• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Warta

Santri dan Tantangan Globalisasi

Santri dan Tantangan Globalisasi
Santri dan Tantangan Globalisasi 13516442_512610162277230_7882754122751927337_n Oleh: Sunarto (Pengurus PW IPNU Lampung) SALAH satu kunci meraih kemajuan di era globalisasi seperti sekarang ini adalah peningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Betapapun suatu bangsa memiliki potensi sumber daya alam melimpah, akan tetapi potensi SDM ini tidak dapat diandalkan. Kini, kunci tersebut terletak pada kualitas SDM dengan penguasaan ilmu dan teknologi. China misalnya, meskipun tidak didukung sumber daya alam yang melimpah tapi nyatanya China bisa menjadi negara maju, mengalahkan negara-negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah seperti Indonesia. Demikian halnya dengan Jepang, Korea dan Singapura, mereka kini menjadi penguasa-penguasa teknologi dan ekonomi dunia, melebihi negara-negara Eropa dan Amerika. Bagaimana dengan Indonesia yang katanya surganya dunia. Segala macam kebutuhan manusia ada di negeri ini, mulai dari pertambangan, pertanian, minyak, sayuran, semua ada. Namun faktanya Indonesia masih tetap berjalan di tempat. Padahal kalau dilihat dari jmlah penduduknya, Indonesia menempati peringkat kempat setelah China, India, dan Amerika. Lagipula Indonesia juga menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, yang seharusnya bisa memberikan andil besar dalam menjunjung keagungan agamanya. Sebagimana diketahui, Islam mengajarkan umatnya untuk bisa menjadi Al-Muslim Al-Qawiyyu Al-Amin. Artinya, muslim yang punya kekuatan, keterampilan, intelektual, profesionalisme, dan memiliki sifat Al-Amin, yaitu dapat dipercaya dan senggup mengemban amanat dengan jujur dan adil. Mengusai ilmu pengetahuan teknologi sejatinya menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim. Bagaimana Islam dapat di hargai oleh bangsa-bangsa kalau peradabannya masih terbelakang. Tidakkah kita membaca sejarah permulaan Islam, di mana Islam begitu dipuja dan disanjung oleh orang-orang Eropa berkat kemajuan peradabannya yang kala itu maju pesat di Baghdad dan Spanyol – yang kala itu begitu maju berkat kegigihan Muawiyah bin Abi Sofyan – sedangkan Eropa masih terbelakang. Bahkan Eropa pun mengakui bahwa Islam memberikan andil besar dalam pencerahan bangsa-bangsa eropa. Tapi, disadari atau tidak, umat Islam sampai saat ini belum bisa bangkit dari keterpurukan. Di saat bangsa-bangsa lain berhasil menciptakan penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan, Islam malah sibuk dengan perdebatan-perdebatan seputar agama, yang sifatnya adalah Furu`iyyah (Cabang) . Seolah-olah Islam hanya berkutat di bidang agama, padahal Islam adalah agama yang menjunjung tinggi peradaban, dalam pengertian Islam seharusnya merajai segala bidang peradaban dunia. Kebutuhan santri akan sains dan teknologi menjadi harapan baru bagi Indonesia tanpa melepaskan nilai-nilai kepesantrenan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Hal tersebut tentu dapat menjadi pondasi dalam menjawab tantangan masa depan santri bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peran santri masa dulu, sekarang, dan mendatang sebagai mitra pemerintah menjadi kebutuhan dalam memupuk generasi negeri unggul, generasi yang mempunyai karakter santri berpendidikan dan berpendidikan santri. Akankah muslim akan terus tidur dan berdiam diri, dan hanya membanggakan kisah-kisah keemasannya?. Sudah saatnya kita bangsa Indonesia yang termasuk didalamnya adalah para santri bangkit dan bersama membangun bangsa. Siapa yang akan membangun Islam kalau tidak kita sendiri yang membangunnya. Eropa dan Amerika diakuinya menjadi negara maju. Tapi dalam bidang ketuhanan mereka cenderung buta. Maka dari itulah, kita harus dapat mengambil pelajaran dari mereka. Mengutip pernyataan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang mengatakan bahwa, “Orang-orang eropa telah berhasil menembus langit, lautan dan daratan tapi mereka tidak dapat menembus puncak kehidupan yaitu beriman kepada sang pencipta”. Maka dari itulah, kita sebagai muslim harus tidak kalah dengan mereka meski kita juga harus tetap dalam keimanan.Wallahu’alam.**


Editor:

Warta Terbaru