• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 1 Maret 2024

Pendidikan

Piagam Bandar Lampung, 5 Rumusan Hasil Konferensi Keluarga Sakinah UIN Raden Intan

Piagam Bandar Lampung, 5 Rumusan Hasil Konferensi Keluarga Sakinah UIN Raden Intan
Pembacaan deklarasai hasil rumusan konferensi keluarga sakinah UIN Raden Intan oleh Wakil Rektor I Prof H Alamsyah beserta panelis. (Foto: Istimewa)
Pembacaan deklarasai hasil rumusan konferensi keluarga sakinah UIN Raden Intan oleh Wakil Rektor I Prof H Alamsyah beserta panelis. (Foto: Istimewa)

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan menyelenggarakan konferensi internasional bertajuk The 1st Raden Intan Mubadalah International Conference on Islam and Family (RIMICIF) 2023. 


Kegiatan tersebut digelar Program Pascasarjana UIN Raden Intan, dan menghasilkan rumusan bernama Bandar Lampung Charter atau Piagam Bandar Lampung.  


Adapun lima rumusan Bandar Lampung Charter untuk mewujudkan keluarga sakinah yang bermartabat, berakhlak mulia, dan berkeadilan hakiki. 


Rumusan Bandar Lampung Charter dibacakan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Intan, Prof H Alamsyah pada penutupan RIMICIF 2023 di Ballroom Emersia.


Turut mendampingi saat pembacaan deklarasi oleh tim perumus, Prof Ruslan Abdul Ghofur, Prof Hj Siti Mahmudah, Rozana Isa, Faqihuddin Abdul Kodir, Nur Rofiah Bil Uzm, dan Mufliha Wijayati.


Adapun Rumusan Bandar Lampung Charter itu adalah:


Peserta the 1st Raden Intan Mubadalah International Conference on Islam and Family mendeklarasikan:


Pertama, keluarga harus menjadi ruang untuk menyemai nilai-nilai kerahmatan dan kebaikan yang menumbuhkan kebahagiaan lahir batin sehingga terbentuk keluarga sakinah yang mewujudkan keadilan, kemaslahatan, akhlak mulia dan nilai-nilai kemanusiaan. 


Kedua, kultur masyarakat harus ditransformasikan oleh berbagai elemen agar dapat mendukung lahirnya individu-individu yang aktif dan berkomitmen dalam mewujudkan keluarga sakinah, yang bermartabat, berakhlak mulia, dan berkeadilan hakiki. 


Ketiga, Negara harus berperan aktif dan turut bertanggung jawab secara langsung dengan membuat norma-norma hukum, kebijakan dan program-program konkret untuk membentuk masyarakat berbasis keluarga sakinah yang bermartabat, berakhlak mulia, dan berkeadilan hakiki.


Keempat, ulama perempuan bersama elemen masyarakat lainnya harus hadir sebagai kekuatan transformatif menuju peradaban berkeadilan hakiki dan mempengaruhi kebijakan negara untuk mewujudkan keluarga yang berbasis pada nilai muwazanah, muadalah dan mubadalah. 


Kelima, Perguruan Tinggi bertanggung jawab dan berperan aktif dengan menguatkan nilai-nilai fundamental berkeluarga melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. 


Kegiatan ini diikuti para akademisi yang mempresentasikan 100 paper yang terbagi menjadi 10 kelas paralel. Tema yang diangkat yakni Realizing a Sakinah Family Towards a Just Civilization.


Direktur Pascasarjana UIN Raden Intan, Prof Ruslan Abdul Ghofur dalam sambutannya menyampaikan, alhamdulillah dengan riang gembira patut mensyukuri atas terselenggaranya RIMICIF untuk mewujudkan keluarga sakinah yang berkeadilan hakiki.


“Rasa terima kasih pada seluruh pihak yang terlibat atas suksesnya acara RIMICIF,” ungkap Prof Ruslan saat menutup Perhelatan RIMICIF.


Ia melanjutkan, setiap individu dibentuk dari sebuah keluarga yang akan masuk ke ranah publik. 


Maka kampus memiliki peran aktif dan penting dalam membentuk keluarga sakinah, keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah (Samawa). Dan juga akhirnya menjadi bangsa yang kuat, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.


“Saat ini fenomena keluarga mengalami degradasi, seperti banyaknya perceraian hingga kenakalan remaja, diharapkan pasangan suami istri (pasutri) menerapkan konsep mubadalah,” ujarnya.


Menurutnya, perceraian saat Covid-19 dan setelah Covid-19,  faktor utamanya adalah karena ekonomi yang mempengaruhi. Hidup berkeluarga itu kalau ekonominya lemah maka akan menjadi masalah juga. 


“Biasanya beban ekonomi ditanggung oleh kepala keluarga ayah atau kepala keluarga. Tetapi dengan konsep mudalah ini saling mengisi untuk memenuhi masalah perekonomian dan bekerja sama dalam membangun keluarga samawa,” ujarnya.
 


Pendidikan Terbaru