• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 20 Juni 2024

Syiar

9 Syarat Melakukan Tawaf dalam Ibadah Haji

9 Syarat Melakukan Tawaf dalam Ibadah Haji
Ilustrasi tawaf (Foto: NU Online)
Ilustrasi tawaf (Foto: NU Online)

Tawaf (thawaf) adalah salah satu rukun dalam melaksanakan ibadah haji, sehingga harus betul-betul dipahami oleh jamaah haji sebelum melaksanakannya. Tawaf secara bahasa artinya adalah berputar, sedangkan secara istilah adalah berputar mengelilingi Ka’bah. 


Tawaf dalam ibadah haji dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 29 berikut:


 وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ (الحج: 29)


Artinya: Hendaknya mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).


Tawaf  itu ada lima macam. Pertama, tawaf ifadlah. Kedua, tawaf qudum. Ketiga, tawaf wada’. Keempat, tawaf sunnah. Kelima, tawaf umrah. 


Tawaf ifadlah inilah yang merupakan bagian dari rukun-rukun haji, yang bila ditinggalkan, hajinya tidak sah, tidak bisa diganti dengan denda (dam).


Waktu pelaksanaan tawaf ini, yang utama ialah pada tanggal 10 Dzulhijjah sesudah melempar jumrah aqabah dan tahallul. Sedangkan waktu lainnya ialah sesudah tengah malam 10 Dzulhijjah, atau sesudah terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah keluarnya matahari di tanggal 10 Dzulhijjah.


Tidak ada batasan waktu untuk akhir pelaksanaan tawaf ini, tetapi sebaiknya dilaksanakan sebelum berakhirnya hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).


Tawaf umrah merupakan rukunnya ibadah umrah yang apabila ditinggalkan berkonsekuensi sama dengan tawaf ifadlah. Tawaf qudum hukumnya sunnah, dilakukan saat seseorang memasuki kota Makkah. 


Kemudian tawaf wada’ termasuk dari kewajiban-kewajiban haji, yang bila ditinggalkan maka berdosa dan wajib diganti dengan denda (dam), namun tidak sampai menyebabkan rusaknya haji.  


Sedangkan tawaf sunnah merupakan ibadah yang dianjurkan bagi setiap orang yang masuk Masjidil Haram sebagai bentuk penghormatan kepada Masjidil Haram. Sebagaimana tawaf qudum, tawaf ini tidak wajib, andaikan ditinggalkan tidak berdampak rusaknya haji, tidak pula berkonsekuensi kewajiban membayar dam. 


Dilansir dari NU Online, dalam pelaksanaannya, tawaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 


Pertama, suci dari najis dan hadats (kecil maupun besar).

Saat melakukan tawaf, harus suci dari hadats kecil dan besar. Demikian pula badan, pakaian dan tempat yang dilalui harus suci dari najis. Bila di tengah tawaf berhadats atau terkena najis, maka harus bersuci dan menghilangkan najisnya terlebih dahulu, kemudian melanjutkan putaran dari tempat ia mulai berhadats atau terkena najis. Dan lebih utama untuk mengulangi tawaf dari awal. 


Kedua, menutup aurat. 

Orang tawaf auratnya harus tertutup, bila di tengah putaran tawaf, auratnya terbuka, maka wajib untuk segera ditutup dan melanjutkan putaran tawaf dari titik saat auratnya terbuka. Bagi orang yang tidak mampu menutup aurat, boleh untuk tawaf dengan membuka auratnya dan tidak wajib mengulangi. 


Ketiga, memulai tawaf dari hajar aswad.

Start awal tawaf terhitung dari hajar aswad, sehingga tidak dianggap sah jika memulai sebelum sampai hajar aswad. 


Keempat, menyejajarkan pundak kiri dengan hajar aswad di awal dan akhir putaran. 

Memulai tawaf wajib dengan cara menyejajarkan pundak kiri dengan hajar aswad, tidak diperbolehkan saat memulai putaran tawaf, bagian dari pundak kiri lebih maju dari posisi hajar aswad. Demikian pula saat mengakhiri putaran tawaf, pundak kiri disejajarkan dengan hajar aswad sebagaimana saat memulai putaran tawaf atau lebih maju sedikit hingga sampai arah pintu Ka’bah, agar seluruh bagian Ka’bah secara yakin tawaf merata di seluruh bagian Ka’bah. 


Kelima, menjadikan Ka’bah di sebelah kiri.

Seseorang harus selalu memastikan bahwa Ka’bah berada di sebelah kirinya di setiap langkah tawafnya, sehingga jika di tengah putaran tidak sesuai posisi tersebut, wajib segera ke posisi yang benar dan melanjutkan hitungan putaran tawaf dari tempat tersebut.


Keenam, semua anggota badan dan pakaian berada di luar bangunan Ka’bah, Syadzarwan dan Hijr Isma’il. 

Saat tawaf, semua anggota badan dan pakaian orang yang tawaf, harus berada di luar bangunan-bangunan tersebut. Apabila di pertengahan putaran tawaf anggota badan berada di dalam kawasan-kawasan tersebut, maka tidak dihitung putaran tawaf, ia wajib segera berada di posisi yang benar dan melanjutkan jumlah putaran tawafnya. 


Ketujuh, tawaf sebanyak tujuh kali putaran.

Tawaf harus dilakukan secara yakin sebanyak tujuh kali putaran, jika ragu-ragu, maka mengambil bilangan yang paling sedikit untuk selanjutnya menambah jumlah putarannya, sebagaimana keraguan dalam rakaat shalat. Keraguan yang timbul setelah selesai tawaf, tidak berpengaruh dalam keabsahan tawaf. 


Kedelapan, tidak bertujuan selain tawaf saat berputar.

Di sepanjang langkah putaran tawaf, tidak boleh ada tujuan lain yang mengalihkan dari tujuan tawaf, seperti berjalan dengan cepat untuk menghindari persentuhan dengan lawan jenis, menghindari penagih hutang dan semacamnya, maka tidak sah. 


Kesembilan, berada di dalam Masjidil Haram.

Posisi orang yang tawaf tidak boleh keluar dari bagian Masjidil Haram, meski terdapat perluasan masjid, hukumnya tetap sah melaksanakan tawaf di dalamnya asalkan masih termasuk bagian dari Masjidil Haram.


Sebagian ulama menyaratkan juga tidak boleh keluar dari tanah haram saat tawaf, namun menurut sebagian yang lain, di antaranya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami tetap sah meski dilakukan di luar tanah haram asalkan masih berada di kawasan Masjidil Haram.


Bagi orang yang sedang berihram, tidak disyaratkan niat dalam pelaksanaan tawaf, karena sudah tercakup dalam niat ihram haji/ umrah, hukum niat tawaf adalah sunnah. Sedangkan untuk orang yang tidak sedang berihram, maka disyaratkan niat tawaf saat memulai putaran tawaf.
 


Syiar Terbaru