• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 25 Mei 2024

Khutbah

Khutbah Jumat: Merawat Kesalehan Sosial dengan Puasa Ramadhan

Khutbah Jumat: Merawat Kesalehan Sosial dengan Puasa Ramadhan
Ramadhan bulan penuh berkah saatnya meningkatkan ketakwaan (Ilustrasi: NU Online)
Ramadhan bulan penuh berkah saatnya meningkatkan ketakwaan (Ilustrasi: NU Online)

Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang didambakan oleh umat Islam, karena di dalamnya memiliki banyak keutamaan dan keberkahan, seperti dilipatgandakan amal perbuatan, dibuka pintu surga, ditutup pintu neraka dan para Setan dibelenggu. 

 

Maka dari itu banyak dari umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, seperti memperbanyak ibadah sunnah, membaca Al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi Muhammad dan sebagainya. Akan tetapi jangan lupa juga untuk beribadah secara sosial kemanusiaan, karena puasa Ramadhan merupakan ibadah yang juga mengangkat harkat martabat manusia, seperti merasakan kelaparang bagi yang kekurangan, memperbanyak sedekah, tidak menghina dan sebagainya. 

 

Khutbah I

 

 اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَحْشُرُنَا فِي الْمَحْشَرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْجَبَّارُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ . اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 


Hadirin rahimakumullah

Pada bulan suci Ramadhan yang mulia ini, di atas mimbar, khatib mengajak kepada jamaah Jumat sekalian, dan khususnya kepada diri khatib pribadi untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. 

 

Apa lagi di bulan suci Ramadan yang penuh berkah ini, kita diwajibkan berpuasa yang bertujuan untuk mencapai derajat ketakwaan. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:

 

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ 

 

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).

 

Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa puasa merupakan syariat bagi umat Islam dan kita juga bisa melihat rekaman umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad saw yang juga diberi syariat berpuasa agar menjadi hamba yang bertakwa. 

 

Hadirin rahimakumullah

]Alhamdulillah, segala puji milik Allah swt, Tuhan yang memberikan kita kekuatan badan, iman dan Islam, sehingga kita masih bisa melangkahkan kaki kita ke masjid yang mulia ini untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah, serta, kita juga masih diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan dari awal hingga hari ini. 

 

Shalawat beserta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, Nabi yang penuh kasih sayang kepada umatnya, menuntun kita kepada jalan cahaya, jalan iman, dan jalan menuju pencipta, yakni Allah swt. Sehingga sampai saat ini juga, kita masih bisa menyembah Allah dan mendekatkan diri kita kepada-Nya. Karena salah satu kenikmatan hidup di dunia ini adalah sujud dan menyembah kepada Allah swt. 

 

Hadirin rahimakumullah
Puasa merupakan ibadah mahdlah, selain lurus vertikal kepada Allah swt, juga horizontal kepada umat manusia yang lainnya. Selain melatih diri untuk saleh secara ritual, juga harus saleh secara sosial. Dengan puasa, kita diperintahkan untuk memperbaiki hubungan kita kepada Allah swt, seperti lebih banyak ibadah sunnah, membaca Al-Qur’an, shalat duha, tahajut, iktikaf di masjid, dan sebagainya. 

 

Selain itu juga, kita diperintah untuk memperbaiki hubungan dengan manusia, seperti memperbanyak sedekah, infak, membantu orang yang tidak mampu, memberikan bukaan puasa bagi musafir, membangunkan orang sahur, menyalurkan zakat fitrah, dan sebagainya.  

 

Tidak hanya sebatas itu, kita juga dilarang untuk berbuat maksiat, baik kepada Allah swt, seperti tidak berpuasa, tidak shalat, juga bermaksiat kepada manusia lain, seperti mencuri, menganiaya, membully, dan sebagainya, karena perbuatan yang dilakukan di bulan suci Ramadhan akan dilipat gandakan, baik pahala maupun dosa. Dan semua itu dilakukan tidak lain karena untuk menjadi hamba yang semakin bertakwa.

 

Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marah Labid mengatakan bahwa ujung dari puasa adalah membentuk diri menjadi orang yang takwa. Keutamaan itu akan tercapai dengan berpuasa dan meninggalkan hawa nafsu. Puasa melatih diri untuk menahan diri dari berbagai godaan, termasuk makan dan minum, serta hawa nafsu lainnya. Hal ini tidak mudah, tetapi jika berhasil, maka akan lebih mudah untuk bertakwa kepada Allah dalam hal lain. 

