• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Syiar

Keteladanan dari Akhlak Rasulullah yang Agung

Keteladanan dari Akhlak Rasulullah yang Agung
kaligrafi Muhammad
kaligrafi Muhammad

Nabi Muhammad saw memiliki akhlak yang sangat terpuji dan penuh dengan ketauladanan. Al-Qur’an mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad  memiliki akhlak yang sangat agung. 

 

Bahkan dapat dikatakan bahwa pertimbangan pengangkatan beliau sebagai Nabi adalah keluhuran budi pekerti dan akhlaknya. 

 

Dilansir dari Rasulullah dan Cerita tentang Akhlaknya , hal itu dipahami dari wahyu ketiga yang antara lain menyatakan bahwa:

 

Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak  yang agung" (QS Al-Qalam [68]: 4). 

 

Kata "di atas" menurut Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (1999) mempunyai makna yang  sangat dalam, melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak mulia. 

 

Seperti dikemukakan di atas, Al-Qur’an surat Al-An'am ayat 90 menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul. Setelah kedelapan belas nama disebut, Allah berpesan kepada Nabi Muhammad saw, "Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari Allah, maka hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh."

 

Ulama-ulama tafsir menyatakan bahwa Nabi saw pasti memperhatikan benar pesan ini. Hal itu terbukti antara lain, ketika salah seorang pengikutnya mengecam kebijaksanaan beliau saat membagi harta rampasan perang, beliau menahan amarahnya dan menyabarkan diri dengan berkata, "Semoga Allah merahmati Musa as. Dia telah diganggu melebihi gangguan yang kualami ini, dan dia bersabar (maka aku lebih wajar bersabar daripada Musa as)."

 

Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa pastilah Nabi Muhammad saw telah meneladani sifat-sifat terpuji para nabi sebelum beliau. 

 

Nabi Nuh as misalnya  dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam berdakwah. Nabi Ibrahim  as dikenal sebagai seorang yang amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan diri kepada Allah. 

 

Kemudian Nabi Daud as dikenal sebagai nabi yang amat menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap nikmat Allah. Nabi Zakaria as, Yahya  as., dan Isa as adalah  nabi-nabi yang berupaya menghindari kenikmatan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah swt. 

 

Lalu Nabi Yusuf as. terkenal gagah, dan amat bersyukur dalam nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus as diketahui sebagai nabi yang amat khusyuk ketika berdoa. 

 

Nabi Musa as terbukti sebagai nabi yang berani dan memiliki ketegasan. Nabi Harun  as memiliki sifat sebaliknya, yaitu nabi yang penuh dengan kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad saw. meneladani semua keistimewaan para nabi sebelumnya.

 

Ada beberapa sifat Nabi Muhammad  saw yang ditekankan oleh Al-Quran, antara lain: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin (QS Al-Tawbah [9]: 128). 

 

Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman (baca QS Syu'ara [26]: 3).

 

Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa. Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah Swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) "Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang  mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian" (QS Al-Ahzab [33]: 2l). 

 

Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia, karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat dimiliki oleh manusia. Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe, yaitu seniman, pemikir, pekerja, dan yang tekun beribadah. 

 

Sejarah hidup Nabi Muhammad membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. 

 

Karena itu pula setiap Muslim akan sangat kagum kepada beliau. Baik saat memandang melalui kaca mata ilmu dan kemanusiaan, dan pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama. 

 

Banyak peran yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad saw, antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.

 

Dari uraian di atas, betapa Nabi Muhammad adalah teladan yang sempurna bagi umat manusia. Semoga dengan mengetahui keagungan akhlak dan budi pekerti Nabi Muhammad saw, dapat menginspirasi kita untuk terus memperbaiki diri .


Syiar Terbaru