• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 4 Juli 2022

Literasi

Dari Bedah Buku Sejarah NU Lampung : Ada Enam Cabang NU yang Pertama Berdiri di Lampung

Dari Bedah Buku Sejarah NU Lampung : Ada Enam Cabang NU yang Pertama Berdiri di Lampung
Buku Sejarah dan Pertumbuhan NU di Lampung
Buku Sejarah dan Pertumbuhan NU di Lampung

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Selama ini kita tahu, Nahdlatul Ulama di Lampung dikenal sebagai NU terbesar di luar Pulau Jawa. Bahkan disebut juga, Jawa Timur di luar Jawa. Sejak dahulu, NU di Lampung sudah diperhitungkan secara nasional. 

 

Demikian disampaikan oleh Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Lampung, Ila Fadilasari, dalam acara bedah buku  lSejarah dan Pertumbuhan NU di Lampung, yang diselenggarakan oleh NU Online, Jumat (7/12/2021) siang. Ila adalah penulis buku yang diterbitkan oleh lembaga informasi, publikasi, dan penerbitan di bawah PWNU Lampung itu.

 

Meski begitu, kata Ila, belum ada buku atau tulisan tentang sejarah berdirinya NU di Lampung. Sejak kapan berdirinya, bagaimana mulanya, bahkan banyak yang belum tahu, siapa saja ketua PWNU Lampung sejak awal. 

 

“Proses riset ini memang memakan waktu yang cukup lama, karena tidak ada bekal dokumen ataupun data dalam melakukan riset. Harus mencari dan memulai dari nol. Cek kroscek ke sana sini, dalam baik dalam maupun luar kota,” kata Ila dalam bedah buku yang digelar melalui aplikasi zoom dan siaran langsung facebook NU Online itu.

 

Sampai kemudian mantan jurnalis Majalah Tempo dan Metro TV itu bertemu dengan seorang narasumber, Fadjri Fadlil Amin, yang menyatakan bahwa ayahnyalah yang mendapatkan “mandat” dalam mendirikan NU di Lampung, yang ketika itu masuk dalam wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). 

 

Ayahnya tersebut bernama Kiai Fadlil Amin, yang sempat belajar agama di Negeri Haramain selama sembilan tahun, dan nyantri di Pesantren Tebu Ireng selama lima tahun (1925-1930).

 

“Saat akan pulang ke kampung halaman dik Ulu Danau, Sumatera Selatan, Hadratus Syeik Hasyim Asyari meminta kepada Kiai Fadlil untuk mendirikan jamiyyah NU. Dan itu terwujud saat Kiai Fadlil berkunjung ke tempat keluarganya di Tanjung Raja, yang masuk dalam Kabupaten Lampung Utara saat ini,” kata Ila.

 

Ila Fadilasari dan tim LTN lalu mengonfirmasi semua keterangan Fadjri, baik ke tokoh-tokoh NU di sejumlah daerah, maupun datang ke Tanjung Raja langsung. Ternasuk riset pustaka di Perpustakaan PBNU, Badan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan Museum NU di Surabaya. 

 

Dari rangkaian riset itu, ditemukan sejumlah fakta, bahwa pada mulanya berdiri, NU di Lampung ada enam cabang, yaitu NU Cabang Tanjung Raja, NU Cabang Menggala, Krui, Sukadana, Teluk Betung, dan Kota Agung.

 

“Selain itu ada keterkaitan ulama perintis berdirinya NU di Lampung dengan ulama di Pulau Jawa, terutama Banten. Banyak ulama asal Banten yang datang ke Lampung untuk menyebarkan agama Islam, khususnya Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyah, “ kata Ila.

 

Sementara pembahas buku tersebut, Syakir NF, Redaktur NU Online, mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Syakir mengatakan, pada mulanya NU berdiri memang tidak berbasiskan kabupaten. Bisa berbasiskan desa atau beberapa desa yang terpisah. Apalagi saat itu Indonesia masih di bawah pemerintahan kolonial Belanda, sehingga adminitrasi pemerintahannya tidak sama dengan sekarang. 

 

“Untungnya dalam buku ini, Ila mengawali penulisannya dengan mengulas sistem pemerintahan Indonesia yang ketika itu bernama Hindia Belanda. Menjelaskan juga kondisi geografis dan sistem administrasi di Provinsi Lampung sejak menjadi provinsi definitif, sehingga pembaca bisa membayangkan dan merekonstruksi petumbuhan dan perkembangan NU di Lampung dari ke masa,” katanya.

 

Syakir mengatakan, buku Sejarah dan Pertumbuhan NU di Lampung itu sudah cukup lengkap, karena mengulas NU sejak masuk ke Lampung, hingga kondisi NU Lampung terkini, yang bulan Desember lalu menjadi tuan rumah muktamar Ke-34 NU. 

 

“Setidak buku itu bisa menjadi awalan, untuk makin dilengkapi atau disempurnakan pada edisi berikutnya. Bila pula oleh penulis lainnya,” kata Syakir, dalam diskusi yang dimoderatori Kendi Setiawan, yang juga Redaktur di NU Online.

 

Turut hadir dalam bedah buku itu Sekretaris PWNU Lampung, Aryanto Munawar, Akademisi dari Universitas Lampung Iwan Satriawan, dan penggiat literasi Lampung, Udo Z Karzi. 

 

(Dian Ramadhan)


Literasi Terbaru