 

Dalam Islam, takwa merupakan perbuatan yang pokok, karena mencangkup segala hal, baik perbuatan yang sifatnya ketuhanan maupun sosial kemanusiaan, maka dari itu menjadi manusia yang bertakwa merupakan keharusan. Bahkan Allah swt telah berjanji, akan meninggikan derajat orang mukmin yang bertakwa. Hal ini tercantum dalam firman Allah swt, Surat Al-Hujurat ayat 13:

 

  اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ 

 

Artinya: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (Al-Hujurat: 13).

 

Hadirin rahimakumullah 

Ayat di atas menunjukkan bahwa taat kepada Allah swt merupakan derajat yang mulia dan tinggi diantara derajat yang lainnya. Meski ada seorang hamba yang menjadi tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan segala pangkat serta nasab, jika tidak bertakwa kepada Allah maka akan celaka dan tersesat. 

 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim menjelaskan, bahwa Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya Allah tidak menilai manusia berdasarkan rupa dan harta mereka, melainkan berdasarkan hati dan amal mereka. Manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

 

 إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلاَ إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ، وَأَعْمَالِكُمْ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

 

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal kalian. Dan sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa (HR Muslim).

 

Hadirin rahimakumullah
Selama berpuasa kita memang dilarang untuk makan, minum dan mengumbar syahwat yang menyebabkan batalnya puasa. Akan tetapi kita juga diperintah untuk menjaga hati, akal dan panca indra dari perbuatan yang keji dan kotor. Seperti berkata kotor, kasar, mencela, menghina, menipu, mengghibah, dan berdusta. 

 

Selain itu, kita juga diperintah untuk berkata yang baik kepada orang lain, memperbanyak zikir, bershalawat kepada nabi Muhammad saw, membaca Al-Qur’an, membaca kitab yang berisi ilmu agama dan pengetahuan, serta menahan dari berbuat kerusakan terhadap lingkungan sekitar dan orang lain. Rasulullah saw pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رِوَايَةً قَالَ إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ 

 

Artinya: Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, ‘Jika salah seorang dari kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata-kata kotor dan janganlah berbuat jahil. Jika ada orang yang memakinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah dia berkata, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa (HR. Muslim). 

 

Dari hadits di atas ditegaskan bahwa kita dilarang untuk sesuatu yang tidak berguna, yakni berkelahi, baik lewat lisan maupun fisik baku hantam, karena semua itu justru akan melelahkan bagi fisik kita yang berpuasa. Dan perbuatan tersebut hanya godaan semata, sedang bisa menyesal selama-lamanya.

 

Untuk di zaman sekarang dengan berbagai media sosial, Whatsapp, Instagram, Facebook, dan sebagainya, kita juga dianjurkan untuk tidak bertengkar lewat platform tersebut, yakni berkomentar yang buruk yang menimbulkan huru hara dan bencana. 

 

Hadirin rahimakumullah

Puasa Ramdhan, selain menjadi ajang memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri, juga harus menjadi ajang untuk berempati kepada sesama manusia. Seperti kita juga harus ikut merasakan kesedihan bagi orang yang kelaparan dan kehausan, maka dengan itu kita harus mendorong diri kita untuk bersedekah kepada orang-orang di sekitar kita. Karena dengan hal tersebut kita bisa meringankan kebutuhkan mereka. 

 

Rasulullah saw merupakan orang orang yang paling dermawan di antara manusia lainnya. Kedermawanan beliau semakin terlihat jelas pada bulan Ramadhan.

 كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ   

 

Artinya: Rasulullah saw adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan (HR Bukhari dan Muslim). 

 

Hadirin rahimakumullah 

Demikianlah khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan bermamanfaat bagi kita semua, baik yang mambaca maupun yang mendengarkannya. 

 

Dan semoga Allah swt tetap memberikan kepada kita kekuatan dan hidayah, sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang, damai dan sempurna sebulan penuh. Aamiin ya rabbal alamin. 

 

 بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ. إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

 

Khutbah II

 

 اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. قال تعالى: مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ. اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا فِي مَقَامِنَا هَذَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا فَيَسِّرْ أَمُورَنَا وَنَوِّرْ قُلُوبَنَا بِنُورِ هدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ الْأَرْضَ بِنُورِ شَمْسِكَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ 

 

Ustadz Yudi Prayoga, M.Ag, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung

 


Khutbah Terbaru