• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 20 Juni 2024

Syiar

Penjelasan tentang Wukuf di Arafah dan Doa yang Dibaca

Penjelasan tentang Wukuf di Arafah dan Doa yang Dibaca
Ilustrasi wukuf (Foto: NU Online)
Ilustrasi wukuf (Foto: NU Online)

Wukuf sering disebut sebagai puncak pelaksanaan ibadah haji. Wukuf artinya berdiam diri atau berhenti di Arafah dalam keadaan ihram tanggal 9 Dzulhijjah atau sehari sebelum hari raya Idhul Adha. 


Wukuf menjadi pembeda haji dan umrah. Dalam hadits disebutkan haji adalah Arafah. Karena itu, wukuf adalah rukun haji paling utama.


Dilansir dari NU Online, Imam An-Nawawi dalam kitab yang ditulis khusus perihal haji dan umrah, Al-Idhah fi Manasikil Hajji, menyebutkan dua wajib wukuf yang harus diperhatikan oleh jamaah haji. Pertama, waktu wukuf. Kedua, syarat wukuf. 


أحدهما كونه في وقته المحدود وهو من زوال الشمس يوم عرفة إلى طلوع الفجر ليلة العيد 


Artinya: Pertama, keadaan wukuf dilakukan pada waktunya yang telah ditentukan, yaitu sejak gelincir matahari (Zuhur) hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai terbit fajar (Subuh) malam Idul Adha atau 10 Dzulhijjah. 


Perihal waktu pelaksanaan wukuf didasarkan pada hadits nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ad-Dailami berikut ini:


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ قَالَ شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ نَاسٌ فَسَأَلُوهُ عَنْ الْحَجِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ رواهأحمد وأبو داود والترمذى والنسائى وابن ماجه والحاكم والبيهقى والديلمى 


Artinya: Dari sahabat Abdurrahman bin Ya’mar ra, aku menyaksikan Rasulullah saw didatangi para sahabat. Mereka bertanya perihal haji. Rasulullah saw menjawab, “Haji itu Arafah. Siapa saja yang mendapati malam Arafah sebelum terbit fajar malam Muzdalifah (malam Idul Adha), maka sempurnalah hajinya” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ad-Dailami). 


Imam An-Nawawi menambahkan, jamaah haji yang berada di Arafah pada rentang waktu wukuf yang telah ditentukan meski sejenak dianggap sah wukufnya dan dianggap telah melaksanakan ibadah haji. Adapun, jamaah haji yang tidak berada di Arafah pada rentang waktu yang ditentukan telah luput wukuf dan sekaligus luput ibadah hajinya sehingga ia tetap berkewajiban haji pada tahun-tahun yang akan datang. 


Kemudian dalam melaksanakan wukuf juga harus diperhatikan. Seseorang yang melaksanakan wukuf harus memenuhi syarat ibadah, bukan orang yang pingsan atau gangguan jiwa. Jamaah haji di bawah umur atau jamaah haji yang tertidur di Arafah tetap dianggap sebagai ahli ibadah.


والثانى كونه أهلا للعبادة وسواء فيه الصبي والنائم وغيرهما 


Artinya: Kedua, jamaah haji tersebut merupakan ahli ibadah, baik itu anak-anak, orang tidur, maupun selain keduanya (Imam An-Nawawi, Al-Idhah: 147).


Jamaah haji yang ahli ibadah dan mengalami rentang waktu wukuf yang telah ditentukan pada sepetak tanah Arafah dianggap telah melaksanakan wukuf meski hanya sebentar, dan sambil melaksanakan akvitas lain seperti jual-beli, berkendara, sambil tidur, lalai, bercakap-cakap, dan lain sebagainya. 


Meski wukuf diartikan sebagai berhenti atau berdiam diri, namun bukan berarti jamaah haji benar-benar diam tidak melaksanakan ibadah atau kesunnahan tertentu. Pada saat wukuf, jamaah haji disunnahkan memperbanyak doa dan zikir.


Rasulullah saw mengatakan, “Doa paling utama ialah doa hari Arafah,” (HR Malik)


Al-Mawardi dalam Al-Hawil Kabir menjelaskan, di antara doa yang sering dibaca Rasul saat wukuf di Arafah ialah.


لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي قَلْبِي نُورًا اللَّهُمَّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الصَّدْرِ وَمِنْ سَيِّئَاتِ الْأُمُورِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ وَشَرِّ مَا يَلِجُ فِي النَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَشَرِّ بَوَائِقِ الدَّهْرِ 


Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîkalah. Lahul mulku walahul hamdu wa hua alâ kulli syai’in qadîr. Allâhummaj‘al fî sam‘î nûrâ, wa fî basharî nûrâ, wa fî qalbî nûrâ. Allâhummasyrah lî shadrî, wa yassir lî amrî. Allâhumma innî a‘ûdzu bika min wasâwisis shadri, wa min saayi’âtil umûr, wa min adzâbil qabri. Allâhumma innî a‘ûdzu bika min syarri mâ yaliju fil lail, wa syarri mâ yaliju fin nahâr, wa syarri mâ tahubbu bihir rîhu, wa syarri bawâ’iqid dahri. 


Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah swt dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki kekuasaan dan berhak atas setiap pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Tuhanku, jadikanlah pendengaranku, penglihatanku, dan hatiku bercahaya. Lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku. Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan hati, perkara yang buruk, dan dari azab kubur. Aku juga berlindung dari kejahatan yang datang di malam hari dan siang hari. Aku berlindung dari kejahatan yang dibawa angin dan kejelekan zaman.


Selain memperbanyak doa dan zikir, jamaah dianjurkan pula membaca Surat Al-Hasyr sebanyak-banyaknya. Al-Mawardi dalam Al-Hawi mengatakan.


وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْحَشْرِ فَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ 


Artinya: Disunahkan membaca Surat Al-Hasyr sebanyak-banyaknya karena ada riwayat dari Ali bin Abu Thalib tentang hal itu.


Al-Mawardi menambahkan:


وَيَجْتَهِدُ فِي الدُّعَاءِ لِأَنَّهُ أَعْظَمُ الْأَيَّامِ الَّتِي تُرْجَى فِيهَا الْإِجَابَةُ، وَرَوَى ابْنُ الْمُسَيِّبِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ - قَالَ: " مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ أَنْ يَعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَدَدًا مِنَ النَارِ مِنْ يَوْمِ عرفة 


Artinya:  Hendaklah bersungguh-sungguh dalam doa, sebab hari itu termasuk hari paling utama yang diharapkan terkabulnya doa. Ibnu Musayyab meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah saw berkata, “Tidak ada hari di mana Allah swt membebaskan hamba-Nya dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah.” 


Berdasarkan penjelasan di atas, setidaknya ada tiga hal yang dianjurkan memperbanyaknya ketika wukuf di Arafah, yaitu memperbanyak doa-- khususnya doa yang telah dikutip di atas, memperbanyak membaca Surat Al-Hasyr merujuk pada riwayat Ali bin Abu Thalib, dan bersungguh-sungguh dalam berdoa sebab Allah swt mengabulkan doa hamba-Nya di hari Arafah.
 


Syiar Terbaru