• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Warta

Mengapa Menuntut Ilmu itu ‘Faridatun’, Bukan ‘Fardun’?

Mengapa Menuntut Ilmu itu ‘Faridatun’, Bukan ‘Fardun’?
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Muhsin Abdillah. (Foto: istimewa)
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Muhsin Abdillah. (Foto: istimewa)

Lampung Tengah, NU Online Lampung
Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada umat Islam. Allah telah menegaskan bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah swt lebih dari orang yang tak berilmu. Kewajiban menuntut ilmu ini juga diberikan kepada setiap individu, bukan hanya kewajiban kelompok.

Nabi saw dalam haditsnya bersabda yang artinya: “Mencari Ilmu Itu wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan.”. Dalam redaksi hadits ini, kata ‘wajib’ disebut dengan kata ‘Faridatun’ bukan kata ‘Fardun’. Dari redaksi ini, Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Muhsin Abdillah menjelaskan bahwa menuntut ilmu memiliki level kewajiban yang tinggi.

“Kalau Fardun sudah jelas (wajib), kalau Faridatun itu sangat wajib. (Huruf) ta’ nya Faridatun berfaidah untuk mentaukidi (menekankan),” jelas Pengasuh Pesantren Darussaadah Lampung Tengah ini saat berbicara pada Halaqah Calon Wali Santri di pesantren yang menjadi lokasi Muktamar Ke-34 NU tahun 2021 ini.

Kiai Muhsin pun memberi beberapa contoh lain kata yang berfungsi sebagai bentuk taukid dalam bahasa Jawa. Di antaranya adalah peteng-peteng dedet (gelap-gelap gulita), cilik-cilik mentik (kecil-kecil sekali), bajingan-bajingan tengik (penjahat-penjahat yang sangat licik).

Selain sebagai kewajiban individu yang sangat ditekankan, Kiai Muhsin juga mengaskan bahwa memberikan pendidikan kepada anak juga menjadi kewajiban orang tua. Oleh karenanya, Kiai Muhsin berpesan agar para orang tua benar-benar memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anaknya di antaranya dengan mengirimkannya ke pesantren.

“Dengan telah menitipkan anak di sini (pesantren), njenengan sama dengan sudah menggugurkan dan melunasi kewajiban perintah mencari ilmu dari Allah swt,” jelasnya.

Terkait anak nantinya menjadi pintar atau tidak menurutnya itu hanya persoalan waktu saja. Yang terpenting bagi orang tua adalah berusaha memberikan pendidikan terbaik dengan memilih sumber ilmu yang tepat bagi pendidikan putra-putrinya.

“Secara otomatis kalau di pondok, Insya Allah bisa hilang kebodohannya. Insya Allah ilmunya bermanfaat dan membawa barakah. Itulah yang terpenting,” tandasnya. (Muhammad Faizin)
 


Editor:

Warta Terbaru