• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 18 Mei 2024

Syiar

Keutamaan dan Tata Cara Shalat Sunnah Syawal

Keutamaan dan Tata Cara Shalat Sunnah Syawal
Ilustrasi shalat (Foto: NU Online)
Ilustrasi shalat (Foto: NU Online)

Pada bulan Syawal ini umat Islam dapat melaksanakan shalat sunnah Syawal, selain melaksanakan puasa sunnah Syawal selama enam hari yang sudah umum dilakukan. Keutamaan shalat sunnah Syawal atau disebut juga shalat Utaqa itu adalah diampuni dosa-dosa bagi yang mengerjakannya.


Disebut shalat Utaqa artinya pembebasan. Allah swt akan membebaskan orang yang mengamalkannya dari impitan utang dan Allah akan memudahkan hajat mereka.


Shalat sunnah Syawal adalah shalat sunnah mutlak sebanyak delapan rakaat, yang dilaksanakan pada bulan Syawal. Shalat sunnah ini masih termasuk jarang diketahui dan dilakukan oleh umat Muslim.


Penjelasan tentang shalat sunnah Syawal ini dijelaskan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani berdasarkan pada hadits dalam kitabnya Al-Ghunyah. Siapa yang mendirikan shalat ini sesuai tata caranya, maka akan diampuni dosa-dosanya sebelum ia mengangkat kepala setelah sujudnya, dan andaikan dia mati, maka dia mati dalam keadaan syahid yang dosanya telah diampuni.


Syekh Abdul Qadir menyatakan, seorang hamba yang melaksanakan shalat ini dalam keadaan bepergian, maka Allah mudahkan baginya perjalanannya hingga tempat yang dituju. Andaikan ia memiliki utang, maka utangnya akan terbayar; dan seandainya ia memiliki kebutuhan, Allah akan memenuhi kebutuhannya.


Adapun tata cara shalat sunnah Syawal yaitu:

 
  1. Shalat sunnah dilakukan delapan rakaat, bisa dilaksanakan pada siang ataupun malam hari.
  2. Dilaksanakan dengan empat kali salam, artinya masing-masing dua rakaat.
  3. Pada setiap rakaat membaca al-Fatihah dan surat al-Ikhlas sebanyak 15 kali.
  4. Setelah delapan rakaat selesai dilakukan, lanjut dengan membaca tasbih (subhanallah wa bi hamdihi, subhanallahil adhim) 70 kali, dan shalawat (allahumma shallli ‘ala sayyidina Muhammad) 70 kali.
  5. Dilanjutkan dengan membaca doa.


Selengkapnya pernyataan Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah sebagai berikut:


 حدثنا أبو نصر بن البناء عن والده قال: حدثنا أبوعبد الله الحسين بن عمر العلاف، قال: أخبرنا أبو القاسم القاضى قال: حدثنا محمد بن أحمد بن صديق قال: حدثنا يعقوب بن عبد الرحمن قال: أنبأنا أبو بكر أحمد بن خعفر المروزى، قال: حدثنا على ابن معروف قال: حدثنى محمد بن محمود قال: أخبرنا يحيى بن شبيب قال: حدثناحميد عن أنس رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((من صلى فى شوال ثمان ركعات ليلا كان او نهارا يقراء فى كل ركعة بفاتحة الكتاب وخمس عشرة (قل هو الله أحد ...) فاذا فرغ من صلاته سبح سبعين مرة وصلى على النبي صلى الله عليه وسلم سبعين مرة، قال النبي صلى الله عليه وسلم: والذى بعثنى بالحق ما من عبد يصلى هذه الصلاة الا أنبع الله له ينابيع الحكمة فى قلبه وأنطق به لسانه وأراه داء الدنيا ودواءها، والذى بعثنى بالحق من صلى هذه الصلاة كما وصفت لايرفع رأسه من أخر سجدة حتى يغفر الله له، وان مات مات شهيدا مغفورا له، و ما من عبد صلى هذه الصلاة فى السفر إلاسهل الله عليه السير والذهاب الى موضع مراده, وان كان مديونا قضى الله دينه، وان كان ذا حجة قضى الله حوائجه، والذى بعثنى بالحق ما من عبد يصلى هذه الصلاة إلا أعطاه الله تعالى بكل حرف وبكل أية مخرفة فى الجنة قيل وما المخرفة يا رسول الله قال صلى الله عليه وسلم بساتين فى الجنة يسير الراكب فى ظل شجرة من أشجارها مائة سنة ثم لايقطعها 


Artinya: Diceritakan dari Anas ra, dia berkata bahwasannya Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa shalat di bulan Syawal sebanyak delapan rakaat baik dilakukan malam hari maupun siang hari yang mana di setiap rakaatnya membaca al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas sebanyak lima belas kali, setelah delapan rakaat tersebut kemudian dilanjut dengan membaca tasbih (subhanallah wa bi hamdihi, subhanallahil adhim) tujuh puluh kali dan shalawat (allahumma shallli ‘ala sayyidina Muhammad) tujuh puluh kali. Maka demi Dzat yang telah mengutusku, Allah akan mengalirkan hikmah (kebijaksanaan/kebenaran) dalam hati yang diungkapkan melalui lisan seorang hamba yang telah melaksanakan shalat ini, dan Allah akan tunjukkan kepada dia penyakit-penyakit dunia serta obatnya. Dan demi Dzat yang telah mengutusku, barangsiapa yang mendirikan shalat ini sesuai tata caranya, maka akan diampuni dosa-dosanya sebelum ia mengangkat kepala setelah sujudnya, dan andaikan dia mati, maka dia mati dalam keadaan syahid yang dosanya telah diampuni. Dan tiada seorang hamba yang melaksanakan shalat ini dalam keadaan bepergian, kecuali Allah mudahkan baginya perjalanannya hingga tempat yang dituju. Andaikan ia memiliki utang, maka utangnya akan terbayar. Seandainya ia memiliki kebutuhan, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan demi Dzat yang telah mengutusku, tiada seorang hamba yang menjalankan shalat ini kecuali Allah berikan untuknya di setiap huruf dan ayatnya sebuah makhrafah di surga nantinya. Kemudian dipertanyakan, ‘Apakah makhrafah itu, ya Rasul?’ Rasulullah menjawab, ‘Makhrafah adalah dua ekor domba yang mempermudah penunggangnya mengelilingi (kebun penuh) pepohonan yang tidak pernah dipotong selama seratus tahun).’ (Ila Fadilasari)
 


Syiar Terbaru