang meninggalkan penjara. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, sang kiai ditembak dari belakang. Beliau gugur seketika. (Ila Fadilasari)
 


Editor:

Teras Kiai Terbaru