• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Warta

Kiai Said: Ruqyah dan Peradaban yang Harus Nahdliyin Jaga dan Lestarikan

Kiai Said: Ruqyah dan Peradaban yang Harus Nahdliyin Jaga dan Lestarikan
Kiai Said Aqil Siroj pada Munas JRA (Foto: Istimewa)
Kiai Said Aqil Siroj pada Munas JRA (Foto: Istimewa)

Mojokerto, NU Online Lampung

Ruqyah dalam sejarah merupakan ilmu hikmah, ruqyah sudah dipakai oleh kiai-kiai nahdliyin sejak dahulu. Maka ruqyah adalah culture capital, dan nahdliyin harus menjaga dan melestarikannya.


Hal tersebut disampaikan oleh Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dalam seminar ruqyah dan peradaban pada Musyawarah Nasional (Munas) ke-1 Jam’iyyah Ruqyah Aswaja, Jumat (23/9/2022) di Institut KH Abdul Chalim (Ikhac) Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.


Bismillahirrahmanirrahim, Munas ke-1 Jam’iyyah Ruqyah Aswaja dibuka. Dengan memanjatkan tahmid, tasbih, dan takbir semoga Munas JRA ini membawa barokah untuk kemajuan Ahlussunnah wal Jama’ah khususnya dan umumnya untuk Indonesia,” ujar Kiai Said membuka Munas ke-1 JRA ini.


Ruqyah merupakan salah satu ilmul awail, ilmul qudama’ sebelum adanya agama samawi, ruqyah sudah ada.


“Dulu para ahli hikmah sudah menjalankan ruqyah seperti phythagoras, sebelum sejarah (qabla tarikh), jauh sebelum Socrates, sebelum fir’aun zaman Nabi Musa. Ruqyah sudah dipakai karena tradisi orang-orang dahulu,” ungkapnya.


Lebih lanjut ia mengatakan setelah agama Islam datang, ada perubahan revolusi aqidah. Sehingga Rasulullah saw, menganjurkan agar ruqyah tidak mengandung kemusyrikan, namun harus sesuai dengan kitabullah.


Bahkan ada sebuah kisah, saat Aisyah dalam keadaan sakit, pernah diruqyah oleh orang Yahudi. Sang ayah, Abu Bakar menanyakan, dengan apa kamu meruqyahnya? Yahudi tersebut menjawab dengan taurat, Abu Bakar pun memperbolehkannya.


“Dalam sejarah para imam besar, ruqyah juga dipakai pengobatan. Imam Abu Hanifah misalnya bahkan mengizinkan ruqyah meski tidak berbahasa arab. Karena semua sudah bertauhid kepada Allah,” katanya.


Kiai Said juga mengingatkan kepada para praktisi JRA, agar selalu memulai dan mengakhiri ruqyah dengan membaca shalawat nabi. 


“Jangan lupa, awali dan akhiri dengan shalawat. Shalawat sudah jelas dikabulkan.” paparnya.


Jadi kalau awal dan akhirnya membaca shalawat, bacaan doa yang di tengahnya, Insyallah akan ikut dikabulkan. Karena shalawatnya sudah jelas dikabulkan.


“Kepada para peserta Munas, selamat bermusyawarah. Semoga menghasilkan pemikiran dan keputusan yang bermanfaat,” ujarnya menutup seminar. (Hery Miftah)
 


Warta Terbaru