• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Warta

PBNU Gelar Pertemuan Perdana R20 Bersama Kedubes dan para Pimpinan Ormas

PBNU Gelar Pertemuan Perdana R20 Bersama Kedubes dan para Pimpinan Ormas
Pertemuan pertama (Introductory meeting) Forum Religion (R20) bersama sejumlah perwakilan Kedutaan Besar negara anggota G20 dan pimpinan lembaga serta organisasi masyarakat
Pertemuan pertama (Introductory meeting) Forum Religion (R20) bersama sejumlah perwakilan Kedutaan Besar negara anggota G20 dan pimpinan lembaga serta organisasi masyarakat

Jakarta, NU Online Lampung
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar pertemuan pertama (introductory meeting) Forum Religion (R20) bersama sejumlah perwakilan Kedutaan Besar negara anggota G20 dan pimpinan lembaga sertaorganisasi masyarakat di The Ritz Carlton Jakarta, Senin (5/9/2022).


Ketua Umum (Ketum) PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, pertemuan perdana itu sangat strategis karena membahas prioritas dan rencana kerja R20 dalam mewujudkan visi agama sebagai sumber solusi global, menebar nilai moral dan spiritual.


“Ini sangat penting, seperti mengembalikan fungsi agama dalam pentas diplomasi internasional,” kata Kiai yang akrab disapa Gus Yahya itu. 


Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, itu juga menjelaskan bahwa forum agama internasional yang digagas NU akan mengajak masyarakat untuk melakukan rekognisi persoalan sosial yang kerap dipicu oleh agama. 


“Agama cenderung sebagai basis kompetisi di tengah masyarakat. Kita ingin berbicara secara jujur bagaimana agama bisa berhenti menjadi bagian dari masalah,” ungkapnya.


“Diakui atau tidak, agama ini merupakan bagian dari masalah. Beberapa konflik dilatarbelakangi masalah agama,” tuturnya.


Untuk itu, Gus Yahya menilai forum pertemuan pemimpin-pemimpin agama itu diharapkan bisa menjadi solusi dalam menjawab problem sosial keagamaan dalam skala global. 


“Bagaimana kemudian mulai menjadi solusi. Kita harus tetap sopan, tapi harus terus terang kalau kita ada masalah (soal agama),” ungkapnya. 


Senada dengan Gus Yahya, Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Muhsin Syihab, menyebut bahwa R20 dinilai sebagai forum yang imparsial, inklusif, dan solutif. 


“Kesiapan kita untuk mengakui ada problem, 50 persen masalah selesai. Inilah yang kita ingin usung melalui recover together, recover stronger,” kata Muhsin. 


Melalui rencana kerja dan program prioritas yang bakal dibawakan forum itu, Muhsin menyebut R20 harus menjadi forum rujukan terkait praktik bertoleransi dan kerja sama antarumat beragama. 


“Menjadi forum yang benar-benar mengangkat nama baik Indonesia, menjadi forum role model toleransi dan kerja sama yang dicontohkan Indonesia,” ujarnya. 


Selain itu, Muhsin juga berharap R20 bisa melahirkan sense of contribution dari masyarakat untuk bersama mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis.


“R20 ini agar dapat menghasilkan dokumen yang menjadi pijakan bagi masyarakat dunia tidak hanya toleransi tapi juga kerja sama kehidupan beragama dan juga relasi global,” tegasnya.


Warta Terbaru