Syiar

Telat Qadha Puasa hingga Ramadhan Tiba, Ini Hukumnya

Rabu, 28 Februari 2024 | 07:31 WIB

Telat Qadha Puasa hingga Ramadhan Tiba, Ini Hukumnya

Telat Qadha Puasa hingga Ramadhan Tiba, Ini Hukumnya (Ilustrasi foto: NU Online).

Bulan Ramadhan akan segera tiba. Umat Islam akan melaksanakan rukun Islam keempat yaitu berpuasa di bulan Ramadhan. Namun mungkin masih ada di antara kita yang belum selesai membayar utang (qadha) puasa RamadhanĀ tahun sebelumnya.


Meski wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang memenuhi syarat, namun ada orang-orang yang boleh membatalkan puasanya atau tidak berpuasa, namun wajib mengqadha setelah bulan Ramadhan. Di antaranya adalah orang yang sedang sakit dan ibu yang sedang hamil atau menyusui. Lalu bagaimana hukumnya bila qadha puasa RamadhanĀ tahun lalu belum selesai, sementara RamadhanĀ akan segera tiba?


Dilansir dari NU Online, orang yang membatalkan puasanya demi orang lain seperti ibu menyusui atau ibu hamil, dan orang yang menunda qadha puasanya karena kelalaian hingga Ramadhan tahun berikutnya tiba, mendapat beban tambahan. Mereka wajib membayar fidyah di samping mengqadha puasa yang pernah ditinggalkannya. Ā 


Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh M Nawawi Banten berikut:


ŁˆŲ§Ł„Ų«Ų§Ł†ŁŠ ال؄فطار Ł…Ų¹ تأخير قضاؔ) ؓىؔ من رمضان (Ł…Ų¹ Ų„Ł…ŁƒŲ§Ł†Ł‡ حتى يأتي رمضان Ų¢Ų®Ų±) لخبر من أدرك رمضان فأفطر لمرض Ų«Ł… ŲµŲ­ ŁˆŁ„Ł… ŁŠŁ‚Ų¶Ł‡ حتى Ų£ŲÆŲ±ŁƒŁ‡ رمضان Ų¢Ų®Ų± ŲµŲ§Ł… Ų§Ł„Ų°ŁŠ Ų£ŲÆŲ±ŁƒŁ‡ Ų«Ł… ŁŠŁ‚Ų¶ŁŠ Ł…Ų§ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Ų«Ł… ŁŠŲ·Ų¹Ł… عن ŁƒŁ„ ŁŠŁˆŁ… Ł…Ų³ŁƒŁŠŁ†Ų§ Ų±ŁˆŲ§Ł‡ Ų§Ł„ŲÆŲ§Ų±Ł‚Ų·Ł†ŁŠ ŁˆŲ§Ł„ŲØŁŠŁ‡Ł‚ŁŠ فخرج ŲØŲ§Ł„Ų„Ł…ŁƒŲ§Ł† من Ų§Ų³ŲŖŁ…Ų± به السفر أو المرض حتى أتى رمضان Ų¢Ų®Ų± أو Ų£Ų®Ų± Ł„Ł†Ų³ŁŠŲ§Ł† أو جهل بحرمة Ų§Ł„ŲŖŲ£Ų®ŁŠŲ±. ŁˆŲ„Ł† ŁƒŲ§Ł† مخالطا للعلماؔ لخفاؔ Ų°Ł„Łƒ لا ŲØŲ§Ł„ŁŲÆŁŠŲ© فلا يعذر لجهله بها Ł†ŲøŁŠŲ± من علم حرمة التنحنح ŁˆŲ¬Ł‡Ł„ البطلان به. ŁˆŲ§Ų¹Ł„Ł… أن Ų§Ł„ŁŲÆŁŠŲ© تتكر بتكرر Ų§Ł„Ų³Ł†ŁŠŁ† ŁˆŲŖŲ³ŲŖŁ‚Ų± في Ų°Ł…Ų© من لزمته.


Artinya: Ā Kedua (yang wajib qadha dan fidyah) Ā adalah ketiadaan puasa dengan menunda qadha puasa Ramadhan (padahal memiliki kesempatan hingga Ramadhan berikutnya tiba. Hal itu berdasarkan hadits: ā€œSiapa saja mengalami Ramadhan, lalu tidak berpuasa karena sakit, kemudian sehat kembali dan belum mengqadhanya hingga Ramadhan selanjutnya tiba, maka ia harus menunaikan puasa Ramadhan yang sedang dijalaninya, setelah itu mengqadha utang puasanya dan memberikan makan kepada seorang miskin satu hari yang ditinggalkan sebagai kaffarahā€ (HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi).


Di luar kategori ā€œmemiliki kesempatanā€ adalah orang yang senantiasa bersafari (seperti pelaut), orang sakit hingga Ramadhan berikutnya tiba, orang yang menunda karena lupa, atau orang yang tidak tahu keharaman penundaan qadha. Tetapi kalau ia hidup membaur dengan ulama karena samarnya masalah itu tanpa fidyah, maka ketidaktahuannya atas keharaman penundaan qadha bukan termasuk uzur. Alasan seperti ini tak bisa diterima, sama halnya dengan orang yang mengetahui keharaman berdehem (saat shalat), tetapi tidak tahu batal shalat karenanya. Asal tahu, beban fidyah itu terus muncul seiring pergantian tahun dan tetap menjadi tanggungan orang yang yang berutang, sebelum dilunasi (Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Saā€˜ad bin Nabhan, tanpa tahun, halaman 114).


Dari penjelasan Syekh Nawawi Banten ini, kita dapat melihat apakah ketidaksempatan qadha puasa hingga Ramadhan berikutnya tiba disebabkan karena sakit, lupa, atau memang kelalaian menunda-tunda. Kalau disebabkan karena kelalaian, yang bersangkutan wajib mengqadha dan juga membayar fidyah sebesar satu mud untuk satu hari utang puasanya.


Sebagaimana diketahui, satu mud setara dengan 543 gram menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sementara menurut Hanafiyah, satu mud seukuran dengan 815,39 gram bahan makanan pokok seperti beras dan gandum.
Ā