• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Kiai Menjawab

Benarkah Shalawat Bisa Mendatangkan Rezeki?

Benarkah Shalawat Bisa Mendatangkan Rezeki?
shalawat nabi
shalawat nabi

Assalamualaikum Ustadzah
Saya sering menonton ceramah yang mengajak kita bershalawat. Katanya dengan sholawat bisa mendatangkan rezeki. 

 

Pertanyaan saya apakah bisa hanya dengan shalawat tanpa bekerja, rejeki bisa datang sendiri? 

Komarsyah, Tanggamus

 

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Tentunya rezeki tidak bisa datang sendiri hanya dengan bershalawat tanpa harus bekerja. Di dalam ajaran Islam, usaha (ikhtiar) dan doa adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan.

 

Perintah untuk berusaha adalah kewajiban tapi tidak wajib untuk berhasil, dan doa juga adalah perintah  dari Allah. Sabda Nabi Saw : "Doa itu intisari ibadah". (HR: Tirmidzi).

 

Doa menjadi intisari ibadah karena dua perkara. Pertama, mematuhi perintah Allah sebagaimana firman: "Berdoalah kepada-Ku" maka itu adalah intisari ibadah. Kedua, apabila melihat keberhasilan urusan-urusannya dari Allah Swt, maka ia putuskan harapannya dari selain Dia dan berdoa kepada-Nya untuk memenuhi keperluannya dan inilah pokok ibadah itu. 

 

Sayyidi Syekh Abdul Qodir Al-jaelani mengatakan, adab dalam berdoa adalah mengulurkan  kedua tangannya, dan mengucapkan alhamdulillah serta shalawat kepada Nabi Saw. Kemudian memohon keperluannya dan tidak memandang ke langit di waktu berdoa.

 

Saya ingin menjelaskan juga tentang kedahsyatan shalawat kepada Nabi Saw. Beliau bersabda: "Diantara setiap doa dan langit terdapat hijab, hingga diucapkan shalawat untukku. Apabila diucapkan shalawat untukku terbukalah hijab itu dan diangkatlah doanya."

 

Dalam suatu riwayat lain,  Ali berkata: "Diantara setiap doa dan Allah ada hijab hingga diucapkan shalawat untuk Nabi Saw. Apabila diucapkan shalawat, terbukalah hijabnya dan dikabulkan doanya, jika tidak diucapkan shalawat untuknya, maka tidaklah dikabulkan doanya." (HR: Al-Hasa  bin Arafah). 

 

Di dalam Al-Quran, Allah berfirman : "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yg beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

 

Ini perintah bershalawat secara global. Tidak ada rincian membaca berapa kali. Namun ada seorang alim ulama pernah memberi amalan kepada santrinya untuk membaca shalawat sehari 80 ribu kali.

 

Beliau katakan kepadanya, "Baca shalawat setiap hari, membaca shalawat "shalawallahu alaihi muhammad" sebanyak 80 ribu kali. Kalau 3 tahun kemudian kamu belum kaya, ludahi muka saya." Tetapi sebelumnya diberikan dahulu pemahaman mengenai makna shalawat.

 

Setiap hari kita membaca shalawat, lantas apa maksud dari shalawat itu? Dalam ayat di atas, Allah bershalawat, malaikat bershalawat dan orang-orang
yang beriman juga bershalawat.

 

Apakah bentuk shalawat mereka mereka sama? Tentu tidak. Bentuk shalawat mereka berbeda. Shalawatnya Allah itu al-imdad li hadlrah an-nabi, artinya memberikan suplai energi yang luar biasa melalui shalawat. Sedangkan malaikat yastagfiruna lahu, mengawal dengan memohonkan ampunan untuk Nabi.

 

Lantas bagaimana shalawat kita sebagai orang beriman? Kalau kita bershalawat kepada Nabi, beliau  sekarang kan sudah wafat. Lalu, untuk siapa shalawat ini. Tentu bukan untuk jasadnya atau badannya. Shalawat ditujukan untuk zat muhammadiyyah, yang diciptakan Allah sebelum Dia menciptakan alam semesta.

 

Oleh sebab itu, ketika kita bershalawat, kita berkomunikasi dan tersambung dengan Nabi Saw. AL-imdad li hadrah an-nabi itu ibaratnya pembangkit tenaga listrik (PLT), di mana semua energi listrik berasal dari sana. Allah yg memberikan energi kepada pembangkit listrik tersebut, dan PLT itulah yg membagikan energi.

 

Seandainya kita terhubung dengan Nabi
Saw, kita sama dengan lampu yang tidak terhubung dengan sumber listrik sehingga tidak akan menyala. Bershalawat itu menghubungkan diri kita dengan Nabi Saw, sebagaimana lampu tersambung pada pembangkit listrik agar bisa menyala terang. Setelah semuanya terang benderang terbangunlah perdamaian dan keselamatan.

 

Adapun keutamaan kita bershalawat kepada Nabi adalah:
--Nabi Saw bersabda: "Barangsiapa mengucapkan shalawat untukku sekali, maka Allah memberi shalawat untuknya sepuluh kali."(HR:Muslim, Abu Ddawud dan ibnu Hibban ari Abu Hurairah r.a)

--Jalan menuju surga
Dengan membaca shalawat Nabi, dari Abu Hurairah bahwa ia berkata: Shalawat untuk Nabi adalah jalan menuju surga." Nabi Saw bersabda: "Orang yang terdekat denganku pada hari kiamat adalah yang terbanyak mengucapkan shalawat untukku." (HR:Bukhori,Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Mas'ud). 

 

Itu artinya, orang yg terdekat dengan Nabi pada hari  kiamat dan paling berhak mendapatkan syafaat beliau ialah yang terbanyak mengucapkan shalawat ketika di dunia.

-- Dapat menghapus dosa.
Abu Bakar Ash-Shidiq berkata: "Shalawat untuk Nabi Saw mampu menghapus dosa-dosa daripada air terhadap papan hitam. Nabi Saw bersabda;" Barangsiapa mengucapkan shalawat untukku dalam setiap Jumat sebanyak 40 kali,maka Allah menghapus dosa-dosanya semuanya." (HR: Abdul Aziz bin Suhaib dari Anas bin malik).

 

Masih banyak lagi keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Saw. Tentu maknanya tidak hanya ucapan shalallahu alahi muhammad saja,  tetapi maknanya kita tersambung dan berkomunikasi dengan Nabi Saw. 


Sehari minimal lima kali. Artinya setiap hari paling tidak kita melapor kepada Allah pada saat shalat lima waktu. Jadi jika  ingin selamat, maka harus terus menerus menjaga hotline atau senantiasa bersambung dengan Allah dengan shalat lima waktu tersebut. 

 

Selama kita mendapatkan bimbingan-Nya, nuur Muhammad akan membimbing kita. Nabi Saw yang memberitahukan bahwa Llah -lah Tuhan semesta alam.

Waallhu'alam bishsawab.
Wassalam

Dijawab oleh Ustadzah Yulia Ulfah/ Pengasuh Majelis Taklim Ar-Raudah Jl. Swadaya 9, Gg.Tangkil Gunung Terang, Bandar Lampung) 


Kiai Menjawab Terbaru