• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 26 Mei 2022

Teras Kiai

Strategi Dakwah Ala Kiai Basith

Strategi Dakwah Ala Kiai Basith
KH Abdul Basith selalu bersemangat dalam berdakwah
KH Abdul Basith selalu bersemangat dalam berdakwah

KH ABDUL BASITH  atau lebih akrab dipanggil dengan Kiai Basith, merupakan sosok yang selalu bersemangat dan kreatif  dalam berdakwah dan mengajar agama.  

 

Dalam berdakwah, beliau memiliki strategi sendiri.  Menurutnya, berdakwah itu bukan memerintah, melainkan mengajak.  Dakwah itu harus “Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil-ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan”, Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

 

“Berdakwah itu sifatnya harus bisa merayu agar orang lain agar tertarik. Setelah tertarik mereka akan bersama kita dalam amar ma’ruf nahi munkar,  sehingga semuanya bisa menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam,” kata Mustasyar MWCNU Kedaton, Bandar Lampung itu kepada NU Lampung Online.

 

Menurut Kiai Basith,  seorang pendakwah harus bisa mengkorelasikan dengan yang didakwahi. Kalau tidak bisa melihat korelasi maka yang maling akan tetap maling, yang tidak shalat tetap akan tidak shalat meskipun kita sudah mendakwahi.

 

Dia memiliki beberapa metode dalam berdakwah. Diantara dengan mengajar, berkhutbah, mengisi seminar, talk show, mengarang kitab, mengadakan pelatihan, hingga membaca puisi.

 

Bila sedang mengisi pengajian atau ceramah, beliau selalu menggunakan kitab kuning bahkan kadang dengan kitab karangannya sendiri sebagai rujukan. Hal itu dilakukan agar semua yang disampaikan ada dasar hukum yang kuat. Dan tak kalah penting, agar tausyiahnya pun ada batasan, sehingga tidak melebar jauh kemana-mana.

 

Selain mengisi pengajian dan ceramah, Kiai Basith juga kerap diundang sejumlah pesantren untuk membacakan puisi yang beliau karang sendiri. Setiap kali beliau membaca puisi, penuh dengan penghayatan dan menyentuh jiwa yang mendengarnya.

 

Dalam mengajar agama, Kiai Basith yang merupakan salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandar Lampung ini, lebih banyak memberikan metode praktis kepada para santri dan siswa dalam memahami ilmu agama. 

 

Para santrinya mengakui beliau merupakan guru yang menginspirasi dan telaten dalam mengajar dan membimbing santri-santri. Lewat tangannya,  sudah banyak para santri bisa membaca kitab kuning, melalui sorogan (membaca kitab dan langsung disimak oleh guru).

 

Kadang sang kiai membuat tabel, ringkasan, dan rumus yang mudah diterima dan dipahami. Dia pun banyak menulis buku untuk memudahkan dakwah dan mengajar.  Dengan metode penyusunan buku maupun pola pengajarannya,  banyak santri yang berantusias mengikuti kajian, bahkan membeli bukunya.

 

Selain memiliki kreatifitas dalam mengajar,  beliau sangat disiplin terhadap waktu.  “Gaji guru itu bisa menjadi subhat ketika banyak mengkorupsi waktu alias mengulur waktu serta tidak disiplin,” kata ayah dari empat putera itu.

 

Salah seorang mahasiswa Kiai Basith ketika masih mengajar di UIN Raden Intan, Miftah, mengatakan,  beliau sosok yang disiplin dalam waktu. “Ketika mengajar pukul 7, maka sebelum jam 7 beliau sudah berada berada di depan kelas,” ucap Miftah.

 

Ayah empat anak ini juga merupakan sosok yang seperti tak kenal lelah. Penulis pernah menyaksikan, suatu ketika Kiai Basith baru pulang dari Jawa, beliau langsung mengajar di madrasah, tanpa berganti baju. Hal itu karena beliau  khawatir bila berganti baju terlebih dahulu, akan mengurangi jam belajar yang merupakan hak para siswa.

 

Kiai Basith lahir di Desa Gulan Tepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada 8 Agustus 1968. Dari kedua orang tuanya, Kiai Basith memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu terutama ilmu agama. Tidak ada kata lelah dan menyerah untuk berhenti menuntut ilmu.

 

Ketika sedang nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Basith bertemu dengan seorang wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya, yakni Nyai Siti Masithah, putri dari KH Muhammad Sobari, yang merupakan pengasuh pondok pesantren Al Hikmah Bandar Lampung.

 

Setelah menikah pada tahun 2002, anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan H Abdullah Marlan dan Sulaikah itu, tidak diperkenankan kembali ke Jawa, harus menetap di Lampung. Tujuannya, agar ikut mengembangkan madrasah dan pondok pesantren Al Hikmah yang telah dirintis dan didirikan oleh mertuanya tersebut.

 

Selain  berdakwah dan mengajar,  beliau menulis berbagai karya pada beberapa disiplin ilmu agama. Diantaranya seputar Nahwu, Sorof, Fiqih, Falak, ilmu Qur’an, kamus, faraid, tajwid dan bahkan puisi.

 

Beberapa karyanya adalah Syair Nahwu (2003), Syair Tajwid (2005), Al-Mahhumus Sholihi liljihadi fil Islam (2008),  Tashirul Qira’at (2015) dan Fiqh Ibadah Antar Madzhab (2016). Kemudian Nahwu at-Thathbiqi (2018), Hujjah Ahlussunnah wal Jama’ah 2 Jilid (2018), Fiqh Wanita tentang Istihadzah (2020),  dan masih banyak lagi.

 

Dari banyaknya karya yang sudah disusun, menandakan bahwa beliau gemar membaca dan menulis serta peka terhadap gejolak permasalahan di masyarakat. Kiai Basith pernah mengatakan alasannya menulis adalah karena permintaan masyarakat dan santri-santrinya.

 

“Mayoritas ulama menulis kitab atau buku atas desakan masyarakat pada masanya, karena berbagai hal dan keadaan yang sangat dibutuhkan.  Salah satu kiai yang menjadi inspirasi saya untuk menulis kitab dan berbagai karya adalah guru saya,  yaitu Kiai Sya’roni Ahmadi Kudus,” katanya .

 

Diantara karya Kiai Basith yang paling fenomenal adalah Fiqh Wanita tentang Istihadzah yang ditulis atas dasar berbagai pertanyaan seputar haid dari para santri dan masyarakat. Beliau menulisnya pertanyaan tersebut lalu menjelaskan jawabannya dengan merujuk pada sejumlah kitab. Buku tersebut sudah diseminarkan dan diajarkan di berbagai pesantren dan acara-acara yang diadakan oleh berbagai kelompok.

 

Atas jasanya sebagai pendakwah yang inspiratif dalam menyiarkan agama Islam, Kiai Basith pernah mendapat KNPI Award  dari  Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lampung bidang keagamaan pada 29 Desember 2007 lalu.

 

(Yudi Prayoga, Kontributor NU Online Lampung)

 

 

 

 


Teras Kiai Terbaru