• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 20 Juni 2024

Warta

Penguatan Dunia Digital, Kementerian Agama Siapkan Beasiswa Non Degree bagi Santri

Penguatan Dunia Digital, Kementerian Agama Siapkan Beasiswa Non Degree bagi Santri
Stafsus Menag, Nuruzzaman saat menyampaikan sambutan Rakornas PD Pontren Kemenag (Foto: Istimewa)
Stafsus Menag, Nuruzzaman saat menyampaikan sambutan Rakornas PD Pontren Kemenag (Foto: Istimewa)

Bandung, NU Online Lampung

Kementerian Agama tengah menyiapkan program penguatan literasi dan kompetensi digital bagi para santri pesantren. Staf Khusus Menteri Agama (Stafsus Menag), Nuruzzaman mengatakan akan ada program beasiswa non-degree selama empat sampai enam bulan untuk melatih santri dalam menguasai dunia digital.


Menurut Stafsus Menag, ini sebagai upaya konkret untuk mempersiapkan santri dalam menghadapi era digital. 


“Dengan demikian, diharapkan santri bisa menjadi pelopor dalam penguasaan teknologi informasi dan bisa melebihi kompetensinya dari siswa-siswa sekolah formal,” ujar Nuruzzaman saat membuka Rapat Kordinasi Nasional Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) di Bandung, Senin (13/5/2024).


Rapat dihadiri para Kabid PD Pontren Kanwil Kementerian Agama Provinsi. Hadir juga, Tenaga Ahli Menteri Agama Hasanuddin Ali. Rapat membahas beberapa isu krusial dan harapan baru pendidikan pesantren untuk meningkatkan kualitas dan pengakuan atas pesantren sebagai lembaga pendidikan unggulan di Indonesia.


Nuruzzaman mengungkapkan, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sangat concern dengan perkembangan dunia pesantren. Salah satu perhatiannya terkait perlunya pengakuan dan dukungan yang lebih besar terhadap peran kiai dan ulama dalam pendidikan dan pembangunan negara.


“Gus Baha, sebagai contoh, yang tidak bisa mengajar di perguruan tinggi karena tidak memiliki ijazah formal, menunjukkan perlunya revolusi dalam sistem pendidikan yang memungkinkan akses bagi kiai dan ulama untuk berkontribusi secara lebih luas dalam pembangunan pendidikan,” kata Bib Zaman, sapaan karibnya.


Nuruzzaman melihat, salah satu tantangan yang dihadapi pesantren adalah masalah pengakuan atas ijazah alumninya. Alumni pesantren yang meraih prestasi di berbagai belahan dunia masih menghadapi kesulitan dalam hal pengakuan ijazah mereka.


“Sehingga, kebutuhan akan afirmasi atas kualitas pendidikan pesantren, harus menjadi perhatian,” ungkapnya.


Ia juga meminta Direktorat PD Pontren lebih memperhatikan aspek izin operasional dan pengawasan terhadap lembaga-lembaga pendidikan pesantren di berbagai daerah. Ini menurutnya menjadi langkah penting dalam meminimalisir potensi radikalisme atau terorisme.


Plt Direktur PD Pontren, Waryono Abdul Ghofur melaporkan Rakornas dihadiri Kabid Pontren atau Kabid Pakis dari 30 provinsi. Tentunya ini menjadi bukti komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan pesantren di seluruh Indonesia.


“Rakornas mengusung tema, ‘Ha Ana Dza’, mencerminkan semangat Direktorat PD Pontren sebagai motor penggerak dalam membangun pesantren sebagai pusat pendidikan unggulan,” ujarnya. 


Tema ini merupakan cerminan dari upaya keras untuk mengembangkan program-program prioritas dan unggulan, terutama dalam menciptakan kemandirian pesantren.


Ia mengatakan saat ini pesantren tidak hanya diurus Kementerian Agama, tetapi juga mendapat dukungan melalui berbagai jaringan. Kini, pesantren menjadi pusat perhatian semua pihak yang menggarisbawahi urgensi kontribusinya dalam pembangunan bangsa.


“Saya harap di bawah kepemimpinan presiden baru, pesantren akan semakin memberikan kontribusi luar biasa bagi pendidikan Indonesia,” tuturnya.


Ia melanjutkan, mudah-mudahan, rapat ini akan memberikan manfaat yang besar bagi pembaruan dan kemajuan pendidikan di lingkungan pesantren, sehingga pesantren dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang positif bagi bangsa dan negara.


Warta Terbaru