• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 20 Juni 2024

Warta

Ketua PWNU Lampung: KH Arief Mahya, Mendarmabaktikan Dirinya untuk Kemaslahatan Umat

Ketua PWNU Lampung: KH Arief Mahya, Mendarmabaktikan Dirinya untuk Kemaslahatan Umat
Ketua PWNU Lampung, H Puji Raharjo saat menyampaikan sambutan pemakaman KH Arief Mahya, Kamis (16/5/2024) (Foto: Rizki/Kemenag)
Ketua PWNU Lampung, H Puji Raharjo saat menyampaikan sambutan pemakaman KH Arief Mahya, Kamis (16/5/2024) (Foto: Rizki/Kemenag)

Bandar Lampung, NU Online Lampung 

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung, H Puji Raharjo mengatakan, KH Arief Mahya adalah sosok yang patut dicontoh dari lembaran-lembaran sejarah yang telah dilaluinya.

 

Beliau adalah sosok aktivis yang penuh keikhlasan mendarmabaktikan seluruh jiwa dan raganya untuk kemaslahatan umat. Sehingga KH Arief Mahya dianugerahkan pahlawan daerah oleh Provinsi Lampung.

 

Hal tersebut disampaikan pada prosesi pemakaman Mustasyar PWNU Lampung KH Arief Mahya di Jalan Palapa 5C, Kecamatan Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Kamis siang (16/5/2024).

 

“Beliau adalah aktivis NU, yang berkhidmah di NU sejak awal mula PWNU Lampung berdiri pada tahun 1964, yaitu dengan menjadi Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU. Kemudian beliau dipercaya menjadi Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung tahun 1989-1994,” ujarnya.

 

Selanjutnya delapan bulan, Kiai Arief Mahya menjadi Rais Syuriyah karena Rais Syuriah saat itu, KH Agus Muzani Ashaidi meninggal dunia. Beliau juga pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan.

 

“Sepanjang hidup beliau, selalu masuk di jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama di Lampung. Hingga kini KH Arief Mahya masih termasuk dalam jajaran Mustasyar PWNU Lampung,” ungkap H Puji.

 

KH M Arif Mahya lahir di Gedung Asin, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, 6 Juni 1923. Ia mengawali pendidikan di Volkschool zaman penjajahan Belanda.

 

“Setelahnya, ia melanjutkan ke Pesantren Ad-Diniyah Al-Islamiyah, kemudian Standardschool, Wustho Zu’ama, dan Wustho Mu’alimien (Onderbow-Kweeschool) di tahun 1941,” katanya membacakan biografi KH Arief Mahya.

 

Setamat dari Wustho Mu’allimin, ia berhenti sekolah karena meletus perang Dunia II. Kondisi ini memaksanya untuk terjun ke kancah perang. Bahkan sejak kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945-1949, ia terus turut serta mempertahankan kemerdekaan.

 

“Sampai akhirnya KH Arief Mahya menjadi Kepala Sekretariat Kantor Agama kabupaten Lampung Tengah, hingga menjadi kepala inspeksi penerangan agama perwakilan Departemen Agama Provinsi Lampung” tuturnya.

 

Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga RI di Era Presiden SBY, Andi Mallarangeng dalam sambutannya mengatakan, bahwa KH Arief Mahya bukan sekadar tokoh daerah saja, namun juga tokoh nasional.

 

“Karena beliau, saat masa kemerdekaan RI, turut merasakan jerih payahnya pada masa penjajahan Belanda. Bahkan saat ini tidak banyak lagi tokoh yang bisa ditanyakan mengenai sejarah kemerdekaan seperti KH Arief Mahya,” ujarnya.

 

Ia melanjutkan, beliau juga adalah tokoh yang menjadi panutan dan teladan bagi masyarakat di Provinsi Lampung. Saat ini, kita hanya meneruskan apa yang telah dilakukan oleh beliau.

 

“Bahkan sebelum akhir hayatnya KH Arief Mahya sempat menuliskan surat wejangan-wejangan hidup untuk cucu-cucunya,” katanya.

(Dian Ramadhan)


Warta Terbaru