• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Warta

Sang Guru Wafat di Madinah, Kakanwil Kemenag Lampung Kenang Jasanya melalui Bait Puisi

Sang Guru Wafat di Madinah, Kakanwil Kemenag Lampung Kenang Jasanya melalui Bait Puisi
Pak Habib (Istimewa)
Pak Habib (Istimewa)

Tanggamus, Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Satu lagi jamaah Indonesia wafat saat menjalankan rangkaian Ibadah haji di tanah suci. Ia adalah H Habibullah Asror Dullah Komari jamaah JKG 28 dari Kabupaten Tanggamus Lampung tepatnya dari Desa Margodadi Kecamatan Sumberejo.

Pak Habib wafat di Kota Madinah sekitar pukul 03.40 waktu setempat pada Ahad 31 Juli. Duka mendalam karena sebelumnya almarhum tidak memiliki masalah kesehatan serius dan saat ini sedang mempersiapkan diri kembali ke tanah air. Namun saat dibangunkan pada waktu jelang shubuh, ia telah dipanggil oleh Allah swt.


Sosok Pak Habib yang sederhana ini ternyata adalah guru masa kecil dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo. Pak Habib lah salah satu sosok berjasa dalam membentuk karakternya. Puji pun mengisahkan kenangan bersama Pak Habib melalui Instagramnya sesaat setelah mengetahui kabar duka ini.


"Pagi tadi saya dapat telpon dari PPIH Kloter, H Sofyan Hadi kalau seorang jamaah haji kloter 28 JKG meninggal dunia di kamar hotel Kota Madinah sekira pukul 03.40 waktu setempat," tulis Puji mengawali berita duka tersebut.


"Lebih berduka lagi setelah menyadari bahwa almarhum H. Habibullah Asror Dullah Komari, pak Habib anak Mbah Asror, adalah guru madrasah saya," imbuhnya.


Puji mengungkapkan bahwa Pak Habib merupakan anak muda terdidik lulusan PGAN Tanjungkarang di zamannya. Ia adalah orang yang pertama sekali mempercayainya untuk tampil di muka umum, mewakili madrasah sederhananya tampil dalam Iomba puisi tingkat kecamatan.


"Kami belajar di rumah sederhana beliau yang berlantaikan tanah sebagaimana rumah-rumah jadul di perkampungan lereng Tanggamus masa itu. Masih ingat gaya beliau mengajarkan puisi "Aku" Karya Chairil Anwar ," katanya.


Puji pun mengingat jasa Pak Habib dengan bait syair puisi yang sangat terkenal tersebut. Ia mengenang dengan menulis puisi tersebut. Puisi yang menghantarkan semangat untuk menguatkan mental hidup dan kehidupan.


Aku


Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi!

(Muhammad Faizin)


Editor:

Warta Terbaru