• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Opini

Ramadhan Bulan Al-Quran

Ramadhan Bulan Al-Quran
Teungku Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Ketua GP Ansor Pidie Jaya Aceh
Teungku Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Ketua GP Ansor Pidie Jaya Aceh

Oleh: Teungku Helmi Abu Bakar el-Langkawi


Ramadhan merupakan bulan Istimewa bagi umat Islam. keberadaannya disebut sebagai bulan Al-Quran. Bukan hanya karena diturunkan Al-Qur’an di bulan tersebut, akan tetapi biasanya umat Islam lebih ramai dan lebih sering membaca Al-Qur'an. 


Pada Bulan Ramadhan mereka lebih banyak mengkhatamkan Al-Qur’an dibandingkan dengan pada bulan-bulan lainnya. Itulah yang dilakukan generasi salafus shalih sejak era sahabat, tabi’in, tabi’ at-Tabi’in dan generasi setelah mereka hingga saat ini. 


Fenomena ini sebagaimana yang  telah diteladankan oleh Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. berkata, “Jibril (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi saw. setiap tahun sekali (khatam selama Ramadhan). Pada tahun beliau menjelang wafat, dua kali khatam (selama Ramadhan).” (HR al-Bukhari). 


Berdasarkan itu, generasi salafus shalih mentradisikan mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadhan. Bahkan di dalam sahalat-shalat tarawih mereka. Ada yang khatam setiap tiga malam sekali. Sebagian lain khatam setiap tujuh malam sekali. Sebagian lainnya lagi khatamkan setiap sepuluh malam sekali.


Al-Qur'an juga menjadikan istimewa bulan Ramadhan, karena turun pada bulan tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadhan, (merupakan bulan) yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah [2]: 185).


Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk dan memiliki keistimewaan. Selain sebagai kitab penyempurna daripada kitab-kitab Allah yang sebelumnya, juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw.     


Al-Qur’an sebagai dasar hukum utama umat muslim, maka hendaknya kita selalu membaca, mempelajari, dan mengamalkan isinya.  


Rasulullah saw sendiri orang yang  sangat giat membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan, sebagaimana digambarkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh  Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.


Hadits di atas menunjukkan kepada kita untuk selalu memperbanyak membaca Al-Qur'an, terlebih di bulan suci Ramadhan ini. 


Nabi saw bukan hanya banyak membaca Al-Qur’an di luar shalat, akan tetapi beliau sering memanjangkan bacaan Al-Qur’annya pada saat shalat malam di bulan Ramadhan, melebihi dari malam di bulan lainnya.


Dalam kajian fiqh, memanjangkan bacaan Al-Qur'an boleh-boleh saja dan Ini termasuk sesuatu yang disyariatkan. Bagi mereka yang ingin memanjangkannya, maka dianjurkan shalat sendiri. Namun  boleh juga memperpanjang bacaan dalam shalat berjamaah atas persetujuan para jamaah. 


Akan tetapi lebih dianjurkan untuk membaca dengan bacaan yang ringan-ringan saja ketika shalat berjamaah. Imam Ahamd berkata kepada sebagian sahabtnya yang shalat bersamanya di bulan Ramadhan, “Mereka itu orang yang lemah, maka bacalah lima, enam, atau tujuh ayat.” Berdasarkan pernyataan Imam Ahmad rahimahullah, untuk memperingatkan agar memperhatikan keadaan para makmum dan jangan membebani mereka.


Apa yang dilakukan oleh Rasulullah juga dipraktikkan oleh  salafus shalih dan ulama terdahulu. Yakni memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Seperti yang pernah dikerjakan oleh Al-Aswad, dengan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap dua hari.


Pengalaman yang berbeda juga pernah dipraktikkan oleh An-Nakhai dengan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, namun di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan beliau tambah giat lagi dari kebiasaannya.


Pengalaman yang tidak kalah hebatnya juga dilakoni oleh sosok yang bernama Qatadah, ia mengkhatamkan Al-Qur'an di setiap tujuh hari namun  di sepuluh hari terakhir Ramadhan meningkatkan volume khatamanya sehingga mampu menyelesaikannya khatam dalam tiga hari sekali. Apabila bulan Ramadhan tiba, Az-Zuhri mengatakan, “Bulan ini adalah bulan membaca Al-Qur'an dan memberi makan.” 


Bahkan, ketika Imam Malik memasuki bulan Ramadhan, ia meninggalkan membaca hadits dan memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur'an. 


Hal ini juga di kerjakan oleh Sufyan at-Tsauri apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan ibadah sunnah yang lain dan menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur'an. 


Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya.” (Bukhari dan Ashabus sunan).


Dan Allah swt juga berfirman: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?” (Al-Anbiya:10).


Beranjak dari itu, setiap hamba Allah (umat Islam) yang ingin mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya, hendaklah banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dengan membaca, memahami, menyimak, mentadabburi, menghafal dan mengamalkan kandungan isinya dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajarkannya kepada orang lain.


Hal ini bukan hanya difokuskan di bulan Ramadhan saja, akan tetapi di bulan lainnya. Seseorang yang mengamalkan Al-Qur'an lewat petunjuk para ulama sebagai waratsatul anbiya, tentunya disinilah letak kebahagiaan yang dapat diperoleh setiap hamba ketika memperoleh kesempatan di bulan Ramadhan. 


Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq


Penulis adalah Ketua Ansor Pidie Jaya Aceh.
 


Opini Terbaru