• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Syiar

Dua Adab yang Perlu Diperhatikan Oleh Orang yang Berpuasa

Dua Adab yang Perlu Diperhatikan Oleh Orang yang Berpuasa
foto Ustadzah Siti Masyithah, M.Pd
foto Ustadzah Siti Masyithah, M.Pd

Oleh: Ustadzah Siti Masyithah, M.Pd

 

Berpuasa bukan hanya sekedar meninggalkan makan dan minum serta menahan syahwat saja, akan tetapi lebih dari itu. Karena puasa saja belum cukup tanpa memperhatikan adab dan tata krama selama berpuasa. Jika tanpa adab, khawatir puasa kita menjadi sia-sia belaka. Rasulullah saw bersabda:

 

 كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش

 

Betapa banyak orang yang berpuasa tapi hanya mendapatkan rasa lapar dan haus karena puasanya (tanpa mendapat pahala).”

 

Dalam kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali, menyebutkan bahwa ada dua adab yang wajib diperhatikan agar orang yang berpuasa tetap mendapat kesempurnaan dalam puasanya:

 

Pertama, menjaga seluruh anggota tubuh dari semua hal yang dilarang dan dibenci syara’. Sempurnanya puasa adalah dengan menahan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang tidak disukai Allah Ta’ala, seperti menjaga mata dari menatap sesuatu yang tidak pantas menurut syara’, menjaga lisan dari ucapan yang tidak semestinya, menjaga telinga dari mendengar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. 

 

Sesuatu yang sering kita lakukan namun tanpa kita sadari, justru kita menjadi pemantik dari maksiat tersebut, yakni selalu menjadi pendengar dari orang yang berbicara buruk dan maksiat. Ini seperti istilah tidak ada asap jika tidak ada api. Karena tidak akan terjadi suatu perbincangan buruk tanpa ada pendengarnya, bukankah begitu? Seperti inilah yang harus kita perhatikan, apakah kita benar-benar sudah menjaga semua adab atau hanya sekedar menahan makan dan minum semata. Meski dalam rukun berpuasa, hal-hal semacam itu tidak membatalkan puasa, hanya saja membatalkan pahala berpuasa. 

 

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

خَمْسٌ يُفْـطِرْنَ الصَّائِمَ: الْكَـذِبُ، وَالْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ، وَالْيَمِيْنُ الْكَـاذِبُ

 

Lima hal yang membatalkan pahala puasa: kebohongan, ghibah, adu domba, melihat dengan syahwat dan sumpah palsu”.


Dari redaksi ayat di atas dapat disimpulkan bahwa ketika bulan puasa kita wajib menghindari dari sifat berbohong, menyebar berita hoax lewat media sosial, caci maki, lewat IG, FB, dan sebagainya. Kemudian kita harus menghindari dari ghibah, yakni membicarakan tentang keburukan saudara sesama muslim meski perkataan tersebut benar.


Selain ghibah, kita juga diwajibkan untuk menghindari namimah, mengadu domba antara orang satu dengan yang lain. Untuk zaman sekarang banyak yang melakukan adu domba dan provokasi lewat medsos. Mengedit satu foto atau video kemudian dibenturkan dengan kelompok sebelah atau ormas tertentu. Hal semacam ini sudah sangat meresahkan warganet Indonesia akhir-akhir ini.


Kemudia dilarang melihat sesuatu yang diharamkan oleh agama, juga melihat sesuatu yang dihalalkan, tetapi dengan pandangan penuh syahwat, dan ia menikmati pandangan tersebut. Dan yang terakhir hindarilah bersumpah palsu. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:  

 

إنما الصوم جنة فإذا كان أحدكم صائماً فلا يرفث ولا يجهل فإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل إني صائم إني صائم
 

Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh. Dan apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencelanya, maka katakanlah “aku sedang puasa”.

 

Kedua, berbuka dengan tidak berlebihan. Jangan sampai kita berbuka dengan melahap semuanya, seolah ingin mengganti apa yang tidak bisa dimakan selama siang hari di saat berpuasa. Sehingga terlihat bahwa jatah makan yang mestinya dimakan dua kali menjadi sekali makan. Padahal maksud dari berpuasa adalah memecah nafsu dan melemahkannya agar patuh dalam ketakwaan.

 

Jika kita makan berlebihan ketika berbuka puasa, maka dampaknya akan buruk pada kesehatan lambung, sehingga tidak ada kemanfaatan yang bisa dirasakan lambung karena berpuasa. Dan Allah sangat membenci orang yang perutnya terlalu dipenuhi dengan makanan meskipun makanan yang halal. Lalu bagaimana nasib kita di mata Allah jika dipenuhi dengan makanan yang haram?

 

Ketika kita memahami makna dan hikmah dari berpuasa, seharusnya membuat kita lebih memperbanyak ibadah yang bermanfaat didalamnya. Karena beribadah ketika bulan puasa mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits qudsi:

 

كل حسنة بعشر أمثالها الى سبعمائة ضعف الا الصيام، فانه لي وأنا أجزى

 

Amal setiap orang balasannya dilipatgandakan, setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang langsung membalasnya.”

 

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda: 

 

والذي نفسي بيده ، َلَخُلُوفُ فِم الصائم أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، إنما يذر شَهْوَتَهُ وطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أجْلِيْ، فالصوم لي وأنا أجزى به. 

"Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kasturi. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

 

Sehingga apabila kita dapat memaksimalkan puasa dengan sebaik-baiknya, seperti tetap menjaga adab-adab ketika sedang berpuasa, maka Allah akan memberikan kabar gembira berupa surga yang khusus, sebagaimana Nabi saw bersabda:

 

عن سهل بن سعد -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: إن في الجنة بابا يقال له: الرَّيَّانُ، يدخل منه الصائمون يوم القيامة، لا يدخل منه أحد غيرهم، يقال: أين الصائمون؟ فيقومون لا يدخل منه أحد غيرهم، فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحد

 

Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang bernama Ar-Rayyān yang khusus untuk orang-orang yang berpuasa. Pintu ini tidak dimasuki oleh selain mereka. Barangsiapa yang selalu menjaga puasa fardu dan sunah, maka pada hari kiamat kelak para malaikat akan memanggilnya dari pintu itu. Jika mereka sudah masuk, maka setelah itu tidak ada seorang pun yang bisa masuk melalui pintu itu.”

 

Penulis adalah Ketua Jam'iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah (JP3M) Bandar Lampung.


 


Syiar Terbaru