• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Selasa, 23 April 2024

Warta

Hanya di Indonesia Kiai Mengurusi Anak Orang Lain 24 Jam

Hanya di Indonesia Kiai Mengurusi Anak Orang Lain 24 Jam
Ustadz Ahmad Ikhwani saat memberikan ceramah ada acara haul dan khotmil Qur'an di Pesantren Al Hikmah
Ustadz Ahmad Ikhwani saat memberikan ceramah ada acara haul dan khotmil Qur'an di Pesantren Al Hikmah

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Pesantren Al Hikmah, Kedaton, Bandar Lampung menyelenggarakan Khotmil Qur’an 30 juz bi nadzar di lapangan Kompleks Al Hikmah, Jumat (25/3/2022). Dalam kegiatan tersebut juga diisi mauizhah hasanah oleh Ustadz Ahmad Ikhwani yang mengatakan hanya di Indonesia kiai mengurusi anak orang lain 24 jam.

 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian haul ke-4 KH Muhammad Sobari yang wafat pada tanggal 7 Mei 2018. Ustadz Ahmad Ikhwani mengatakan, hanya di negara Indonesia ada ulama yang mau mengurusi putra putri orang lain selama satu hari full.

 

“Hanya di Indonesia ada kiai atau ulama 24 jam mau ngurusi anak orang. Selain mengurusi santri 24 jam, seringkali kiai atau ustadz mendapat cemoohan dan caci maki dari wali santri sebelum mencari kebenaran informasinya terlebih dahulu,” ujarnya.

 

Lebih lanjut ia mengatakan jangan sampai keseringan marah dengan pihak pesantren kalau pakaiannya hilang, bisa jadi anaknya teledor sendiri, pakaiannya jatuh dan tidak mau mengambilnya kembali.

 

Karena anak yang masih kecil belum bisa mengurusi barangnya sendiri dengan baik, mereka lebih senang bermain. Kemudian di pesantren itu anaknya banyak, saking banyaknya, barang-barang pun sering tertukar atau pindah tangan.

 

Selain mengajari agar selalu cermat ketika mengelola informasi yang didapat. Ustadz Ikhwani juga menganjurkan agar wali santri selalu sabar ketika memondokkan anaknya, agar mondoknya bisa tuntas.

 

“Orang tua harus sabar, dimana-mana pesantren ada anaknya yang terkena penyakit kulit. Ketika anaknya terkena penyakit kulit malah dipindahkan ke pondok lain, maka biasanya akan sama saja,” katanya.

 

Menurut Alumni Universitas Al-Azhar Mesir ini, keistimewaan pesantren adalah melalui tradisi dan sosio kulturnya, karena di dalamnya ada sosok seorang kiai dan ustadz yang menjadi uswatun hasanah atau suri tauladan yang baik bagi para murid. Hal demikian yang jarang kita temukan di lembaga-lembaga lainnya.

 

“Istimewanya pesantren, tidak hanya mengisi pikiran atau otak, tetapi di sana ada para kiai dan ustadz yang menjadi uswatun hasanah. Hebatnya lagi di pesantren itu menjaga tiga komponen besar dalam hidup yakni ilmu, akhlak, dan ibadah,” paparnya.

 

Ustadz Ikhwani juga memberikan contoh sejarah di dalam Al-Qur’an tentang hubungan rohani antara guru dan murid. Sehingga murid jangan sampai banyak protes atau ngeyel tentang keputusan sang guru, sebelum guru tersebut memberikan penjelasan yang lebih detail kepada muridnya.

 

“Ketika Nabi Hidir mengambil keputusan memperbaiki rumah dua anak yatim di kota, Nabi Musa yang sedang menjadi murid beliau mengkritiknya yang akhirnya justru mengakibatkan perpisahan antara sang guru dan murid,” ujarnya.

 

Para peserta khataman tahun ini berjumlah 54 santri yang terdiri dari 13 santri putra dan 41 santri putri. Serta dihadiri seluruh wali santri yang khotmil, para alumni, tamu undangan, dan seluruh santri Al Hikmah. 

(Yudi Prayoga)


Warta Terbaru