• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Warta

KH Ahmad Asrorie, Dari Menes Menyebarkan Aswaja

KH Ahmad Asrorie, Dari Menes Menyebarkan Aswaja
Meskipun hanya dua tahun bermukim di Desa Tanjung Raja, Lampung Utara, nama KH Ahmad Asrorie, bagi penduduk di sana, tak dapat dilupakan. Beliau adalah salah seorang ulama, guru, dan panutan bagi masyarakat setempat. Namanya amat dikenang oleh para tua-tua desa, dan terus diceritakan pada anak cucu mereka. Asrorie berdakwah di Tanjung Raja pada sekitar tahun 1936 hingga 1938. Sebuah waktu yang singkat, sebenarnya. Sebelumnya Asrori sempat menetap beberapa bulan di Menggala, dan mendapat jodoh di sana, seorang daiyah, anak seorang penghulu. Asrorie lahir di Desa Menes, Kecamatan Menes, Banten. Dia adalah murid KH Mas Abdurrahman bin Jamal, pendiri Mathaul Anwar, sebuah lembaga pendidikan Islam yang berpusat di Menes. Asrori adalah seorang yang cerdas dan sungguh-sungguh dalam belajar. Hingga kemudian kiai Abdurrahman memberi kepercayaan pada Asrorie untuk bertugas di Lampung dalam mengajar agama. Ketika berangkat ke Menggala, sekitar tahun 1934, usianya baru 20 tahun. Di Menggala, nama Ahmad Asrorie cepat dikenal. Dia pandai bergaul hingga dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat, selain ceramahnya yang berani dan memikat. Tokoh masyarakat setempat, Minak Raja Tihang, mengangkatnya menjadi anak. Dia pun masuk lingkaran keluarga Minak Raja Tihang. KH Syaiful Islam, Wakil Rais Syuriah PWNU Lampung, mengatakan, banyak mendengar kisah KH Asrori, dari ayahnya, KH Agus Muzani. Kiai Syaiful memanggil Asrori dengan sebutan “abah”. Dia menceritakan, Kiai Asrorie datang ke Lampung adalah untuk menyebarkan ajaran Islam sesuai arahan dari gurunya di Matthaul Anwar, Banten. Target saat itu memang hanyalah penyebaran ajaran Islam, khususnya paham Aswaja, di Menggala, yang saat itu sedang marak upaya Kristenisasi oleh pemerintah kolonial Belanda. Belum bertujuan untuk membangun sekolah Matthaul Anwar, seperti yang ada di Banten. KH Agus Muzani sendiri adalah Rois Syuriah PWNU Lampung zaman ketua tanfidziah H. Volta Djeli Panglima (1984-1992) dan KH Khusnan Mustofa Gufron (1992-1997). Ketika Asrorie hijrah ke Tanjung Raja, pada sekitar tahun 1936, beliau mengajar di madrasah yang didirikan oleh seorang kiai setempat. Dia kemudian menjadi pengajar tetap, karena sang kiai memilih untuk berdakwa keliling dari kampung ke kampung, sembari melatih anak-anak muda berperang melawan penjajah. Kiai Ahmad Asrorie adalah anak tunggal pasangan H Isra dan Siti Saudah Mariyah. Pernikahan dengan gadis Menggala, Siti Sarah, melahirkan dua orang anak, yaitu Ali Subro Maliki dan Nong Latifah. Ketika sudah kembali ke Menes, Asrori dan Sarah masih terus aktif di NU. Sarah melanjutkan dakwahnya terutama di kalangan ibu-ibu. Saat muktamar NU ke-13 di Menes tahun 1938, misalnya, Siti Sarah tampil berorasi di depan umum, bergantian dengan tokoh ibu-ibu NU lainnya, yang kelak dari orasi kaum itu merupakan cikal bakal berdirinya Muslimat NU. Ketika nulampung.or.id ke Tanjung Raja, warga setempat mengaku sangat terkesan dengan kehadiran Kiai Ahmad Asrorie. Padahal, kisah kedatangan beliau sudah berlalu begitu lama. Rupanya keteladanan sang kiai muda begitu membekas dan diceritakan secara turun temurun. Beliau, memiliki sejumlah karya tulis (buku) yang banyak dibagikan saat berdakwah, ataupun menjadi bahan pegangan saat mengajar di pesantren. Salah satu bukunya adalah yang berjudul “Ahlussunnah wal Jamaah”. Buku yang ditulis dengan hurup Arab itu masih dipegang oleh beberapa orang tua di Tanjung Raja, sebagai bukti pernah hadirnya ulama tersebut dalam menyebarkan agama Islam di desa itu. (Ila Fadilasari)


Editor:

Warta Terbaru