• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 2 Desember 2022

Warta

Sambut Bulan Muharram, Komunitas Keris Nusantara Gelar Pembersihan Benda-benda Pusaka

Sambut Bulan Muharram, Komunitas Keris Nusantara Gelar Pembersihan Benda-benda Pusaka
Keris-keris yang dibersihkan Komunitas Keris Nusantara
Keris-keris yang dibersihkan Komunitas Keris Nusantara

Bandar Lampung, NU Online Lampung
Komunitas Keris  Nusantara (KKN) mengadakan jamasan pusaka (membersihkan pusaka) berupa keris dan benda pusaka lainnya di Asrama Perdana, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Ahad (31/7/2022). Kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan Muharram. 


Salah satu anggota KKN, Sanvarzen Khan mengatakan, menghargai karya leluhur Nusantara salah satunya adalah dengan melestarikannya. "Jamasan pusaka merupakan bagian dari melestarikan budaya Nusantara yang diwariskan secara turun temurun. Ritual itu biasa dilakukan pada awal bulan Syura atau Muharram," katanya 


Dia mengungkapkan, keris merupakan wasilah doa yang dibendakan. "Benda-benda tersebut, terutama keris, merupakan salah satu doa yang dibendakan. Karena keris dibuat dengan tirakat, harapan dan doa-doa kepada Yang Maha Kuasa," ungkapnya, di sela-sela acara yang dihadiri oleh para santri dan mahasiswa di Bandar Lampung itu. 


Sanvarsen yang juga santri Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung itu menambahkan,  orang yang membuat keris sebagai wasilah doa, sama halnya dengan orang yang membuat buku tulis dan pena, dengan harapan dan doa supaya menjadi wasilah mencerdaskan bangsa. 


Anggota KKN lainnya, Wahyu Agil Permana mengatakan, jamasan pusaka merupakan sebuah tradisi pencucian benda pusaka, dalam hal ini adalah keris, yang dilakukan dalam rangka merawat pusaka tersebut ."Pencucian keris bukan sesuatu yang musyrik, karena dalam hal ini keris hanyalah sebagai wasilah dan tidak disembah," katanya. 


Dia menjelaskan mencuci keris sama halnya seperti mengasah pisau, golok atau benda-benda yang lainnya. Tujuannya adalah agar benda tersebut tetap terjaga dan tidak rusak atau berkarat. 


Mahasiswa Universitas Lampung itu menyatakan, sebenarnya pencucian keris bisa dilakukan kapan saja, satu bulan sekali, setengah tahun sekali atau satu tahun sekali. 


"Mengapa pencuciannya dilakukan pada bulan Syura atau 1 Muharram, hal itu sebagai tafa'ulan (melakukan dengan berharap) untuk membersihkan perilaku-perilaku kotor di tahun lalu dan berharap agar sepanjang tahun dijadikan tahun yang bersih," kata ketua PAC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran itu. 


Wahyu menambahkan, pencucian pusaka juga kerap kali dikaitkan dengan hal-hal mistik. Padahal hal tersebut hanyalah salah satu upaya yang dilakukan agar pusaka tersebut tidak rusak dan tetap terjaga nilai seninya. 


"Pusaka adalah karya seni luhur warisan budaya sebuah bangsa. Oleh karenanya, sebagai warga yang cinta akan budaya bangsanya, kita perlu melestarikan tradisi dan budaya tersebut. Siapa lagi jika bukan kita sebagai generasi muda yang melestarikan tradisi tersebut, " tegasnya. 


Peserta jamasan pusaka lainnya, 
Khoiri Shodiqin mengatakan, keris merupakan warisan sejarah yang sangat lampau dan banyak kegunaannya. "Diperkirakan keris sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak abad ke-9. Terbukti dari beberapa kisah tradisional, seperti Ken Arok dan Ken Dedes, " tuturnya. 


Keris, sambung Khoiri, juga sering dimanfaatkan dalam aktivitas manusia. Diantaranya yakni untuk perlengkapan petunjukan wayang, pertunjukan ketoprak, pertunjukan budaya, acara bersih desa, dan lainnya .


Komunitas Keris Nusantara merupakan perkumpulan pecinta dan pelestari benda pusaka yang berada di Bandar Lampung. Komunitas yang beranggotakan pecinta benda pusaka dari berbagai kabupaten dan kota di Lampung bertujuan untuk   melestarikan budaya leluhur  dan keramat tersebut. 

(Yudi Prayoga)


Warta Terbaru