• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Syiar

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri
Ilustrasi selamat hari raya
Ilustrasi selamat hari raya

Umat muslim di Indonesia pada hari raya Idul Fitri sering dilakukan dengan mengucapkan selamat hari raya dan memohon maaf kepada sesamanya. Hal ini dilakukan sebagai wujud ekspresi kegembiraan atas hadirnya hari kemenangan yaitu biasa dikenal dengan lebaran atau idul fitri setelah berpuasa selama sebulan penuh. 


Di Indonesia pada hari raya idul fitri memiliki berbagai tradisi yang cukup banyak seperti pengucapan makan ketupat, lontong, halal bihalal, mudik, silaturahim, dan berbagi uang tunjangan hari raya (THR). 


Hari Raya Idul Fitri menjadi momen paling bergembira bagi umat Islam setelah satu bulan penuh melaksanakan puasa Ramadhan. Ekspresi kegembiraan ini disampaikan dalam banyak hal, seperti saling berbagi, bersilaturahim, mengenakan baju baru, dan lain sebagainya. 


Salah satu ekspresi kegembiraan yang umum ditemui adalah ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” atau semisalnya. Menjelang sore hari Idul Fitri hingga beberapa hari di awal syawal biasanya ucapan tersebut mulai tersebar di berbagai macam platform media sosial, ada juga yang secara khusus membuat karu ucapan dengan desain cukup menarik.  


Lalu, apa hukum menyampaikan ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” dan bagaimana dalilnya? 


Perlu diketahui, dalam bahasa Arab yang kemudian digunakan dalam kitab-kitab fiqih, ucapan selamat ini dibahasakan dengan “tahni’ah”. Mengutip artikel NU Ini Dalil Mengucapkan ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri’ dijelaskan bahwa para ulama sendiri berbeda pendapat terkait status hukumnya. Hanya, Syekh Jalaluddin as-Suyuthi berpendapat hukumnya boleh (mubah). 


Umat Muslim bisa berpegang pada pendapat Syekh Jalaluddin as-Suyuthi ini sebagaimana yang pernah ia kemukakan dalam Al-Hawi Lil Fatawi (1/83) berikut: 


قال القمولي في الجواهر: لم أر لأصحابنا كلاماً في التهنئة بالعيدين، والأعوام، والأشهر كما يفعله الناس، ورأيت فيما نقل من فوائد الشيخ زكي الدين عبد العظيم المنذري أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك، قال: والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة انتهى، ونقله الشرف الغزي في شرح المنهاج ولم يزد عليه 


Artinya : “Al-Qamuli dalam Al-Jawahir mengatakan, ‘Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madzhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan Al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau selamat tahun baru. Apakah hukumnya bid’ah atau tidak? Ia menjawab, banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, ucapan selamat seperti itu mubah, bukan sunnah dan juga bukan bid’ah.’ Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf Al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj.”


Pernyataan as-Suyuthi di atas menunjukkan bahwa status hukum pengucapan “selamat Hari Raya Idul Fitri” atau “tahni’ah” terdapat perbedaan pendapat antara ulama, sebagian mengatakan boleh dan sebagian lain mengatakan bid’ah. Hanya, as-Suyuthi memilih pendapat yang membolehkan.

(Dian Ramadhan)


Syiar Terbaru