• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Warta

Pentingnya Mendampingi Anak Usia Dini di Era Digital

Pentingnya Mendampingi Anak Usia Dini di Era Digital
TV Nahdlatul Ulama (TVNU) melalui program podcastnya mengangkat tema Pendidikan Anak Usia Dini di Era Digital yang dibawakan oleh Muhammad Saefullah, Jumat malam (10/12/2021).
TV Nahdlatul Ulama (TVNU) melalui program podcastnya mengangkat tema Pendidikan Anak Usia Dini di Era Digital yang dibawakan oleh Muhammad Saefullah, Jumat malam (10/12/2021).

Jakarta, NU Online Lampung

Penggunaan smartphone atau gawai di era pandemi menjadi sebuah keniscayaan, sebab banyak kegiatan, termasuk pendidikan dilakukan secara dalam jaringan (daring) atau online yang bisa diakses melalui gawai. Namun, penggunaan gawai yang berlebihan juga memiliki dampak negatif bagi anak, seperti terpapar konten yang tidak layak dikonsumsi anak usia dini hingga kecanduan game online.

TV Nahdlatul Ulama (TVNU) melalui program podcastnya mengangkat tema Pendidikan Anak Usia Dini di Era Digital yang dibawakan oleh Muhammad Saefullah, Jumat malam (10/12/2021). Program ini disiarkan langsung melalui kanal Youtube TVNU dengan mengundang narasumber Peneliti Kementerian Agama RI, Iyoh Mastiah dan akademisi Universitas Negeri Jakarta, Asep Supena.

Peneliti Kementerian Agama RI, Iyoh Mastiah menyebut, perkembangan otak anak 90% terjadi saat anak berusia di bawah 8 tahun. Sedangkan 3 tahun pertama anak adalah masa untuk membangun pondasi struktur otak yang berdampak permanen. Pengalaman positif dan negatif yang dialami anak pada usia tersebut, akan mempengaruhi emosi anak hingga dewasa. Termasuk pengalaman yang didapatkan dari menggunakan gawai.

Hasil penelitian Kementerian Agama RI,  menyebutkan sejumlah masalah yang terjadi pada anak usia dini di era digital. Kategori anak usia dini yang dimaksud adalah usia 0 sampai 6 tahun.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama RI dari penelitian terkait penggunaan smartphone didapatkan data 70% anak usia dini telah menggunakan gawai dengan durasi di bawah satu jam dalam sehari. Sementara jenis aplikasi yang sering diakses yaitu game sebesar 40%, film kartun 40,3%, Youtube 39,6%, konten keagamaan 32%. Adapun dalam proses penggunaan gawai tersebut, sebanyak 56,6% orang tua yang mendampingi anak dan yang mengingatkan anak dalam bermain gawai sebesar 86,8%.

Menurut Iyoh, penggunaan gawai pada anak usia dini yang berlebih yakni di atas satu jam dalam sehari dapat berpengaruh pada kesehatan dan psikologis anak. Seperti menyebabkan emosi anak yang tidak terkendali seperti mudah marah, sedih, suka membangkang, hingga menirukan perilaku yang kurang baik dari apa yang ditonton, sebesar 9,8%.  Sedangkan pada kesehatan fisik dapat mempengaruhi pada pendengaran karena terlalu fokus pada gawai dan mengurangi kemauan belajar, karena sulit fokus. Hal-hal ini menjadi dampak negatif pada kesehatan fisik yang berpengaruh sebesar 4,5%.

Dari data tersebut, Iyoh menekankan pentingnya pendampingan anak di era digital, termasuk dalam pendidikan.  Dalam Islam juga telah dijelaskan pentingnya pendidikan bagi anak. Seperti dalam Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 9 yang menyampaikan agar umat muslim tidak meninggalkan generasi yang lemah. Baik lemah fisiknya, lemah ekonominya, dan lemah intelektualnya.

Dengan demikian pentingnya pendidikan anak usia dini perlu menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat, khususnya para orang tua, dan juga pemerintah, terutama dalam menyambut generasi emas 2045 dan bonus demografi yang diprediksi terjadi pada tahun 2030.

“Pemerintah harus dapat memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan anak usia dini seperti yang ada di aturan perundang-undangan di Indonesia, seperti hak memperoleh perlindungan, hak memperoleh pendidikan, hak perawatan dan sebagainya,” ujar Iyoh.

Lebi rinci, Iyoh memaparkan data yang dimiliki Kemenag RI, pada tahun 2018 jumlah Taman Kanak-Kanak (TK) atau Raudhotul Athfal (RA) sebanyak 91.613, sedangkan RA 28.872. Dari data tersebut lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang dikelola pemerintah hanya 2%. Hal ini menunjukkan bahwa PAUD masih bertumpu pada partisipasi masyarakat, karena proses pendidikannya masih banyak dikelola masyarakat. (Dian Ramadhan)


Warta Terbaru