• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 12 April 2024

Warta

Keunggulan Santri: Mantu Idaman hingga Mampu Kiprah di Ragam Sektor

Keunggulan Santri: Mantu Idaman hingga Mampu Kiprah di Ragam Sektor
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Cholil Nafis pada Haflah Tasyakkur Pesantren Nurul Huda Salaf Kabupaten Pringsewu (Foto: Tangkapan layar Youtube NHS Channel).
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Cholil Nafis pada Haflah Tasyakkur Pesantren Nurul Huda Salaf Kabupaten Pringsewu (Foto: Tangkapan layar Youtube NHS Channel).

Pringsewu, NU Online Lampung

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Cholil Nafis mengungkapkan sejumlah kelebihan para santri dalam kehidupan kemasyarakatan. Para santri menurutnya merupakan sosok yang memiliki pendidikan dunia-akhirat yang digembleng dari sebuah institusi pendidikan berbasis keagamaan yang paling tua khususnya di Indonesia.

 

“Hanya pendidikan pesantren model pesantren yang bisa terus menerus bahkan sampai ila yaumil qiyamah,” ungkapnya tentang keistimewaan pesantren dan santri pada Haflah Tasyakkur Pesantren Nurul Huda Salaf Kabupaten Pringsewu, Lampung, Ahad (18/2/2024).

 

Ia menambahkan bahwa kualitas santri sudah tidak bisa lagi diragukan karena sejarah membuktikan, lembaga pendidikan berbasis keagamaanlah yang mampu bertahan lama. Ia menyebut contoh Pesantren Sidogiri yang sudah berdiri lebih dari 200 tahun dan lembaga pendidikan berbasis keagamaan lainnya di Indonesia dan dunia.

 

“Pendidikan di Indonesia yang terbukti mencetak orang-orang hebat, mencetak manusia-manusia pejuang, mencetak manusia-manusia yang mampu menciptakan kebaikan yang terbukti adalah pendidikan pondok pesantren,” katanya.

 

“Makanya, ibu-ibu kalau cari mantu yang santri. Nggak usah nanya kerjaannya apa?. Tanya nyantri di mana? Nyantri di Nurul Huda, langsung diterima saja, bu,” imbuhnya.

 

Selain menjadi menantu idaman, para santri juga memahami ilmu agama dengan baik yang akan menjadi modal dalam menjalani ibadah. “Minimal dia tahu (hukum) najis. Minimal dia tahu shalat, minimal dia tahu (cara) beragama yang baik. Minimal dia tahu menghormati orang tua. Minimal dia sudah bisa menjadi orang yang berjuang untuk bangsa dan negara,” jelasnya.

 

Ia pun mengungkapkan pola pikir sebagian masyarakat yang menurutnya tidak tepat dengan mencari menantu dengan tolok ukur ekonomi. Terlebih di daerah perkotaan yang lebih mementingkan kemapanan ekonomi dibanding kemapanan pengetahun agama.

 

“Kalau orang-orang yang di kota tanya, anda mau melamar anak saya, pekerjaan anda di mana, gajinya berapa. Kalau gaji kecil nggak jadi diterima. Itu salah. Kalau mau nyari mantu, tanya nyantrinya di mana? Karena santri bukan nerima gaji tapi nanti akan memberi gaji,” ungkapnya.

 

“Jadi, santri itu bukan cari pekerjaan, bukan melamar pekerjaan, tapi santri menciptakan lapangan kerja. Inilah mengapa kita nyantri. Jadi nggak mikir gajinga berapa? Sebanyak-banyaknya gaji. Nggak ada orang kaya gara-gara gaji. Santri itu, miskin siap apalagi kaya,” tambahnya.

 

Saat ini juga bisa disaksikan sendiri para santri alumni pesantren yang mampu menujukkan kiprah suksesnya di berbagai sektor kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Mulai sukses di bidang agama, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

 

Ia pun menyebut sosok santri dan kiai Pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari yang mampu meletakkan dasar-dasar perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa. Begitu juga sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 Indonesia yang memiliki visi jauh ke depan untuk kemajuan dan kemaslahatan bangsa.

(Muhammad Faizin)


Warta Terbaru