• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Jika Ingin Sukses dan Berkah, Hormati Sumber dan Sarana Mendapatkan Ilmu 

Jika Ingin Sukses dan Berkah, Hormati Sumber dan Sarana Mendapatkan Ilmu 
ngaji
ngaji

Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, begitu kata Nabi Muhammad saw. 

 

Ilmu itu sangat luas dan beragam, sehingga kadang-kadang manusia hanya sanggup secara spesialis mempelajari satu bidang keilmuan saja. Namun selain itu, kita juga diwajibkan mempelajari semua ilmu yang ada di dunia, terutama ilmu hal (keadaan) atau ilmu yang langsung berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. 

 

Memang manusia berhak mencari semua ilmu yang tersebar di muka bumi, baik ilmu dari sekolah formal maupun non-formal. Akan tetapi meskipun mencari ilmu setiap hari, hanya sedikit yang bisa sampai paham secara mendalam dan mengerti tentang ilmu tersebut. Bahkan justru ada yang biasa-biasa saja meski sudah bertahun-tahun mencari ilmu. 

 

Apakah hal tersebut ada yang salah? Bisa jadi. 

 

Dalam dunia keilmuan, terutama pesantren, salah satu komponen yang menjadikan orang sukses dalam menuntut ilmu yakni menghormati sumber ilmu dan menghormati alat pelengkap mencari ilmu. Menghormati keduanya merupakan keberkahan tersendiri bagi penuntut ilmu. 

 

Pertama: menghormati sumber ilmu. 

 

Sumber ilmu ada dua, pertama pengajar yakni guru dan yang kedua buku atau kitab. Guru bagaikan kunci atau gembok, sedangkan kitab atau buku bagaikan gudangnya. Karena banyak yang membaca buku atau kitab namun tidak paham apa isinya, dan jika memaksa justru bisa menjadikan penafsiran yang menyesatkan, sehingga dibutuhkanlah seorang guru sebagi kunci untuk membuka ilmu yang terkandung di dalam gudang buku.

 

Keduanya harus kita hormati. Sikap kita terhadap seorang guru, sebagaimana yang ditulis di dalam kitab-kitab akhlak, harus sopan santun, tidak membantah perintahnya yang baik, dan tidak menyela pembicaraannya ketika sedang mengajarkan ilmu.

 

Dilarang menghina, mengolok-olok dan mempertanyakan sesuatu yang sifatnya menyinggung, apa lagi sampai sakit hati. Jika guru sampai sakit hati, dikhawatirkan kurang ikhlasnya ilmu yang disampaikan kepada murid, sehingga bisa mengurangi keberkahan dan keberhasilan bagi sang murid itu sendiri. 

 

Meski, andaikata kita memiliki seorang guru yang berwatak buruk, kita tetap diharuskan untuk menghormatinya. Salah satu kisah epik masa lampau, yakni Mahabarata yang menceritakan patuhnya Bima kepada guru Durna, meskipun sang guru tersebut berwatak jelek dan bahkan ingin mencelakai Bima. Karena hormatnya sang Bima kepada gurunya, akhirnya ia bisa mencapai ilmu tertinggi, makrifat kepada Tuhan. 

 

Kemudian, wajib bagi setiap murid untuk menghormati kitab atau buku, jangan sampai kitab atau buku tersebut diperlakukan dengan tidak hormat. Salah satu adab di dunia pendidikan yakni harus menghormati dan memuliakan kitab atau buku. 


Dilarang menekuk atau melipatnya, karena dikhawatirkan akan merusak bentuk kitab atau buku, apalagi sampai ditekuk dan ditaruh di saku belakang celana.

 

Kemudian dilarang menaruh pena atau sesuatu yang mengganjal di dalam lipatan kitab/buku. Dan apabila sampai ditindih, maka lama-lama kitab/buku akan rusak.  

 

Selain itu, dilarang juga manaruh kitab atau buku lebih rendah dari pantat kita, seperti ditaruh di lantai, dibelakang tas ransel yang tasnya lebih rendah dari pantat. Sehingga dikhawatrikan menghilangkan sikap hormat serta keberkahan dari buku/kitab.

 

Dilarang juga mencoret-coret dan menggambar kitab atau buku, sehingga mengotori kebersihan kertas dan jika dilakukan di tulisan, maka bisa merusak hurup dan kalimat di dalamnya. 

 

Kedua, kewajiban bagi santri atau murid yakni menghormati perangkat yang digunakan untuk menuntut ilmu. Seperti pena, buku tulis, pakaian, sendal, sepatu, tas, dan lain sebagainya. 

 

Harus dipastikan bahwa semua sarana yang dipakai untuk menuntut ilmu harus bersih, suci dan halal, jangan sampai barang yang kotor, najis dan haram. Karena semua itu merupakan sarana dalam keberkahan menuntut ilmu.

 

Pakaian yang kita pakai harus bersih, suci dan halal. Jika sudah kotor maka dibersihkan dengan dicuci. Jika terkena najis maka harus di sucikan dengan air yang lebih dari dua kullah. Jika tidak sampai takaran maka cukup mengalirkan air pada pakaian yang terkena najis. 

 

Selain itu, murid juga harus memperhatikan, jangan sampai pakaian yang dipakai hasil dari ghosob (meminjam tanpa permisi), apalagi sampai mencuri. Termasuk alas kaki, pena, buku tulis dan lainnya. 

 

Bahkan kita juga dianjurkan untuk suci dari hadas besar maupun kecil ketika sedang di majlis ilmu. Dianjurkan berwudhu ketika akan memulia belajar, dan dianjurkan mandi besar atau wajib ketika hadas besar (junub). Karena ketika kita junub dan belum bersuci, maka apapun yang kita kerjakan menjadi makruh, seperti tidur, makan, minum, belajar dan lain sebagainya.

 

Untuk mensiasati hal tersebut, boleh saja meski keadaan sedang junub kita tetap beraktivitas seperti biasanya, asalkan wudhu terlebih dahulu, karena wudhu bisa menggugurkan kemakruhan dari junub. 

 

Maka dari itu, perlulah kita bersikap hati-hati dalam menuntut ilmu, gunakan akal yang sehat, sehingga apa yang kita kerjakan dan ucapkan menjadikan kemaslahatan bagi diri kita sendiri dan orang lain.  

 

Yudi Prayoga, Redaktur Keislaman NU Online Lampung


Opini Terbaru