Syiar

Bolehkah Mengganti Shalawat Ibrahimiyyah pada Tasyahud Akhir?

Kamis, 24 Juli 2025 | 06:57 WIB

Bolehkah Mengganti Shalawat Ibrahimiyyah pada Tasyahud Akhir?

Hukum Mengganti Shalawat Ibrahimiyyah pada Tasyahud Akhir (Foto: NU Online)

Tasyahud akhir dengan bacaan tahiyat dan shalawat kepada Nabi merupakan rukun shalat, sehingga jika ditinggalkan maka shalatnya tidak sah, atau mengulang kembali.

 

Umumnya, ketika telah selesai membaca tahiyat, kita melanjutkan dengan membaca shalawat Ibrahimiyyah. Lalu bagaimana hukumnya, jika shalawat tersebut diganti dengan shalawat lainnya.

 

Berikut bacaan shalawat Ibrahimiyyah:

 

     اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.

 

Mengenai hal di atas, dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji 'Ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i dijelaskan bahwa bentuk shalawat Ibrahimiyya dalam tasyahud akhir hukumnya sunnah.

 

عرفت فيما مضى أن الصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم – ركن في جلسة التشهد الأخيرة، ويتأدى الركن بأي صيغة من الصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم -. . أما اختيار الصلوات الإبراهيمية – وقد مضى ذكر نصَّها- فسنَّة.

 

Artinya: Melalui penjelasan di depan, kamu tahu bahwa salawat atas Nabi saw adalah rukun di dalam tasyahud akhir. Rukun ini bisa dilakukan dengan membaca bentuk shalawat apa saja kepada Nabi saw. Hanya saja memilih salawat Ibrahimiyah (bentuk teksnya sudah disebutkan di awal) adalah sunah.

 

Karena shalawat Ibrahimiyah hukumnya sunnah, maka ketika kita mengganti dengan shalawat yang lainnya tentu diperbolehkan, seperti contohnya, Allahumma shalli ‘ala muhammad, shallallahu ‘ala muhammad, dan lainnya. Akan tetapi, menurut ulama, memang shalawat Ibrahimiyyah memiliki keutamaan secara sighat, sehingga dijadikan bacaan dalam shalat.

 

Dalam kitab Raudhah, Imam Nawawi mengatakan:

 

ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ) ﺃﻭ ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ) ﺃﻭ ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻟﻪ ) ، ﻭﻓﻲ ﻭﺟﻪ : ﻳﻜﻔﻲ ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ) ، ﻭﺃﻗﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﻝ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ) ﻭﺁﻟﻪ ) ﻭﺃﻛﻤﻠﻬﺎ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ، ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻝ ﻣﺤﻤﺪ ، ﻛﻤﺎ ﺻﻠﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻝ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ، ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻝ ﻣﺤﻤﺪ ، ﻛﻤﺎ ﺑﺎﺭﻛﺖ ﻋﻠﻰ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻝ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﺇﻧﻚ ﺣﻤﻴﺪ ﻣﺠﻴﺪ

 

Artinya: Paling sedikitnya lafal salawat kepada Nabi saw adalah dengan mengucapkan Allahumma sholli ‘ala muhammad, atau Shollallahu ‘ala muhammad, atau Shollahu ‘ala rasulihi. Disebutkan bahwa cukup dengan mengatakan, Shollahu ‘alaihi. Paling sedikitnya shalawat atas keluarga Nabi saw. adalah dengan mengatakan, wa alihi. Adapun shalawat yang paling sempurna adalah dengan mengucapkan, Allahumma sholli ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama shollaita ‘ala ibrahima wa ‘ala ali ibrahima wa barik ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama barakta ‘ala ibrahima wa ‘ala ali ibrahima innak hamidum majid.

 

Demikianlah penjelasan tentang mengganti shalawat Ibrahimiyyah dengan shalawat yang lainnya. Menurut redaksi di atas, bentuk shalawat Ibrahimiyyah dalam tasyahud akhir hukumnya sunnah, sehingga jika lafalnya diganti dengan bentuk shalawat yang lainnya hukumnya diperbolehkan.