• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Pendidikan

Pelantikan Jamiyyah di Ponpes Al Hikmah, Pengurus: Berhati-hatilah dengan Amil Nawasyikh

Pelantikan Jamiyyah di Ponpes Al Hikmah, Pengurus: Berhati-hatilah dengan Amil Nawasyikh
Suasana pelantikan di Ponpes Al Hikmah Bandar Lampung
Suasana pelantikan di Ponpes Al Hikmah Bandar Lampung

Bandar Lampung, NU Online
Jamiyyah Thariqah At-Thalibin wa At-Thalibat (JTT) Pondok Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung periode 2021-2022 resmi dilantik oleh Lurah Pondok, Ustadz Mahfudz Nashir di lapangan Gedung B Al Hikmah, Minggu (25/9/2021).

 

Kepengurusan ini merupakan hasil dari pemilihan yang dilakukan pada 18 September lalu melalui sistem pencoblosan layaknya Pemilu. Pemilihan itu sendiri akhirnya dimenangkan oleh Naufal Alhanan asal Pringsewu dan Elen Aulia asal Bandar Lampung.
 

Acara pelantikan dihadiri seluruh santri putra dan putri sekaligus pengurus, sehingga menjadikan suasana meriah sekaligus khidmat. Meski sangat sederhana namun penuh makna, karena tetap menggunakan asas-asas dalam berorganisasi.  
 

Pelantikan dan pengukuhan ini bertujuan untuk melegalkan tugas resmi kepada anggota Jamiyyah yang akan memimpin roda organisasi selama setahun ke depan. Setelah dibacakakan SK resmi dari Lurah Pondok, maka oragnisasi Jamiyyah Thariqah At-Thalibin wa At-Thalibat sudah dapat menjalankan tugas sejak malam itu.

 

“Hal ini mengajarkan kepada para santri bahwa sistem berorganisasi di pondok pesantren, tidak kalah dengan organisasi di luar pondok. Kami selalu berharap dan mendoakan mungkin dari sinilah mereka akan memimpin NU di masa depan," kata Ustadz Yudi Pragoya, salah seorang pengajar di Al Hikmah.
 

Anggota Jamiyyah yang baru juga mendapatkan suntikan nasehat Ustads Yudi. Dengan  mengutip menggunakan istilah nahwu, Ustadz Yudi mengatakan, pemimpin itu bagaikan Mubtada, dan anggota bagaikan Khobar.


"Khobar harus selalu mengikuti mubtada, anggota harus mengikuti ketua, harus selalu berselaras, antar pikiran ketua dan anggotanya. Jika tidak berselaras maka akan kacau serta tidak seimbang," katanya.

Yudi menambahkan, dalam berorganisasi,  keseimbangan wajib dipertahankan. Jika salah satu dari keduanya rusak atau bahkan semuanya rusak, berarti ada Amil Nawassyekh, faktor perusak, entah berupa tabiat kejiwaan,  sahabat, lingkungan, kognitif daya fikir, dan faktor-faktor lainya
 

"Jika Amil Nawassyekh-nya Kana maka yang rusak anggotanya, jika Amil Nawassyekh-nya Inna maka yang rusak ketuanya. Tapi jika Amil Nawassyekh-nya dzonna maka kedua-dua nya rusak, dan ini menyebabkan berjalanya suatu organisasi akan terganggu serta lumpuh. Jangan sampai ada amil nawassyekh yang mulai menggerogoti roda keorganisasian, semua harus waspada dan saling intropeksi diri," paparnya di hadapan para santri.
 

Yudi berpesan, kepemimpinan Jam'iyyah yang baru juga harus tetap mengikuti jargon Al muhafdzu ala qadimisshalih wal akhdu bil jadidil ashlah. Mempertahankan sesuatu tradisi lama yang baik dan mengambil sesuatu baru baru yang lebih baik. Artinya, tetap mempertahankan progam jam'iyyah lama yang masih baik, berselaras, dan berguna. Kemudian membuat atau memperbarui progam baru jamiyyah yang lebih baik.
 

"Dalam jargon tersebut mengisyaratkan bahwa hidup harus selalu dinamis, kritis, progesif, dan tidak lupa terhadap kemajuan masa lampau. Karena kemajuan masa sekarang adalah lanjutan dari capaian kejayaan masa lampau, tanpa masa lampau, yang sekarang hanyalah titik nol, yang akan merangkak," tegasnya.

(Sanvarsen)  

 


Editor:

Pendidikan Terbaru