• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 2 Desember 2022

Keislaman

Keutamaan Hari Asyura

Keutamaan Hari Asyura
Muharram bulan mulia
Muharram bulan mulia

Di dalam bulan Muharram, ada satu hari yang disebut Hari Asyura, yaitu hari kesepuluh Muharam. Ada banyak keutamaan di hari tersebut yang perlu kita ketahui. 


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ketika Nabi Muhammad saw tiba di Madinah, beliau menemukan orang yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya kepada mereka tentang puasa itu. 


Mereka menjawab: Hari ini adalah hari di mana Nabi Musa dan Bani Israil menang terhadap kaum Firaun. Jadi kami berpuasa sebagai bentuk pengagungan kepada Nabi Musa. Lalu beliau, Nabi saw, memerintahkan berpuasa pada hari Asyura.


Banyak sekali atsar yang menjelaskan tentang keutamaan Asyura. Diantaranya Nabi Adam diterima taubatnya pada hari Asyura, penciptaan Nabi Adam dan dimasukkan ke dalam surga pada hari Asyura. Penciptaan Arasy, langit, matahari, bulan dan bintang pada hari Asyura. 


Nabi Ibrahim as dilahirkan pada bulan Asyura. Dia selamat dari api yang membakarnya, terjadi pada hari Asyura. Selamatnya Nabi Musa dan orang- orangnya, tenggelamnya Firaun dan kelompoknya, juga terjadi pada hari Asyura.


Begitu juga kelahiran Nabi Isa, diangkatnya ke langit, Nabi Idris diangkat ke tempat yang tinggi, perahu Nabi Nuh berlabuh di Gunung al-judi, Nabi Sulaiman diberikan kerajaan yang besar, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan, dan penglihatan Nabi Ya'qub dikembalikan. 


Kemudian Nabi Yusuf dikeluarkan dari sumur, Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit, dan hujan pertama yang turun dari langit ke bumi, semua itu terjadi pada hari Asyura.


Puasa pada hari Asyura diketahui keutamaannya, sehingga ada yang berpendapat bahwa ia diwajibkan sebelum puasa Ramadhan. Kemudian kewajiban itu diganti dengan puasa Ramadhan, dan Nabi Muhammad berpuasa sebelum hijrah. Ketika Nabi saw masuk ke Madinah, beliau menguatkan anjurannya hingga beliau bersabda di akhir umurnya, "Seandainya aku hidup hingga tahun depan, aku akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10." 


Tetapi Nabi meninggal dunia pada tahun itu dan belum sempat berpuasa selain pada tanggal sepuluh. Meskipun demikian, Nabi memberi motivasi untuk berpuasa pada hari itu, hari kesembilan dan kesebelas, melalui sabda beliau, "Berpuasalah satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya, berbedalah dengan sunah Yahudi." (Maksudnya buatlah puasa sendiri, pen).


Diriwayatkan dari Nafi' ra, dia berkata Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah saw ketika disebut hari Asyura di sisi beliau, "Itu adalah hari yang biasa dijadikan hari puasa oleh orang-orang jahiliah.  Maka siapa yang ingin puasa silahkan, tapi yang tidak mau puasa pada hari itu juga silahkan" (HR Bukhari). 


Sementara Al Baihaqi meriwayatkan dalam Syu'ab al Iman : Barangsiapa yang melapangkan kerabat dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah swt melapangkan semua tahunnya.  Dalam riwayat Munkar athTabrani disebutkan : Sedekah satu dirham pada hari Asyura, sama dengan 700 dirham. 


Apa yang menimpa Husain pada hari Asyura tidak lain adalah meninggal duania sebagai mati syahid, yang menunjukkan sangat tinggi derajatnya di sisi Allah swt. dan masuk ke dalam derajat keluarga Nabi yang suci.


Barang siapa yang menceritakan peristiwa tersebut pada hari itu, seharusnya dia tidak mempersibuk diri kecuali dengan mengembalikan semuanya kepada Allah swt, sebagai bentuk mematuhi perintah dan menjaga ketetapan yang diatur oleh Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Surat Al Baqarah ayat 157: “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk."


Ustadzah Yulia Ulfah, Spd, Alumni Ashidiqiyah Islamic College Jakarta Barat

 

 


Keislaman Terbaru