• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Syiar

Jangan Menghormati Orang Kaya karena Kekayaannya

Jangan Menghormati Orang Kaya karena Kekayaannya
ilustrasi menghormati manusia karena kekayaannya
ilustrasi menghormati manusia karena kekayaannya

Sering kali kita merasa takjub dan kagum pada orang-orang yang memiliki banyak harta (orang kaya). Apalagi di masyarakat kita, orang yang kaya identik dengan orang yang terhormat dan harus disegani.

 

Dalam masyarakat modern yang materialistik dan kapitalistik harga diri atau kehormatan seseorang seringkali diukur dari harta kekayaan yang dimilikinya. Semakin kaya raya seseorang, ia akan semakin dikagumi dan dihormati banyak orang. Sementara orang-orang miskin sering tidak dihargai dan sering dilecehkan, karena dianggap hina dan bodoh.


Penghormatan kepada orang kaya yang semata-mata karena kekayaannya tidak dibenarkan di dalam Islam, seperti dilansir dari Larangan Menghormati Orang Kaya karena Kekayaannya. Hal itu berdasarkan hadits marfu’ yang diriwayatkan Al-Baihaqi sebagai berikut:

 

وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ 
 

Artinya: Dan barangsiapa merasa rendah di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh orang itu telah lenyap atau hilang dua pertiga agamanya.


Merasa rendah atau menghormati kepada orang kaya semata-mata karena kekayaannya bukanlah akhlak terpuji. Orang-orang kaya dihormati seharusnya bukan karena hartanya yang berlimpah tetapi karena amal-amal kebaikannya, seperti bertakwa kepada Allah swt, ramah kepada sesama, suka bersedekah, suka menolong fakir miskin, sangat peduli terhadap kepentingan umum, memberikan wakaf untuk kepentingan umat, dan sebagainya. 

 

Mengapa Islam melarang penghormatan kepada seseorang karena kekayaannya? Jawabnya, diantaranya adalah:

 

Pertama, karena manusia lebih mulia daripada harta benda. Manusia adalah makhluk terbaik dan paling mulia yang diciptakan Allah swt sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Isra’ ayat 70, yang berbunyi: 

 


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا


 
Artinya: Dan sungguh iaKami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang sempurna.

 

Seseorang yang menghormati orang kaya semata-mata karena kekayaannya, sesungguhnya ia telah merugikan keimanan dan keislamannya sendiri. Kesalahan bukan pada orang kaya yang dihormati tetapi pada dirinya sendiri karena telah menempatkan nilai kemanusian beserta seluruh potensi spiritualnya dibawah harta benda duniawi. Oleh Rasulullah saw orang tersebut dikatakan telah lenyap dua pertiga agamanya.

 

Kedua, karena kekayaan berupa harta benda bukanlah kekayaan yang sebenarnya. Rasulullah saw telah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah:

 

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

 

Artinya: Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak harta, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kayanya jiwa.

 

Hal-hal spiritual seperti keimanan, ketakwaan, kesabaran, sikap tawakal, kesalehan, keramahan, kedermawanan dan sebagainya, itu jauh lebih berharga daripada hal-hal yang bersifat duniawi seperti harta benda atau kekayaan. Di hadapan Allah swt harta manusia tidak ada artinya hingga harta itu benar-benar dikonversi menjadi harta spiritual berupa amal-amal kebaikan.  

 

Ketiga, karena mengakibatkan orang-orang miskin tidak dihargai dalam masyarakat. Jika sikap menghormati orang kaya karena kekayaannya dibenarkan, maka akan timbul sikap sebaliknya yakni orang-orang yang tidak kaya atau miskin tidak dihargai. Dan inilah yang terjadi di masyarakat banyak orang miskin direndahkan dan dilecehkan. Ini masalah besar yang tidak pernah dipermasalahkan hingga seolah-olah telah diterima sebagai kebenaran.  


Dengan demikian kita tidak perlu merasa hormat berlebih pada orang-orang yang kaya harta, apalagi sampai merasa rendah diri atau merasa lemah. Karena sesungguhnya manusia itu sama di hadapan Allah, yang membedakan adalah amal ibadah dan ketakwaannya.


Syiar Terbaru